Last Night, Beautiful Good Bye, Next Plan

Ok, seperti yang sudah aku ceritakan di sini bahwa NB di deportasi. Yap di deportasi alias di kembalikan ke negara nya dan nggak boleh balik lagi ke mari minimal tiga bulan ke depan. Masih kurang jelas? Dia di usir dari Indonesia!!!!-_- *nangis jejeritan dalam hati* #asek

Lalu apa yang terjadi Val? Bagaimana hubungan kalian? Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?

Huh, pertanyaan yang sulit.

Sebagai sayentis yang baik dan benar, maka aku akan membuat postingan ini ter-struktur per tahap sesuai urutan judul sehingga mudah di mengerti.

Last night>>>

Mari kita mulai dengan malam terakhir kami.

Kemaren tanggal 16 Januari 2016, NB mengatakan bahwa dia ingin bertemu. Aku bertanya kenapa, dan dia mengatakan ingin menghabiskan malam minggu bersama. Menikmati akhir pekan dengan segelas bir dan musik serta seorang wanita cantik. Ah, gombal sekali dia. Saat berangkat aku bingung antara dua; perayaan dia tidak jadi di deportasi, ataukah perpisahan.

So aku berangkat dari Bogor ke Cikini dengan menaiki Commuter Line jurusan Duri/Tanah Abang yang artinya aku harus transit dan mengganti kereta ku di Manggarai. But mungkin aku telah memberitahumu di postingan yang lalu-lalu, aku adalah Si Gadis Ceroboh dan terbukti malam itu aku tertidur dan lewat Manggarai sampai ke Sudirman. Puji Tuhan kebangun nya di Sudirman. Bayangkan kalo nyampe ke Tanah Abang! Ah, entahlah aku benar-benar tulus mengatakan puji Tuhan, karena sebenarnya malam itu tetap saja aku ibaratnya kebawa sampai Tanah Abang. Kereta yang akan membawa ku kembali ke Manggarai ternyata masih di Tanah Abang waktu itu.

Dan NB, , , seperti yang bisa kamu lihat dari postingan  ini, dan ini, bukanlah orang yang akan bermanis-manis ria dan men-toleransi kesalahan fatal seperti itu. Bukan pula dia bisa menjadi pria romantis dan berkata ‘semuanya baik-baik saja’ saat dia sedang ‘tidak baik-baik saja’, namun malam itu entah bagaimana tidak ada omelan atau apapun, tidak ada argumen di antara kami. Dia mengatakan baik-baik saja dan dia tidak marah sekalipun sudah berdiri di pintu keluar stasiun Cikini di depan Alfamart, selama satu jam lebih. Oh God hanya aku yang sadar dengan rasa bersalah ku dan kesusahan untuk berdiri di dua kaki karena membuat orang menunggu selama itu.

Di tahap dia hanya tersenyum bahagia meraih tanganku setelah aku muncul dari tangga ke arahnya, aku mulai memiliki firasat buruk. Firasat semacam mendapat bisikan; itu malam terakhir kalian.

Lalu setelah itu keanehan kedua bahwa dia tidak mendebatku saat aku ingin memilih restaurant yang biasanya menurut dia ‘kurang sehat’. Oh itu membuat firasat buruk ku menguat. Lalu ide untuk menaiki taksi mencari restoran dia turuti yang biasanya dia debat dengan alasan ‘mengapa kita tidak berjalan saja, toh itu dekat’. Firasat buruk ku seakan naik ke skala delapan puluh dari seratus. Pokoknya dia mengatakan; ‘You are the boss!’ Setiap kali aku ber-ulah misalnya mengganti destinasi, mengganti menu, dan bahkan mengganti plan.

Lalu akhirnya aku memutuskan untuk berhenti menguji kesabarannya dengan bertingkah dan membuat ulah. Sebenarnya itu nggak murni gegara aku pengen ngalah sih, tapi gegara semua destinasi yang aku pilih ternyata tutup, atau kehabisan menu. Bayangkan bahkan Texas Fried Chicken yang ku pilih terakhir kali pun sudah kehabisan menu kecuali perkedel dan hati goreng. Apa coba maksudnya? NB hanya berkata; ‘sometime life can be that rough’. Anjir ngeledekin kan dia!-_-

Kemudian menit berikutnya setelah aku devastated akibat mencari tempat makan, dia menyeretku memasuki sebuah pintu yang ‘gelap’ dan di sambut oleh dua orang petugas yang tersenyum pada kami di dalam ruangan. Resepsionis, dengan meja biliar di depannya.

“Six Degrees.” Gumamnya melihat ekspresi bingung ku.

Ah, ujung-ujungnya ke sini juga. Kampret commuter line yang bikin aku sampai jam sepuluh malam dan semua restoran tutup.

Kecuali yang dua orang resepsionis, semua muka yang aku lihat di dalam situ adalah bule. Ya iya lah itu kan hostel nya backpacker!! Yang pemilik nya pun gabungan sekitar delapan bule. Dua di antaranya membuka bar di lantai paling atas. Dua bule yang cakep dan langsung menyambut kami. Ahh, aku tidak sepenuhnya menyesal ke tempat itu^^ *aku akan menceritakan tentang Six Degrees nanti setelah aku kembali ke sana dan mendapatkan foto-foto tempat nya. He he*

Singkat cerita, aku meminum sekaleng coca-cola dan NB dua kaleng bir kemudian kami turun dari sana.

Sampai di rumah NB kami tidak langsung naik ke kamar tapi makan malam di depan TV sambil menonton channel history dengan siaran tentang sejarah China. Kami melalui detik-detik ‘malam terakhir yang belum di ungkapkan namun sudah jelas’ itu dengan sedikit mellow dan emosional. Maksudku dia beberapa kali atau bisa di katakan sering mengungkapkan hal mengharukan semacam harapan untuk selalu in touch, harapan akan aku menyusul, dan bahkan kalimat ‘i love you’ dan ‘i have good times with you’, dll.

Malam itu entah mengapa kami sepertinya hanya menikmati malam dengan komposisi 70% diam namun menikmati ‘ada satu sama lain di jarak pandang’. Kami bahkan hampir melaluinya tanpa sex seandainya aku tidak terlanjur keluar bugil dari kamar mandi, dan seperti biasa, itu memberikan efek yang besar padanya. Dia mengatakan hanya ingin menikmati malam yang damai denganku. Dia bahkan hanya sekali menyahuti aku dengan sengit yaitu ketika aku menanyakan tentang masalah deportasi nya dan apakah itu malam terakhir, dia mengatakan bahwa dia ingin menikmati semuanya dan memohon agar jangan ku rusak.

Oh, seberapa merasa berdosa nya aku bersikap seperti di WA kami di bawah ini:

IMG_20160118_211152

Aku begitu jutek, bukan? -_-

Temen-temen sebaiknya sebelum bertingkah kayak aku, temen-temen kudu dengerin lagu di bawah ini:

Bener lho, “There’s no promise tommorow”.

I mean, jangan habiskan malam terakhir kalian dengan melakukan kekonyolan semacam menguji kesabaran pasangan. Bisa saja dia seperti NB yang mengaku ingin menghabiskan malam terindah tanpa argumen denganku. Even besoknya kami menemukan bahwa kami tidak bisa melalui lima menit pun tanpa argumen dan justru itulah titik seru di hubungan kami.

Beautiful good bye>>>

Ahh, justru beautiful good bye nya adalah bagian-bagian pertengkaran kami setelah bangun tidur. Mulai dari berdebat tentang bulu kucing dari hasil ‘seorang temannya yang menitipkan kucing untuk semalam di rumahnya dan dia masukin kamar’, sampai pelukan terakhir masih dalam perdebatan mengenai cara keep in touch setelah kepulangan dia ke Canada.

Kata i love you, dan i really care for you yang jarang sekali muncul dari bibir kami dan seperti di postingan ini menjadi momok bagiku, ternyata manis saat di ucapkan dengan tulus (minimal ku rasa tulus), di hari perpisahan. Ternyata dia meminta email itu agar bisa tetap berhubungan denganku setelah dia mengganti nomor Simpati nya. Hiks hiks.. entah mengapa terasa romantis. Apa aku kebanyakan nonton drama yak? he he

Next plan>>>

Kami akan tetap beruhubungan via skype dan email. Do’akan semoga tetap lancar dan berhubungan baik ya:)

Well, heran juga dia tidak mengigit setelah aku membuat kamar nya banjir. Lol.

IMG_20160118_215652

Kan ceritanya air mati, lalu pas dia nganterin aku ke stasiun tuh, aernya idup. dan, banjir^^ Salah satu kenangan indah juga, bikin dia bersih-bersih sebelum berangkat 😛

Advertisements

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s