Kata Nicky Minaj; Selfish People, Live Longer!!! Mulai Takut Enggak Panjang Umur Nih

Sumber gambar: www.smh.com.au729 × 410Telusuri pakai gambar

Saya tinggal di sebuah tempat kost khusus wanita sekitar 1.5 km dari IPB. Hmm, tempat nya bagus. Aku suka privasi yang aman karena di sini satu kamar, satu kamar mandi di dalam, dan juga letak kamar ku di ujung mendekati pagar. Well, perfect for a college student.

Nah kost ini memiliki ‘pengasuh’. . . i mean satu keluarga yang membersihkan-nya, kemudian melakukan pengamanan untuknya, dll. Di dalam hal itu termasuk juga men-supply keperluan seperti galon air atau gas di dapur bersama di belakang.

Biasanya saya selalu meng-order galon air dari Teteh begitulah kami memanggil si istri pengasuh tersebut. Tapi belakangan kok galon nya lambat sekali. Order Senin, di antar Jumat. Apa coba? Saya keburu mengeluarkan lebih dari uang senilai satu galon aqua selagi menunggu galon Teteh datang.

Satu botol aqua 1,5 liter kan Rp. 4000, dan dalam satu hari saya minimal butuh dua di luar botol kecil yang saya minum di kampus. Hitung berapa! Sedangkan, harga galon air itu dari Teteh Rp. 17.000 sedangkan dari warung Rp. 15.000. Well, wolles lah dia untung Rp. 2000 sing penting air nya lancar.

Tapi, alih-alih lancar malah begitu rupa telat nya.

Maka timbul lah bisikan untuk membeli galon dari luar saja. Saya ungkapkan niat itu kepada teman di depan kamar, dan dia menyetujui. Lalu berangkatlah kami membeli galon.

Sesampainya di warung, , , timbul-lah perasaan itu. Perasaan yang biasa kita kenal dengan perasaan ‘nggak enak’. . .

Vallen: “Nis. . . kok gue nggak enak nih sama Teteh kalo kita beli dari luar. Kan itu mata pencaharian dia, kecil-kecil begitu.”

Anisa: “Elah. . .kalo dia serius dengan mata pencaharian nya dia, ya jelas lah dia nggak bakal bikin kita puasa minum lama-lama.”

Vallen: “Tapi kan kata Teteh itu dari suplier nya sana yang begitu, lama.”

Anisa: “Suplier kek, apa kek, yang pasti kan hasil akhirnya kita tetep kehausan.”

Well, well, well, benar sekali yang Anisa katakan. Hasil akhirnya kita semua tetap kehausan.

But again, , , tetap saja rasanya salah.

Bagaimana jika kalian di posisi saya? Apakah akan sama, ada rasa salah? Atau itu hanya saya-_-

Kemudian di lain kesempatan, saya dan Nisa pergi mencari sarapan.

Ini kejadiannya waktu saya masih heboh-heboh nya berpikir bahwa saya hamil (belum tahu ceritanya? baca di sini!)

Masih belum fixed topik penelitian, hamil? Tentu saja saya hampir gila. Mood saya benar-benar buruk untuk beberapa waktu sampai saya datang bulan tanggal 20 Februari lalu.

Tak membaik di pagi saat saya dan Anisa pergi mencari makan itu. Saya hanya ingin mendapat sarapan, kemudian kembali ke kamar dan memikirkan ‘solusi’ untuk masalah saya. Tapi Anisa meminta saya mampir ke warung dahulu karena dia ingin membeli ice cream.

Pff, tidak membutuhkan waktu terlalu banyak untuk mampir membeli ice cream sih sebenarnya. Hanya saja, di jalan menuju ke warung itu, dan jalan kembali dari warung itu yang membuat saya mengerang dalam hati.

Readers: “Melewati gang kecil penuh preman bertato dan bertindik?”

Vallen: “Gubrak! Bukan begitu. Hanya beberapa orang yang Vallen kenal^^”

Readers: “Lah. Orang di kenal kok malah mengerang dalam hati?”

Vallen: “Ceritanya panjang.”

Readers: “We have eternity. . .”

Vallen: “Allright. . .*rolling eyes*”

Guys, , , mungkin saya akan fine jika mereka adalah orang yang tidak di kenal atau bahkan para preman bertato.

Para preman bertato tidak akan menyapa saya dan mengharapkan saya untuk tersenyum atau menyapa mereka, bukan? Tapi tukang bubur, tukang baso, tukang mpek-mpek, atau beberapa ibu-ibu yang sedang berada di pinggir jalan sekitar warung waktu itu bukan orang tidak di kenal yang akan membiarkan saya lewat tanpa menyapa.

Mereka akan menyapa saya, tersenyum, kemudian normal nya saya juga akan menyapa dan tersenyum balik.

Well, its not a big deal. Saya menyapa mereka dan tersenyum balik waktu itu.

But seperti yang saya katakan pada Anisa waktu itu, , , masalah yang membuat saya malas adalah karena di waktu itu senyum dan sapaan saya bukan senyum dan sapaan tulus.

Hati saya sedang penuh dengan masalah kehamilan saya. Tidak ada tempat untuk ketulusan menyapa orang di jalan.

Anisa: “Mengapa kita harus memastikan kita tulus Val? Apa kamu bisa memastikan mereka juga tulus? Tahu tidak, semakin tulus kita, semakin besar peluang seseorang menipu kita.”

Vallen: “Tetap saja, rasanya saya merasa sulit menjadi orang yang tidak tulus. . .”

Hmm, Anisa memang sedang sensi juga sih waktu itu, soalnya dia baru saja habis di tipu. Di hipnotis oleh orang yang berusaha dia tolong.

Dunia memang kejam Nis. . .! By the way, , , you guys, , , waspadai hipnotis yang di awali dengan permintaan tolong, ya^^ I wish there’s no another Nisa. . .

Kemudian tepat dua hari yang lalu, Bibi Cuci (baca: orang yang mencuci pakaian saya) meminta tambahan biaya yang awalnya Rp. 85.000 menjadi Rp. 100.000.

Saya meng-iya-kan. Sekali-pun sebenarnya Bibi Cuci tempat lain lebih murah yaitu sekitar Rp. 75.000 (saya juga berawal dari Rp. 75.000, tapi naik-naik ke puncak gunung- sampai sekarang Rp.100.000).

Tapi saya berpikir ya sudah lah, enggak bikin saya bangkrut, yang penting bersih.

Bibi Cuci: “Pakai ‘penis’ itu Mbak di cuci nya. Terus baju Mbak kan banyak yang nggak bisa di cuci mesin, mesti di kucek pelan-pelan pake tanga.”

note: ‘penis’ adalah lafal Bibi Cuci saya untuk kata Vanish (nama detergen). Maklum Sunda, kan terkenal susah membedakan lafal untuk F, P, dann V. he he

Vallen: “Iya. Harum banget kok.”

Padahal sebenarnya jika saya tidak menambahkan satu bungkus Downy 900 ml setiap bulannya, yang ada adalah bau sabun colek.

Tapi sekali lagi, saya tidak enak.

Sama hal nya dengan ‘menagih utang’ dari teman, atau peralatan yang dia pinjam namun lama tidak di kembalikan seperti baju, tas, sepatu, dll.

Saya sering kali kesusahan dalam urusan seperti itu.

Pernah (baca: sering) saya bertanya dari sahabat saya Eka, tentang cara menagih utang atau mengambil barang dari orang.

Eka sangat mudah melakukan itu. Dia bilang itu hak kita, kenapa mesti tidak enak? Well its true but still. . .hiks hiks. . .

Bahkan ada kala lebih ekstrim lagi, saya merasa tidak enak pada mantan pacar nya gebetan saya.

I mean, mostly people akan meragukan ini terjadi pada saya, tapi saya bersumpah bahwa saya merasakannya.

Ceritanya saya belakangan punya seorang gebetan. . . akan saya ceritakan tentang dia lebih jelas saat dia sudah sampai pada tahap benar-benar gebetan (seperti sudah tidur dengan saya, etc).

Si gebetan saya ini sudah putus dengan mantan nya sekitar 1.5 tahun lalu. Lalu saya bertanya apa penyebab dia putus. Dan dia menjawab bahwa itu karena gebetannya itu tiba-tiba berubah menganut aliran sesat semacam itu.

Yep. Aliran sesat.

“Pertama nya bagaimana?” Tanya saya ke dia.

“Dia di diagnosis kena Ovarian Ulcer pertama nya, tapi alih-alih pergi ke rumah sakit, dia malah pergi ke Guru. . . dan san Guru itu malah mengubah dia menjadi seperti sekarang ini. Menjauhi saya, menjauh lingkungan, persekutuan, bahkan kedua orang tua nya.”

Tahu apa yang saya pikirkan seketika setelah mengetahui itu?

Wanita itu sedang tersakiti dan sedih. Dia tidak bisa memiliki anak lagi karena penyakit itu, sekalipun dia ingin, dia takut.

Sebagai sesama wanita saya bisa merasakan itu.

Seharusnya gebetan saya ini tidak hanya menunggu dan bersabar selama satu tahun (dia bilang dia menunggu dan bersabar dengan semua kegilaan mantannya itu selama satu tahun), tapi setelah mendengar cerita, saya jadi sedikit menyalahkan dia karena tidak menunggu dan bersabar lebih lama.

Saya gila? YA! Sahabat saya juga mengatakan hal yang sama. Dia mengatakan saya gila karena perasaan saya lemah terhadap banyak hal dan contohnya beberapa hal di atas.

But again, , , bagaimana seharusnya saya bersikap. . . bagaimana seharusnya saya merasakan. . .?

sumber gambar: whisper.sh640 × 920Telusuri pakai gambar

Di dalam sebuah film yang berjudul “The Other Women”, Nicky Minaj pernah berkata demikian.

Its sad, but mostly true!

But sekalipun itu yang sering terjadi dan banyak kita temukan, , , apakah itu cara hidup yang benar? Apakah kita benar-benar fine sebagai orang yang selfish?

I mean saat mengatakan itu, Nicky Minaj mendasarkan atas fakta bahwa dia mengambil suami orang.

sumber gambar: www.lifehack.org605 × 605Telusuri pakai gambar

Kemudian ada yang berkata seperti itu. . . so, apa guna nya live longer but mostly alone? Iya enggak?

Ciao:)

Advertisements

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s