9 Perbedaan Saat Memiliki Pacar Bule Dibanding Pacar Lokal

Via Wowkeren

Maybe ada yang berpikir bahwa cerita odds, but somehow saya merasa kagum dengan keberanian khususnya si wanita. Saya yakin meskipun di luar negeri, dunia masih tidak sebegitu mudahnya untuk pasangan yang se-ekstrim mereka.

Anyway, kembali ke postingan saya. . . BULE DAN LOKAL. . .

Warna kulit dan penampilan mereka saja berbeda, well, itu tidak sepenuhnya PASTI menjamin bahwa RASA berpacaran dengan mereka juga berbeda, but it DID actually.

BIG NOTE: TIDAK BERLAKU UNTUK SEMUA BULE DAN SEMUA INDONESIA. INI HANYA PENGALAMAN SAYA SECARA PRIBADI.

Saya tidak tahu pengalaman kamu, kamu probably memiliki lebih banyak pengalaman lagi, dan tentu saja wellcome untuk share di kolom komentar nanti, tapi ini pengalaman saya selama setidaknya lima tahun belakangan>>> 🙂

1. Berhasil Membuat Sebuah Cerpen

BULE:

Saya: Honey aku berhasil membuat cerpen.

Dia: Boleh aku membacanya?

After few minutes. . .

Dia: Wow, you did a good job. Ide ceritanya bagus, pengembangan karakter juga oke, walaupun settingnya kurang konsisten. Masak di awal cerita dia 154 cm dan di akhir cerita seketika 170 cm?

Saya: Oh, iya benar. Makasih ya atas koreksi nya. Hmm, padahal niat mau di kirimkan ke lomba femina, tapi rasanya enggak pede setelah menyadari cerpen nya sangat kacau.

Dia: No, kirimkan setelah di perbaiki, dan kalau kamu mau, kita bisa perbaiki sama-sama, saya akan dengan senang hati menjadi editor. You did a great job, just a teeny bit mistake *kiss*

Saya: Really?

Dia: Yap. Handjob setiap pagi tapi! :p

Saya: #gubrak!

Dua kalimat akhir itu tidak sepenuhnya bercanda untuk mencairkan suasana saja. lol :p

Intinya, teman/ pacar bule saya (salah satu contohnya yang di atas), sangat mengapresiasi-kan karya kecil saya tersebut. A cerpen for God’s sake, sebenarnya.

LOKAL:

Saya: Honey aku berhasil membuat cerpen.

Dia: Oh ya?

Sibuk, mata nya lurus ke pertandingan bola. . .

After few minutes. . .

Saya: Kamu enggak penasaran tentang apa?

Menatap ke kita. . .

Dia: Tentang apa?

Saya: Tentang kita ^^. Mau baca enggak?

Dia: Benarkah? Nanti aku baca. *kiss*

Kembali ke pertandingan bola. . .

2 minggu kemudian. . .

Saya: Gimana cerpen nya? Udah baca Hun?

Dia: *Tepok jidat* Oh, lupa, yaudah malam ini deh.

Malamnya lewat whatsapp. . .

Saya: Gimana cerpen nya? Udah baca kan?

Dia: Lumayan. Kamu yang bikin?

Saya: #gubrak!

Entah lah ini pengalaman saya sewaktu SMA (lokal). . . saya kurang mengingat jelas, tapi kira-kira seperti itu.

Mungkin kamu punya cerita berbeda saat kamu berhasil melakukan hal kecil, bagaimana pendapat pacar bule dan pacar Indonesia kamu? Will be very excited to hear:)

2. Ada Teman Pria Menghubungi

Dalam kasus ini, teman yang saya maksud di atas itu benar-benar teman ya. No one even bule, bersedia pacar/istri/tunangannya di hubungi oleh seorang teman-teman-an.

BULE:

. . . tereng. . . tereng. . . teng. . . reng. . . reng. . .*ringtone*

Melepas pelukan dia dan mengambil HP.

Saya: A minute honey. . .! *menyahut telepon dengan bahasa Dayak Maanyan*

After few minutes. . .

Dia: Siapa? Bahasa nya unik:)

Saya: Ah, Marteen , teman dari kampung tiba-tiba nelpon menanyakan kabar.

Dia: Oh oke.

Melanjutkan aktivitas sebelumnya. . .

Mereka cenderung memberikan kebebasan untuk berteman sekali pun itu dengan seseorang yang bernama Marteen yang tentu saja seorang pria dan sekali pun mereka tidak mengerti apa yang kita bicarakan, mereka juga tetap percaya kita tidak sedang merencanakan hal yang buruk atau semacamnya. Its bule.

Apakah begitu juga untuk pria Indonesia?

Check this article out!

LOKAL:

. . . tereng. . . tereng. . . teng. . . reng. . . reng. . .*ringtone*

Melepas pelukan dia dan mengambil HP.

Saya: A minute honey. . .! *menyahut telepon dengan bahasa Dayak Maanyan*

After few minutes. . .

Dia: Siapa? Lama banget.

Saya: Ah, itu si Marteen , teman dari kampung tiba-tiba nelpon nanyain kabar.

Dia: Marteen? Seperti nama cowok.

Saya: Ah iya cowok. Teman SM-

Dia: Cowok? Mau ngapain dia?

Saya: Nanyain kabar doang soalnya udah lama enggak ketemu, bulan depan-

Dia: Ngapain dia nanyain kabar kamu? Teman apa mantan apa dia lagi ngejar-ngejar kamu?

Saya: Teman dari dulu dia selalu punya pacar dan aku jug-

Dia: Beneran? Dia sekarang lagi punya pacar kan?

Saya: Ugh, itu dia yang dia bicarakan tadi sebenarnya tidak hanya tentang kabar, tapi juga berita bahwa dia mau kawin bulan depan.

Dia: Oh gitu, baguslah. Kirain. . .

Melanjutkan aktivitas sebelumnya. . .

Kirain? KIRAIN?

Heol! *rolling eyes*

Well, maybe ini aku yang kebetulan kebagian sial yang kayak begitu atau bagaimana? Mungkin tidak se-ekstrim yang saya gambarkan, tapi biasanya memang selalu ada interogasi setelah saya menerima telepon dari bahasa yang tidak pacar lokal saya mengerti.

Entah saya yang tidak trusworthy, atau bagaimana? Bodo lah!-_-

3.  Dalam Urusan Bayar Membayar

Dalam hal yang satu ini guys, juga sangat berbeda. Huftbgtz!

Khusus saat melakukan bayar membayar di Indonesia, sih.

Saya pernah memakan siomay yang aturannya enam ribu, menjadi dua puluh ribu. Itu tidak lain adalah karena saya bersama seorang bule.

Untuk membeli PIN menjelajah Raja Ampat pun for your information, untuk Indonesia=Rp. 500k, sedangkan untuk bule= satu jeti rupiah. Double kan?

4. Waktu Jalan di Indonesia

BULE:

Bersama seorang bule, kadang saya merasa takut bahwa saya sedang membawa seekor monyet rabies di kepala saya. Kenapa? Karena pusat perhatian sering kali berada pada diri saya.

What? Ngeliatin mulu, kasih receh dong! Atau mau saya yang kasih buat beli tiket bioskop istead of watch us? *keenakan*

LOKAL:

Kami invisible! Yeiy!

Sebenarnya saya juga berharap suatu saat kasus yang seperti ini juga bisa berlaku ketika saya berjalan dengan bule.

Please guys!

5. Setelah Satu Bulan Pacaran

BULE:

We have a good time lately. I really like you. Dan beberapa pembicaraan standard lainnya. Biasa saja. I mean satu bulan sama saja seperti masa penjajakan di tahap 1 sementara untuk sampai ke pelaminan itu butuh naik sampai ke tahap 100.

Kata seorang bule, relationship itu akan berhasil saat kamu tidak mengharapkan apa-apa dan menjalaninya dengan baik seperti aliran air. Tanpa kamu sadari, things berubah serius dan tiba-tiba menjadi APA yang selama ini ternyata kamu butuhkan. Bisa di baca selengkap nya di sini.

LOKAL:

Masih mengambil contoh mantan saya yang saya ceritakan di postingan ini. Di bulan pertama kami jadian, you know what, kami sudah memiliki plan untuk seumur hidup kami.

Entah karena pengalaman itukah saya menjadi skeptis dengan rencana masa depan? Hftbgtz.

6. Waktu Membicarakan Masa Depan/Pernikahan

Sebenarnya saudara-saudara, saja sudah dua kali mengobrolkan tentang pernikahan/masa depan. Pertama dengan pacar Indonesia EP yang saya ceritakan di point 5, lalu ke dua dengan pacar saya yang sekarang^^

BULE:

Pertama kami mengobrolkan tentang dua pesta pernikahan yang akan kami langsungkan di negaranya dan di Indonesia tentu saja. Biaya-biaya yang harus di siapkan dan sebagainya termasuk gedung. Jauh ya? Well, but itulah. ha ha:p

Lalu kami mengobrolkan tempat di mana kami akan tinggal dan menetap.

Kemudian selanjutnya tentang anak (what? yes!), asuransi kesehatan, biaya hipotek, dan sebagainya yang membuat saya harus memutar tak ekstra karena sebenarnya tidak pernah memikirkan bahwa hal-hal seperti itu suatu saat akan berada di genggaman urusa saya.

Yeah. . . pembicaraan tentang rencana masa depan dengan seorang bule bisa membuat kamu batal ingin menikah. LOL

LOKAL:

Sedangkan dengan EP. . . yang kami bicarakan adalah all about hal indah yang membuat saya ingin menikah hari itu juga. Atau ini karena pasangan lokal saya baru berumur sembilan belas tahun in that moment?

7. Waktu Pakai Bikini

BULE:

You looks amazing. Sini aku olesin sunblock nya. Kamu tahu, aku benar-benar ingin segera kembali ke hotel dan menikmati hal panas lain instead of the bloody sun.

LOKAL:

What I wear is hot pants, not even a bikini.

Kenapa kok badan di umbar begitu?

Huh? Well, , , ada apa dengan pemilihan kata umbar tersebut? Saya tidak terlalu suka mendengarnya.

8. Waktu Cerita ke Temen

Entah mengapa saat tahu kamu sedang berpacaran dengan bule, semua orang (kebanyakan teman kamu) jadi tertarik dengan detail kisah percintaan kamu. Entah mengapa!

Saya memiliki pengalaman yang entah bagaimana, seorang teman saya dalam dua hari sudah mengetahui lebih banyak daripada saya tentang pacar baru saya.

9. Waktu Meminta Restu/Cerita ke Ortu

BULE:

Bule? Kamu yakin mau nikah sama orang yang hidupnya bebas dan suka gonta ganti pasangan sama mereka?

Dia enggak pakai narkoba, kan? Bule-bule yang suka pakai narkoba. (Orang Indonesia juga banyak kali Mam, rasis banget.)

Dia punya agama, kan? Enggak kayak pacar nya si Moni yang apa itu. . . Theis-theis Mamah lupa.

Dia mau nikahin kamu kan? Bukan hidup bersama seperti artis-artis luar negeri itu?

Apa sih yang kamu suka dari cowok mata kayak ular begitu? Lihat kalian beda tingginya berapa jauh!

Bukannya kamu musti fokus kuliah dulu?

OH BOY! *wincing*

LOKAL:

Cinca? Memang dia dari mana? Oh Jakarta. . . suku apa? Ah campuran Jawa-China. . . oh. . . jurusan? Cakep. . . tapi mentang-mentang sudah punya pacar jangan lupa belajar ya. Iya, kamu udah dewasa dan ngerti mana yang baik dan yang buruk, kenapa mesti Mama larang. Iya. . . Salam buat dia ya:)

DONE!

Thats all i can remember and share for now. . . .! Kalian punya cerita lain? Hayo share ke saya dan para pembaca lain dalam kolom komentar:)

BIG NOTE: ENGAK SEMUANYA BULE SEPERTI DI ATAS, DAN ENGGAK SEMUA LOKAL JUGA SEPERTI DI ATAS. SO, INI HANYA SEKEDAR SHARE PENGALAMAN PRIBADI. SEKALI LAGI, PEGALAMAN PRIBADI!!!

Salam hangat,

Vallendri Arnout^^ xoxoxo

Advertisements

17 thoughts on “9 Perbedaan Saat Memiliki Pacar Bule Dibanding Pacar Lokal

  1. dila

    tentang bagaimana bule menghargai karya kita sekecil apapun, aku setuju banget. aku punya temen deket banget dr eropa. dia selalu tanya dan ngedorong aku ttg buku yg mesti aku selesain, dia juga ngasih ide-idenya yg super panjang dan jujur…aku gak pernah baca sampe habis karna aku ngerasa mau berhenti aja jadi penulis…eh kok jadi curhat ya wkwk.

    Liked by 1 person

  2. annastasiaF

    true story! aku jg lg pcran sm bule belanda. they are so romantic bf ever:) dan memang berasa junglir balik bgt wktu aku pacaran sm lokal, dicuekin game terus huhu. blog nya asik bgt, dan mudah dibacanya. longlast ya sm bule nya. aku msh ldr dan betapa sulitnya menjaga kepercayaan ldr.salam kenal

    Liked by 1 person

    1. Hey Annastasia. . . thanks untuk compliment nya tentang blog aku. . .

      Sekarang bule ku udah jadi mantan. . Kita putus empat bulan setelah dia balik ke negara nya. Gak tahan aku LDR. Gak ada malam mingguan, gak ada makan bareng, bla bla bla *nyengir*

      Sekarang kebetulan aku lagi punya gebetan cowok lokal. (Sejauh ini sih masih fine, tapi emang gamers dan tukang tidur *rolling eyes*)

      Kamu long last sama dia (bule mu) juga ya. . . ^^

      Like

  3. I’m impressed, I have to admit. Seldom do I come across a blog that’s both educative and amusing, and
    let me tell you, you’ve hit the nail on the head. The problem is
    something which not enough folks are speaking intelligently about.
    I am very happy I stumbled across this in my search for something regarding this.

    Liked by 1 person

  4. winona571

    Hai… Salam kenal.
    Saya Kezia, sedang study S3 di Belgia. Kebetulan, lagi ada rencana untuk nge date dengan “bule”. Makanya googling, dan nemu blog ini. Blog yang menarik, Saya suka artikel – artikelnya. 🙂
    Jujur… ada sedikit rasa takut dan khawatir dengan rencana nge date nya.

    Liked by 1 person

    1. He he he he makasih Kezia:)

      Takut sih pasti ya.. apalagi kalo ‘ngedate’ nya ini berpeluang ke ‘serius’… tapi,, menurut pemikiran cewek yang S1 nya aja serawutan ini,,, ‘just bang it!’.. lol

      Salam kenal^^

      Like

      1. winona571

        True!!!!! Bener2 to the point. Hahaha….
        Padahal sejak SMP memang minatnya sama bule (korban Hollywood nih). Tapi giliran ada kesempatan, knp malah panik begini. 😀 Hal gini – gini bukan hal yang bisa dipelajari di sekolah, sih. Jadi mau setinggi apapun pendidikan, bisa tetap panik.

        Thanks 🙂

        Liked by 1 person

      2. Hi hi hi hi…. Nggak cuman Mbak Kezia kok yang jadi korban Hollywood… yang lagi nulis ini juga kok! he he

        Dan well,,, kalo enggak sekolah,,, ya google… :p

        Selow Mbak. Kalo aku sih panik/deg-deg-an cuman sebelum memulainya doang kok (ngedate bareng bule). Pas udah duduk di resto, tatap muka, dan ngobrol, mostly bule adalah temen kencan yang paling enak (bukannya bilang gak ada yang nyebelin ya). Trust me!^^

        Like

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s