Kenapa Saya Suka Sama Bule? How Can You Be A Bule(s) Hunter?

paul-walker-fast-7-movie-cgi-scenes-fstoppersSumber gambar:fstoppers.com701 × 405Telusuri pakai gambar

Holla, its me, again^^

Mengingat pada postingan ini aku telah menjanjikan akan menulis tentang asal mula bagaimana cerita aku bisa menentukan ‘bule’ sebagai kriteria utama dan prioritas untuk menjadi pacarku, dan aku adalah satu dari sedikit orang di planet bumi yang (gaya nya) selalu berusaha menepati janji, maka aku membuat postingan ini. Mungkin panjang, jadi siapkan segelas kopi susu, camilan, dan silahkan menjadi ‘orang kepo’ beberapa  menit ke depan^^

1998

Pada tahun 1998, Papa masih belum seorang kontraktor, melainkan seorang pekerja di sebuah perusahaan kehutanan. Dan aku masih lah seorang bocah imut polos tanpa kegilaan yang berusia kurang dari lima tahun. Untuk ke sekian kali nya Papa di mutasi.

Syukur-syukur jika di mutasi antar negara dan pindah nya ke Kanada atau ke Swiss lah, keren. Ini, di mutasi dari sebuah kabupaten ke pelosok desa, oh tidak mungkin sulit menyebutnya desa, sebut saja anak perusahaan. Kami bahkan tidak tinggal di desa, tapi tinggal di MES (semacam rumah dinas bagi para pekerja di perusahaan tersebut).

Itu bukan kali pertama kepindahan. Bayangkan sebetapa sedih nya seorang Vallen kecil yang penyakitan (siapapun di masa lalu akan terkejut jika tahu sekarang aku setahan ini, even well, temen-temen kampus masih aja nganggep tubuh ku fragile-_-) dan jarang keluar rumah dan di TK sering nggak masuk, malah di pindahkan ke pelosok desa di antah berantah, dan kala itu aku masih jadi anak tunggal karena adik ku lahir dua tahun kemudian.

Selama beberapa bulan kami tinggal di situ, kami bertetangga dengan dua tetangga sebelah rumah yang puji Tuhan juga sama-sama memiliki anak perempuan. Seketika aku bersyukur dan berbahagia atas mutasi Papah. Tapi semuanya hanya untuk beberapa bulan.

Pada saat itu terjadilah kerusuhan antara suku madura dan dayak di Sampit Kalimantan Tengah yang berimbas pada seluruh wilayah Kalimantan. Dua orang gadis kecil sebelah rumah yang bernama Vivi dan Alwi itu pun pergi akibat kerusuhan tersebut. Mereka memang benar bukan termasuk salah satu yang ikut kerusuhan, hanya saja sebegitu parahnya kerusuhan sehingga semua yang bersuku Madura tidak di perbolehkan tiggal. Untung China boleh tinggal^^

Beberapa minggu setelah itu, ada orang baru yang pindah ke rumah bekas keluarga Vivi. Di situ lah kisah ini di mulai. Ketika keluarga yang kata Mamah mata nya kayak ular itu ternyata berhasil menarik aura ‘mengidola’ dari seorang gadis kecil berusia lima tahun. Ketika si gadis lima tahun tersebut pertama kali memakan mie instan berkat ada teman baru yang pindah ke sebelah rumah.

INTERMEZO

Dear David,

Dimanapun kamu saat ini, aku sangat berharap Tuhan menuntunmu ke postingan ini.

Jika kamu adalah David yang sewaktu berumur lima tahun pernah tinggal di perusahaan yang terletak di pelosok hutan Kalimantan, aku Vallen, sahabat kecil mu.

Ingatkah kita terjatuh dari batang terapung yang merupakan jembatan di atas rawa jalan menuju sekolah karena kita bandel pulang lebih awal tanpa menunggu jemputan?

Ingatkah kamu sewaktu kita panen Pare Hibrida yang di tanam oleh Mama mu dan Mama ku?

Ingat kah kamu waktu ulang tahun ku dan kamu tidak mau tersenyum saat foto karena kamu ompong? Kamu memang selalu ompong di memori ku.

Foto-foto kita hilang sewaktu keluarga ku pindah rumah di tahun 2006 lalu Vid. Aku sering mencari kamu di sosial media, tapi apa daya usaha bodoh ku memang tidak akan pernah berhasil karena nama mu yang aku tahu, hanya David.

Aku ingin sekali bertemu denganmu lagi.

Yours,

V

CONTINUED. . .

2000-an

Rentang SD-SMA

Tahun 2000 adik ku lahir, rupanya orang tua ku sudah merasa saving dari hasil bekerja di pelosok tersebut cukup untuk kembali ke tempat asal kami. Dan keluarlah kami dari pelosok hutan itu. Itu adalah perpisahan ku dengan David.

Babak baru pun di mulai.

Cepat ceritakan pada kami apa hubungannya dengan kamu menyukai bule!

Iya iya sabar napa-_-

Papa dan Mama bukan orang tua yang pemarah pada anaknya kecuali untuk dua hal:

  1. Menjaga makanan dan kesehatan,
  2. Menjaga tontonan.

Nah yang ke dua inilah yang menuntunku pada bule.

Jangan heran kenapa aku tidak menyukai sinetron Indonesia. Itu karena sebelum 17 tahun aku di larang menyaksikannya, dan setelah 17 tahun aku menyadari bahwa sinetron Indonesia benar-benar kacang.

Jadi apa yang boleh kamu tonton?

Sejenis Home Alone, Jumanji, Dulce Maria, Amigos yang gitu-gitu dan aku lebih nya ke game sih. Pertama yang super mario itu, lalu kemudian beralih ke PS setelah PS keluar. PS satu sampai PS dua aku punya:)

Nyangkut bule nya mana Val??????

Bule nya dari sini ya film-film itu semuanya di peranin sama bule^^

Ups, aku hampir lupa ngasih tau bahwa Moto GP juga di ijinkan untuk menjadi bahan totonan. So, yang ku lihat semuanya yang begono-begono yang pirang-pirang, yang mata biru, mata aqua, hazel semacemnya. Jadilah aku semakin menyukai bule.

Awal semester dua

Di sini pembawa peran tertinggi dari obsesi ku untuk memiliki pacar bule.

Waktu semester satu tahukah kalian sebagaimana benci nya aku pada bahasa Inggris? Tahu berapa TOEFL ku? Tahu bahwa aku hanya mendapatkan nilai B untuk Bahasa Inggris? -_-

Di saat seperti itu seorang teman sekelas menyindir tentang bahasa Inggris ku. Aku lupa bagaimana jelas nya kejadian waktu itu, yang pasti aku ingat bagaimana jelas perasaan ku waktu itu. Bukan perasaan yang ingin ku ingat. Bukan perasaan yang indah yang mengantarkan aku mengambil kursus private bahasa Inggris. Bagaimnapun, terimakasih MR, telah menjadikanku seperti sekarang ini. Jika tidak ada kamu, mungkin aku akan kesusahan berkomunikasi dengan bule ku^^

Nah, di tempat les lah aku bertemu dengan LSN. Bukan bule, tapi Chinese yang berasal dari luar Indonesia namun kuliah di IPB.

Kamulah orang pertama tempat ku mempraktekan hasil kursus ku. Kamulah orang pertama yang ku minta membahas soal Kimia dengan bahasa yang membahas hal sehari-hari saja susah bagiku. Terimakasih LSN. Kala itu orientasi ku terobsesi dengan bule berubah dari ingin menjadikan pacar, namun ingin menjadikan tempat belajar di tahap utama.

Kesalah pahaman kecil menjauhkan aku dan LSN T.T kesalah pahaman yang seharusnya tidak terjadi.

Awal semester 3

Aku pertama kali mengganti facebook ku dari yang alay waktu SMA dengan facebook ku yang sekarang yang rada berkelas dikit lah ya^^

Saat itu dengan sedikit teman sehingga bosan di facebook, aku malah nyasar ke grup backpacker dengan niatan ingin berguru pada backpacker senior. Di sana aku di perkenalkan pada sebuah website buat para traveller yang ada ku masukan dalam postingan ini.

Kemudian aku mengenal seorang bule pertama yang menambahkan orientasi ku terhadap bule sebagai tempat belajar, dengan good sex sebagai bonus.

Kemudian yang selanjut-selanjutnya seperti bagaimana perkenalanku dengan AV, MK, MJ, CM, MY, dan bahkan NB yang sekarang pun, menyusul untuk menciptakan orientasi-orientasi baru dan terus memperkuat pemikiran ku bahwa aku ingin seorang bule. Bukan yang lain.

Uhm,,,,, bagaimana? Apakah sudah cukup untuk mewakili rasa penasaran teman-teman semua? Adakah yang ingin di tanyakan? Taruh di kolom komentar dan mari berbagi bersama di Pizz—Pursuing My Bule^^

Ciao:)

 

 

Advertisements

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s