Bukan ‘Status’-nya, tapi ‘Kwalitas’ Hubungan Itu yang Penting

0d493f12031dbeef0df63a74b0396b06sumber gambar:www.pinterest.com

Berpuluh-puluh menit aku bingung bin galau menentukan postingan ini harus di masukan ke kategori mana; personal experience kah? Atau pendapatku kah? Kenapa begitu? Karena postingan ini isi nya mencakup dari personal experience terlebih dahulu, dan menghasilkan pendapat ku tentang sebuah hubungan. So, aku berakhir dengan memberi dua kategori di sini. #ups

Well, mari terbang ke masa lalu. . . masa lebih dari setahun yang lalu. . . .

Aku mengenal seorang pria asal Skotlandia tapi tinggal di sini bernama CM. Dengan awal yang sangat lamban merayap namun perlahan kami semakin dekat, hingga akhirnya memutuskan untuk bertemu. Pertemuan pertama itu sepertinya berjalan dengan mulus dan membawa kami tertarik pada satu sama lain. Singkat cerita, kami berjalan bersama untuk kurun waktu yang lumayan lama. . . no relationship seperti pacaran dll. Tapi apa? Aku selama bersama dia benar-benar mendapatkan lebih dari yang ku impikan untuk pernah ku dapatkan dari hubungan itu.

Kadang dia seperti sahabat untuk menumpahkan hal-hal yang tak bisa ku tumpahkan di kehidupan nyata, kadang terasa seperti pacar yang membuat aku merasa di cintai dan di inginkan, kadang dia seperti ayah yang protektif in a way that just like father, kadang seperti ibu yang menyayangi dan menuntun ku, kadang bahkan seperti suami yang memberikan nafkah lahir dan batin bagiku. Semua itu ku dapatkan dari sebuah ‘hubungan tanpa status’.

Lalu mari lagi kembali ke masa yang lebih jauh lagi yaitu masa sekitar 3 tahun dari sekarang. Tepatnya masa aku semester satu. Aku mengenal seseorang bernama EP dari Jakarta Indonesia, yang kebetulan satu kampus denganku.

Kami dekat semakin dekat, dan ekspres dalam sebulan menjalin hubungan yang namanya ‘pacaran’. Tahu seberapa lama hubungan tersebut berlangsung? SATU BULAN. Apa yang aku dapat? Mata bengkak karena menangis berhari-hari, berat badan naik karena makan terlalu banyak pasca stress, dan terakhir adalah masa-masa blue karena tidak bisa move on.

Atau oke lah, maybe kamu berargumen bahwa hubungan satu bulan itu tidak bisa di katakan sebuah hubungan.

Lalu bagaimana hubunganku selama dua tahun dengan CBB di SMA dulu? DUA TAHUN! CATAT!

Yang aku dapat adalah:

  1. Membohongi orang tua.
  2. Bolos sekolah.
  3. Di selingkuhi.
  4. Menangis.
  5. DLL

So, aku mulai berpikir barusan waktu aku, Nisa dan Nurlia membahas tentang hubungan impian di masa depan, bahwa hubungan yang ku inginkan adalah hubungan seperti yang pernah aku miliki dengan CM. Hubungan yang saling menghargai, menghormati, dan saling setia menunjukan kasih sayang dan cinta pada satu sama lain bahkan tanpa ada kata cinta atau STATUS berpacaran.

Aku ingin sebuah hubungan seperti hubunganku dengan MJ;

Kata I LOVE YOU yang di ganti menjadi I LIKE YOU, karena kami sama-sama belum yakin bahwa LOVE adalah yang kami rasakan.

Bagaimana menurutmu? Pilih mana hubungan pacaran tapi menghasilkan batu? Atau hubungan tanpa status yang berbuah anggur?

Advertisements

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s