Between Pleasure and Pain Part 1; Smacking Bum

spanking_photosource:  www.sodahead.com

Angkat tangan yang tidak tahu fifty shades of grey! Serius nggak tau? Yakin mas/mbak tinggal di bumi? #geplak

Well, fifty shades of grey adalah sebuah film yang di angkat dari novel berjudul sama dari penulis EL James. Erotic-hard-romance yang menceritakan hubungan di luar kebiasaan milik Annastasia Steele dan Christian Grey.

Kenapa aku memberi pengatar dengan novel ini? Simpelnya karena yang akan aku share di sini adalah tahap awal dalam hubungan Anna dan Christian. Spanking or smacking butt. *watch your children*

Jujur, aku suka woman on top (WOT). Aku suka aku yang memegang kendali. Itu seakan ada sebuah peran yang berharga yang di serahkan padaku ketika seseorang mempercayakan aku di atas. Ya, dengan WOT kita bisa mengontrol irama yang pas dan juga apapun yang bisa di lakukan untuk memberikan rasa terbaik bagi kita.

Malam itu NB mempercayakan keistimewaan itu padaku. Aku mengambil kontrol sepenuhnya. Itu sangat indah dan aku benar-benar menunda untuk ‘sampai’ se-lama mungkin. Berusaha menyecap lebih lagi yang bisa ku cecap dari babak itu. Sampai tiba-tiba sebuah suara keras hasil pertemuan antara telapak tangannya dan kulit pantat ku bertemu.

Rasa baru muncul ke permukaan. Aku tidak bisa menahannya lagi.

God. Awalnya aku berpikir Annastasia kesakitan waktu di film, tapi aku tidak berpikir begitu sekarang.

Yang dia rasakan itu mungkin ada sakit, tapi sakit yang indah.

Hanya ada sekat tipis antara kenikmatan dan rasa sakit.

Membaca buku Jakarta Undercover, anda akan takjub melihat bagaimana aktivitas seksual justru semakin menyenangkan, ketika itu dilakukan di tempat-tempat yang tidak biasa, mulai dari dalam mobil, kapal layar, ataupun dengan gaya-gaya yang menyimpang. Sebagian orang bilang itu hanyalah variasi, supaya seks lebih terasa nikmat, dan hubungan percintaan bisa lebih berkualitas. Apakah begitu? Bukankah berhubungan seks dengan menyerempet maut (di dalam mobil berkecepatan tinggi), atau dengan cambuk yang secara rutin menyentuh kulit dengan keras, adalah suatu tanda sederhana, bahwa rasa nikmat itu amat dekat dengan rasa sakit?

Begitulah kata Reza A.A Wattimena dalam tulisannya; Fislsafat kenikmatan menurut Marquis de Sade.

Bagaimana aku bisa menemukan tulisan Bung Reza?

Well, ini mungkin agak panjang, he he. . . Ciyus masih punya banyak waktu?

OK. . . .

Setelah aku dan dia sama-sama ‘sampai’, kami berbaring bersama setelah membersihkan diri.

“Apa yang kamu lakukan tadi? Aku benar-benar terkejut.” Aku berkata padanya.

“Tapi terkejut dan berakhir baik.” Goda nya. “Berbaliklah.” Bisiknya. Lalu aku berbalik dan God, , , apakah kalian bisa membayangkan seberapa merahnya di sana? Bagaimana bisa aku tidak menyadari ada bagian tubuhku yang di sakiti sampai seperti itu? Maksudnya benar-benar tidak merasakan apa-apa.

“Terimakasih Mr. Grey.” Ledek ku dan bergelung kembali ke pelukan dia. Oh God, i loves cuddling after sex.

“Kamu menonton fifty shades of grey.”

“Tidak hanya menonton, tapi juga membaca ketiga novel nya.” Jelas ku bangga. *gila baca novel kok bangga*

“Wow. Dan kamu sepertinya sangat menyukainya.”

“Aku mencintai novel itu. Keras, kasar, namun juga romantis dan penuh cinta.”

Dari sanalah kami mulai berdiskusi tentang isi novel. Tentang jalan cerita, bagian-bagian yang di sukai, dan bahkan bagian seks keras antara Christian dan Anna. (Note: beginilah kami di luar hubungan seks, , , seperti dua orang kolega atau profesor dan murid. Berdiskusi sepanjang waktu. Filsafat, literatur, budaya, bahasa, behh…Indonesia. . . Canada. . . kehidupan. . . semua kami diskusikan. Bahkan fifty shades of grey.

Beranjak dari EL James, dia menanyakan apakah aku juga Sadean.

Apa itu Sadean?

Ternyata Sadean adalah panggilan untuk penganut alirannya Marquis de Sade.

Dia sangat heran bagaimana bisa aku melewatkan Marquis de Sade jika aku gila dengan fifty shades of grey. Marquis de Sade bahkan memiliki kibik nya sendiri di Lodon Library. *entahlah aku juga tidak terlalu bisa membayangkan sebetapa istimewanya kesempatan itu.* Yang pasti menurut NB, tidak ada penulis lain yang di beri kibik sendiri selain Marquis de Sade.

NB mengatakan bahwa yang bisa di ambil dari de Sade tidak hanya romansa biasa ala Christian dan Anna. Tapi juga filsafat di tengah revolusi Prancis kala itu. Menurut NB, de Sade adalah salah satu revolusioner yang berperan sangat besar. *jujur aku tidak terlalu bisa mengikuti pembicaraan malam itu. tak ada yang aku lakukan selain menyimak dan ber-oh ria. aku tidak banyak pengetahuan tentang filsafat, ataupun revolusi Prancis*

So, setelah pulang aku mencari tentang itu. Aku mencari tentang Marquis de Sade dan menemukan blog Bung Reza.

Anyway. . . kalian bisa mengunjungi Rumah Filsafat untuk lebih dalam mengenai de Sade. Di sini aku hanya ingin menyimpulkan bahwa yang di katakan di gambar ini sepertinya benar:

greatest-pleasure-314955

Looking forward for another kinky. . . . . Maybe wiping, or tied and blindfold first.^^

Advertisements

One thought on “Between Pleasure and Pain Part 1; Smacking Bum

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s