What the Reason You Want to Have Sex?

reasons-to-have-sex_o_498484sumber gambar: www.memecenter.com640 × 492Telusuri pakai gambar

Holla, , , sebenernya postingan ini tertuju pada para ladies^^ Soalnya ini khusus dari sudut pandang wanita, tetang ide yang di dapat dari sebuah cerita dan statement seorang wanita.

Pertama aku akan menceritakan sebuah cerita berupa cerita nyata dari seorang teman seberang kamar. Aku tidak akan menyebutkan nama nya di sini yang pasti dia adalah seorang wanita yang seumuran dengan ku dan juga kuliah seangkatan denganku hanya saja beda jurusan.

Dia memiliki seorang pacar yang sekarang sudah akan wisuda. Walaupun tak mungkin ada yang percaya bahwa mereka sudah melakukannya jika melihat dari keagamaan dan penampilan, tapi mereka memang sudah melakukan itu bahkan jauh hari sebelum kami saling mengenal dan masuk di kampus ini.

Kemarin sore sebelum keluar untuk makan malam dia mampir ke kamar ku dan saat itu aku dan NB sedang mendiskusikan tentang posisi seks kami saat bertemu besok (weekend), yang mana bisa memuaskan satu sama lain. Lalu karena aku sibuk dengan handphone dia malah menonton di laptop dimana saat itu aku sedang berada di chanel SimpleSexyStupid dan di sana dia meng-klik yang pernah aku share di postingan ini, yaitu wawancara dengan para mahasiswa California tentang seberapa lama seorang pria seharusnya bertahan di tempat tidur.

Dia kaget dan berkata apa-apaan sih kok 30 menit? Lama banget. Lalu aku bertanya, memang kamu prefer berapa lama? Dan dia jawab lima menit maksimal sepuluh. LIMA MENIT, sekali lagi lima menit.

WHAT? Um,, entahlah tapi jujur saja aku bukan tukang seks senior yang memiliki banyak partner dan mungkin saja aku belum menemukan pria yang cukup hebat dan bisa membuatku ‘datang’ dalam lima menit. Well, maybe ‘jari’ nya bisa namun tidak untuk Mr.P nya, dan kami jelas tidak membicarakan jari, bukan?

Entahlah sejenak itu membuatku berpikir akankah aku yang terlalu lambat datang dan ribet? Akankah partner ku payah?

Lalu aku berkata. “Kamu bisa datang dengan cepat. Si AA hebat juga ya N.”

Lalu dia menjawab. “Dia datang, tapi aku tidak. Aku tidak pernah merasakan orgasme yang seperti di katakan orang, seperti yang kamu katakan. Aku tidak pernah merasakan yang seperti itu.”

Spechless. Serius aku spechless.

“Tidak pernah sama sekali?” Aku bertanya meyakinkan. Dan dia menjawab ya.

Salahkan sifat nyablak ku saat aku dengan lurus langsung berkata;

AA payah sekali datang dalam lima menit.

Dia protes di bilang seperti itu dan dia bilang semua orang ada kelebihan dan kekurangan masing-masing dan orang lain harus menerima nya bahkan di dalam urusan seks.

Well, maaf untuk yang datang lima menit, hanya saja aku bukannya mengatakan bahwa aku tidak akan menerima yang seperti itu dan akan meninggalkan orang yang seperti itu. Hanya saja aku akan berusaha untuk tidak berhubungan dengan orang seperti itu dan jika sudah keceplosan maka aku akan berusaha untuk mengajaknya mencari solusi untuk masalah itu. Dan aku menjelaskan seperti itu pada teman ku itu dan dia menjawab;

Aku melakukan itu bukan untuk kesenangan dan orgasme seperti yang kamu katakan itu juga sih sebenarnya jadi aku tidak masalah.

Sekali lagi aku spechless.

“Lalu untuk apa?” Tanya mulut nyablak ku sekali lagi. Warning;mulut nyablak bukan hal bagus untuk di pelihara.

Aku melakukan itu karena itu adalah cara kami untuk saling mengekspresikan cinta. Itu lah salah satu cara kami untuk saling mencintai. Aku tidak melakukan seks seperti yang kamu lakukan. Aku tidak mencari orgasme. Aku dan AA juga tidak melakukan hal seperti 69 atau semacamnya.

Wow, jujur aku tidak menyangka akan mendapatkan jawaban tersebut. Sungguh jawaban yang agak mengejutkan.

“Lalu bagaimana dengan foreplay?” Aku bertanya. “Apa yang kalian lakukan? Bergantian? Apakah kamu lebih suka memandanginya selagi dia melakukan itu?”

Lalu dia menjawab;

Kamu tidak melakukan banyak foreplay, karena kami melakukan itu untuk cinta. Bukan untuk kesenangan.

Wow. Apakah kalian setuju bahwa pacar temanku ini adalah salah satu pacar yang ter-egois di seluruh dunia? Aku juga bertanya bagaimana cara mereka menyudahi sebuah hubungan seks, apakah sampai di orgasme atau sekedar memasuki beberapa kali, keluar dan sudah. Toh, lambang cinta sudah beres di lakukan, bukan? Tapi tidak. Si pacar teman ku ini datang dan begitulah mereka menyudahi aktivitas tersebut.

Lalu kembali di sini aku juga teringat dengan mantan yang pertama kali melakukan itu denganku, CBB. Jujur saja dari beberapa kali kami melakukannya, aku tidak pernah datang dengan penetrasi, tapi setidaknya aku datang dengan tangan nya beberapa kali. Dan kadang most of the time dia memang sudah aja, tidak mempedulikan kepuasan ku setelah dia dapat kepuasan nya.  Hanya saja mungkin karena waktu itu aku juga tidak begitu mengerti masalah seks dan aku juga hanya seorang remaja yang bodoh dan ‘ikut-ikutan’ dengan kegilaan remaja lain. Tapi sekarang aku bukanlah anak remaja itu lagi dan aku bukan selalu orgasme dengan penetrasi namun setidaknya partner ‘bule’ ku terima kasih Tuhan tidak ada yang egois dan meninggalkan aku di jurang ketidakpuasan. Saat aku tidak sampai dengan penetrasi, mereka punya lidah dan tangan untuk melengkapi.

Well, teman ku ini sangat menentang yang aku katakan tentang egois atau tidak ini. Dia mengatakan bahwa orientasi ku untuk seks itu SALAH.

Dia juga berkata bahwa dia bersyukur pacarnya ‘udahan’ dalam lima menit. BERSYUKUR! Catat!

Lalu aku bertanya kenapa. Dan dia bercerita pernah suatu saat mereka melakukan itu agak lama dari biasa dan dia lecet sampai sakit untuk pipis selama satu minggu. Wow. Aku bertanya apakah itu saat dia melepas keperawanan. Dia mengatakan tidak. Itu saat mereka sudah sering melakukannya.

Bagaimna mungkin bisa sakit? Bukankah sakit itu terjadi hanya jika kamu kurang terangsang dan tubuhmu tidak bisa menerima si benda asing yang menerobos masuk? Itulah guna nya foreplay, bukan? Supaya tidak ada yang sakit dan lecet.

Di sini aku juga agak kembali lagi membandingkan antara bule dan lokal. Pemikiran lokal dan bule untuk seks itu sepertinya berbeda sekali. Pacar ku sih selalu meyakinkan diri seyakin-yakinnya bahwa aku siap, sebelum penetrasi.

Bagaimana menurut kalian? Apa yang kalian cari dari hubungan seks? Apakah murni hanya cinta dan tanpa mencari kenikmatan?

Advertisements

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s