Sekeras Apapun Menyanggah dan Tidak Peduli, Tetep Aja Sakit. . .

Kemarin pertemuan kami yang aku ceritakan ini terjadi pada hari Sabtu dan Minggu, maksudnya aku nginep semalem, berangkat Sabtu pulangnya Minggu. Dan pemirsa tau sendiri kan kalo seperti yang ku ceritakan di sana pula bahwa dia nggak suka membicarakan mengenai kepergian nya. Dia hanya ingin menikmati seolah melupakan tentang kepergian nya itu.

Kesimpulan nya adalah aku tidak tahu bahwa dia terbang kemarin Selasa, sampai dia baru ngasih tau Minggu kemarin. Mepet banget kan, dalam dua hari.

Entahlah, aku nggak bisa menggambarkan perasaan-ku yang selalu mendapat jawaban “Soon” setiap aku menanyakan masalah penerbangan. “Soon” yang ku bayangkan adalah sebulan atau paling tidak seminggu lagi. Dan semakin dia mengatakan “soon” aku semakin merasa waktu kami masih panjang. Tapi tiba-tiba di bomb dengan kenyataan bahwa hanya ada dua hari.

Mungkin masih dalam kondisi shock atau bagaimana, hanya saja aku benar-benar tidak bereaksi apa-apa. Hanya tertawa dan mengatakan “safe flight”.

Lalu entah bagaimana aku ‘lupa’ pada fakta bahwa dia berangkat kemarin (Rabu, 19 Januari 2016). Aku benar-benar lupa sampai dia mengirimkan pesan seperti yang ku screenshoot di bawah ini:
IMG_20160119_151641

Dan entah bagaimana aku masih sangat biasa saja. Sama sekali tidak ada kesedihan atau-pun rasa sakit. Hanya mendoakan dia baik-baik saja di jalan, tiba dengan selamat, dan melanjutkan hidup dengan baik sampai suatu saat di per-temukan lagi.

Lalu setelah membalas pesannya yang terakhir dengan satu kata simpel “Ya”, aku tertidur dan bangun jam enam sore. Tahukah apa yang ku lakukan? Menonton drama tentang seorang psikopat. Berteriak ngeri dan kadang tertawa melihat darah berhamburan di mana-mana namun di selingi tingkah kadang lucu dari aktor yang di sana. Sama sekali tidak ada ingatan tentang penerbangan NB di jam 10 malam itu.

Aku fokus pada layar monitor sampe kira-kira jam 10 lewat beberapa belas menit, JLEB! NB kan berangkat malam ini. NB kan take off jam 10 malem ini. NB kan pergi dari gue malem ini.

Dari situ aku langsung mengambil HP dan benar saja ada pesan terakhir NB mencari ku sebelum berangkat. Ada panggilan tak terjawabnya di HP kecil ku gegara aku nggak baca WA. Di situ aku langsung buru-buru ngetik pesan ke dia. . . Nggak deliv. Cuman centang satu. Aku terdiam, di tampar kenyataan; NB sudah meninggalkan langit Indonesia.

Aku diam. Kembali melanjutkan drama yang sebelumnya ku pause. Tapi, secara tidak sadar setetes air mata jatuh dari sudut mata ku yang sedang menatap layar. Setetes yang mengawali ribuan bahkan ratusan ribu tetes yang lain.

Teman ku datang setelah itu. Setelah aku puas menangis dia mengajak ku berbicara.

Dari diskusi ringan kami dia berpendapat;

NB yang tidak ingin membahas masalah keberangkatannya itu karena dia ingin menghindari fakta kepergiannya itu, fakta perpisahan kami juga termasuk di dalam sana. Begitupun aku yang alam bawah sadarnya secara otomatis memutar film dan melupakan jam take off dia. Itu usaha kami berdua untuk menggindari sang fakta. Itu usaha kami menghindari rasa sakit yang toh ‘datang juga’.

Advertisements

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s