April 10, 2016: Silly Me, How Dare You!

10 April 2016 seharusnya menjadi hari yang sangat indah buat saya.

Kenapa?

Pertama, hari itu hari Minggu yang artinya hari libur, tanpa kuliah, tanpa jadwal ketemu dosen, tanpa ada keharusan untuk melakukan apa pun selain bersenang-senang ria.

Kedua namun merupakan alasan utama: di  hari itulah seseorang yang saya tunggu-tunggu, akhirnya akan tiba di Indonesia. .

Dia di jadwalkan mendarat dengan pesawat  Qatar Airways 956 yang mendarat 15.35 WIB di Terminal 2.

flight

Sue’, , , tanggal 12 April 2016 (dua hari dari hari itu) saya ada ujian tengah semester (UTS). Mata kuliah nya Fisika Inti lagi, yang terkenal killer dan jago membuat para mahasiswa hidup di neraka-dunia.

Alhasil, sekali pun itu hari yang di tunggu-tunggu, tapi Miss Vallen ini pun menyongsong nya tanpa persiapan. Well, itu semua bisa di lihat di mana saya baru menanyakan jam ketibaan dari dia di H-1. #jier!!

Lack of prepare itulah yang membuat situasi sedikit doh-_- saat abang-abang kenek Damri menanyakan:

“Terminal dua apa Mbak?”

“Lah dua apa ya? Dia ngasih taunya Terminal 2 doang Pak.”

“Emang pesawat nya pesawat apa Mbak?”

“Qatar Airways Pak.”

“Oh internasional ya?”

“Iya.”

“Kalau enggak salah sih terminal 2D apa 2E gitu Mbak.”

No! Saya mau yang fixed. Please jangan pakai ‘kalau enggak salah’ dong Pak!!!!!

Mana jam sudah 15.30. God, kalau saya harus kesasar bandara dulu, pasti bakal ngaret.  Dan ngaret di hari pertama ketemu, apa kata dunia? Terlebih dia adalah orang barat yang terkenal disiplin menggunakan waktu. *worried*

Sekalipun bapak keneknya sudah memutuskan bahwa ia yakin bahwa terminal untuk Qatar Airways adalah terminal 2D, tetap saja saya merasa kurang plong jika belum melihat dengan mata kepala sendiri pemberitahuan tertulis tentang itu.

Kebetulan salah satu keuntungan dari hidup di abad 21 adalah: mudah mendapatkan informasi.

Dengan sekali klik, saya langsung mendapatkan referensi untuk terminal mana saja yang menjadi tempat tiba dan berangkat pesawat tertentu.

Berikut saya screenshoot khusus untuk terminal internasional:

Screenshot - 5_14_2016 , 8_39_58 PMsumber: Bandara Online

2D ternyata. . . benar tulen si bapak kenek. Uups. . . maaf bapak, sudah di ragukan. . .*memelas*

Setiba di 2D, jam sudah di 15.48. . . saya langsung berdiri seketika saat bapak kenek tadi berteriak “2D. . . ketibaan dan keberangkatan iternasional *sambil mengucapkan beberapa maskapai penerbangan*”.

Setelah membungkuk dan mengucapkan terima kasih pada pada bapak kenek dan bapak supir, saya langsung ngacir dari bus.

Kesan pertama ke bandara 2D>>> “Sepi amat nih terminal.”

I mean biasanya saya di 1C atau 2F orang-orangnya bejibun sampe susah nafas. Tapi di 2D, agak terlalu sepi.

Kesan kedua>>> “Minim penanda dan petugas.”

I mean kepala saya hampir keseleo menengadah kesana kemari mencari penanda kedatangan sekaligus petugas bandara, tapi tidak juga menemukan satu pun.

Akhirnya saya memberanikan diri bertanya dari seorang wanita yang kebetulan sedang berdiri (menunggu seseorang juga sepertinya).

“Maaf Mbak, arrival 2D dimana ya Mbak?”

*Mbak-mbaknya terlihat berpikir keras*

“Mau berangkat kemana emangnya? Singapura?”

Mbak, please! Saya nanya arrival artinya nungguin orang yang datang, bukan mau berangkat. Gimana sih si Embak?

Jika tadi saya hanya khawatir, maka waktu itu saya sudah mulai panik. jam sudah 16.02 tapi saya bahkan belum menemukan gerbang ketibaan di bandara luas nan sepi ini.

Drtt.. drtttt.. drttt!!

Handphone di tas saya bergetar hebat. WA!

IMG_20160514_215007

Look at that! Hanya satu pesan yang berisi:

Im here

Tanpa titik, tanpa koma, tanpa tanda apapun, oh, kita bahkan tidak membicarakan masalah smiley.

Lalu dia menghilang tidak bisa di hubungi. Sama sekali tanpa jejak dan menurut saya waktu itu sepertinya sama misterius nya dengan tragedi segitiga bermuda.

Di saat itulah mata saya menangkap seorang satpam yang sedang patroli.

Dengan sigap saya langsung mendatangi si bapak dan bertanya:

Pak, gate arrival 2D di mana ya?

Pesawat apa Ibu?

Qatar Airways Pak.

Oh, turun aja ke lantai bawah, lantai 2. Itu bisa pake lift yang di situ.  Keluar lift langsung ketemu deh.

Iya makasih banyak Pak.

Setelah membungkuk dan berterimakasih saya langsung secepat kilat menuju lift dan menekan lantai 2.

Di lantai 2 lumayan ramai lah jika di bandingkan dengan lantai sebelumnya.

Masuk ke dalam, banyak sekali orang-orang dengan papan nama di tangan mereka yang menandakan mereka juga menjemput seseorang (/plural).

Saya kemudian berdiri di jajaran mereka, memasang senyum cerah sambil berusaha mengumpulkan napas yang telah berpencar meninggalkan tubuh hasil terburu-buru mondar-mandir di pencarian sebelumnya.

(NOTE: sepanjang waktu saya sambil menelepon dia di WA tapi sama sekali tidak bisa masuk.)

16.30 – Dia di mana sih? *agak kesal*

Saya yang pada hari itu sedang di hari pertama menstruasi, jujur, mulai kesal karena di sana sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan seorang RF! (Inisial nya)

Pengen ke toilet buat ganti pembalut tapi tahan-tahan dulu karena pengennya sewaktu dia pertama terlihat menggeret koper dari dalam sana, saya langsung menyambut dia seperti di film-film.

16.45 – Where the hell is he? *kesal*

Saya mulai emosi dan kemudian memutuskan untuk ke toilet.

Pokoknya fuck penyambutan ala film, pembalut lebih urgent!

17.00 – God, is he really landed? *berasap*

Saya memutuskan untuk datang ke meja informasi kembali dan masih seperti penjelasan mereka satu jam yang lalu:

Bisa saja teman anda mengalami permasalahan di bagian bea cukai Ibu. Silakan di tunggu kembali dan di hubungi terlebih dahulu.

Mbak-mbak dengan alis super tebal menjelaskan.

Hfff-_-

17.30 – Apakah dia di tendang balik ke negaranya? *cemas*

Saya memutuskan untuk kembali lagi ke meja informasi.

Kali ini yang menjaga di sana adalah seorang laki-laki akhir 20-an.

Selamat sore ada yang bisa di bantu Ibu?

Maaf, teman saya mendarat dari jam 15.35 tadi tapi belum kelihatan sama sekali. Mungkin ada pintu lain selain pintu ini?

Oh, Ibu, untuk ketibaan internasional 2D memiliki 4 pintu utama reguler, *dia menunjuk ke empat arah di dua lantai* dan ada satu pintu VIP  *dia menunjuk satu arah ke lantai atas*

WHAT? ARE YOU KIDDING ME?

Sebenarnya saya agak menyesal sih menanyakan dan di beritahu tentang empat pintu itu. Pasalnya, setelah mengetahui empat pintu itu, saya jadi menggila bolak-balik empat pintu dua lantai tersebut.

Yang bikin emosi agak mendingan sih, ternyata ada banyak orang juga yang kesusahan karena ketidakpastian pintu tersebut.

Ambil saja waktu itu ada dua petugas hotel yang mengeluh karena kesulitan menjemput tamu mereka karena masalah pintu. Belum juga ada bule galau mencari penjemputnya juga.

Ah, saya hanya satu dari sekian banyak yang merasakan derita itu.

18.00 – Nyaris menyerah-_-

Lelah seperti setrika di antara empat pintu di dua lantai berbeda, saya akhirnya memutuskan untuk mengistirahatkan diri di kursi tunggu.

Baru berusaha bernapas, datanglah calo taksi setan seperti semut mengerubungi mangsa.

Mau ke mana? Pake ini sama kok kayak blue bird. Malahan, lebih murah enggak perlu mikir tol dan sebagainya. . .

Hm, memang nya pakai blue bird kita yang harus bayar tol ya?

*Belum pernah naik taksi lintas tol*

Makasih Pak nanti aja, temennya yang di tunggu aja masih belum dateng-_-

Akhirnya saya memutuskan untuk beranjak dari sana.

Well, meladeni calo taksi yang datang silih berganti tidak lebih menyenangkan dari berjalan kesana-kemari mencari alamat batang hidung Mr.RF.

18.30 – Ingin menangis.

Jangan bilang dia benar-benar di kembalikan ke negaranya.

Itu membuat saya ingin menangis. Ada apa sebenarnya? Kenapa dia tidak ada tanda-tanda sama sekali? Apakah dia benar-benar mendapat kesulitan besar di bea cukai?

Dengan bahu ter tunduk lesu saya menyeret langkah kembali ke kursi yang sebelumnya.

Yeah, selain minim penanda dan petugas, terminal 2D juga minim kursi.

Saya memejamkan mata menenangkan gemuruh di hati, gemuruh cacing di perut, juga migrain di kepala.

“Mbak. Temennya belum dateng juga?”

Suara seseorang menyerobot masuk di antara ketenangan.

Ampun dijee. Leave me alone Mas!

Tanpa sadar saya mendesis dan mengirim tatapan membunuh. I mean itu refleks karena benar-benar menyebalkan saat dia mendatangi saya lebih dari tiga kali dan saya sudah memberi jawaban sama untuk ketiga kalinya pula: TIDAK, TERIMA KASIH.

Si Mas-Mas calo pun menjauh seperti prajurit kalah perang.

18.45 – Speechless

Mata berkunang-kunang, saya berdiri sekali lagi untuk memeriksa empat pintu.

Sekilas melalui sudut mata, saya melihat beberapa tatapan iba dari para calo taksi melihat ke arah saya.

God, im really gonna cry now! Dont let them pity me!

18.52 – FUCK!

Saya entah mengapa ada panggilan apa atas dorongan apa tiba-tiba menengok tas mencari HP khusus telepon.

Ada berapa missed call saya lupa.

FUCKDAMNSHITSHITARGHFUCKFUCKMOTHERFUCKERFUCK!!!

Saya mengangkat telepon untuk mendengarkan nada lelah dia di ujung sana.

Jujur, seketika seluruh kemarahan saya yang awalnya saya tujukan untuk dia, berubah ke diri saya sendiri.

I mean dia berusaha memakai WA dengan WiFi tapi hanya tersambung sekali dan langsung tidak bisa connect lagi.

Dia katanya menunggu satu jam sebelum akhirnya memutuskan untuk menyerah pada prasangka dia bahwa saya tidak jadi datang ke bandara.

Dia sudah berusaha menelepon saya dengan giat, hanya saja saya dengan bodohnya tidak mengangkat telepon.-_-

19.00 – Marah

Saya menumpahkan kemarahan saya dengan berteriak dan memaki supir taksi silver bird yang membawa dia ke Bogor berputar-putar di Bogor, tidak tahu Botani Square (Patokan utama menemukan hotel kami Hotel Fave yang ada di dekat Botani Square).

I mean God.. Supir taksi bodoh dan serakah. Dia membawa RF beberapa kali memutar Bogor sampai-sampai bayarannya hampir 900 ribu.

19.20 – Bapak Chinese kiriman Tuhan

Saya duduk menunduk menunggu Damri tujuan Bogor yang tidak datang-datang. . .

Lelah sekali? Minum?

Kata suara seseorang sambil di ikuti sebuah tangan yang menganjurkan kaleng kopi.

Pikiran pertama saya adalah membentak karena saya sedang sangat kesal dan pusing. Tapi saya hanya menggeleng tanpa menoleh, sambil menggumam terima kasih.

Sangat lelah. . . baik minum.

Kata suara itu lagi. Masih dengan bahasa Indonesia nya yang aneh.

Saya kemudian memaksakan diri untuk menengadah ke wajah yang bersuara. Mata saya di sambut dengan senyum cerah pria tua berkaca mata yang terlihat sangat Chinese.

Saya masih menolak minuman yang di tawarkan, tapi kali ini dengan halus karena ternyata senyum bapak tua itu berhasil menenangkan hati saya. I mean di samping berhati-hati pada stranger, saya tidak menerima kopi itu karena itu sudah malam dan kalau minum kopi, saya terancam tidak bisa tidur dan itu bukan hal yang bagus.

Lelah, dan tidak bisa tidur-_-

Bapak itulah yang menemani saya sampai dengan bus tujuan Bogor datang.

Dia adalah orang China yang lama tinggal di Indonesia, dan well, baru pulag dari China.

Ternyata dia sudah memperhatikan saya karena wajah saya bergitu lelah dan menurut dia terlihat sangat pucat dan hampir pingsan. Dia khawatir dan membeli kopi dari mesin otomatis, sayang saya tidak minum kopi.

Dia bertanya sapakah saya asli dari Singapura, atau dari Korea, atau dari China.

Well, kata dia wajah saya tidak seperti wajah Indonesia. (WHAT?*rolling eyes*)

Dan yeah, saya menyahut dia dengan bahasa Inggris. I mean itu karena bahasa Indonesia dia terdengar sangat fragile di awal. Jadi saya tahu bahwa dia bukan orang Indonesia.

19.40 – On my way

Hhh, , , entahlah. Di jalan saya banyak berpikir. . .

Mengapa dia tidak menunggu saya di badara? Apakah dia tidak mempercayai saya? Apakah saya tidak layak di tunggu? Mengapa saya begitu bodoh?

If i say i come, i will come no matter what.

If i say i will wait, even the strongest storm cant make me leave you.

Its not because you are special or something. Its because i will never fuck up with my words

Its me, Vallendri Arnout.

 

 

Advertisements

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s