Fakta Tentang Lampu Kuning di Indonesia

Galau di malam Minggu, saya habis-habisan menguras dan menelusuri status seorang teman SMP saya di facebook mulai dari yang dia upload baru-baru ini (2016), sampai dengan yang sudah menahun tepatnya di 2011.

Kaget? Iya, saya juga! So, berhati-hatilah saya memiliki bakat dan kesabaran untuk men-stalk sampai di tingkat yang mengerikan :p

Nah kebetulan, ada sebuah status yang entah bagaimana merangsang dan menerobos masuk langsung ke ‘indra menulis’ saya.

Screenshot - 6_11_2016 , 5_20_33 PM

Dia tinggal di kampung saya di Kalimantan Tengah kebetulan. Ternyata, di mana saja ‘sama’ ya, fenomena ajaib itu. I mean awalnya saya tidak pernah menyaksikan yang seperti itu di kampung saya kebetulan. Setiap saya di lampu merah, semuanya terlihat sangat tertib, tapi. . . setelah mengobrol-ngobrol dengan KP (inisial teman saya ini), ternyata saya hanya selalu kebagian menyaksikan yang disiplin-disiplin saja.

Di Bogor? Jangan di tanya. Jakarta juga malah lebih parah!

Beranjak dari pemikiran itulah saya berhasil menyimpulkan bahwa di pelosok mana pun, di bagian mana pun, yang namanya di Indonesia lampu kuning berarti:

1. Secara hukum dimaknai sebagai ‘siaga’

Secara umum peraturan dan keterangan tentang urusan lampu merah menurut hukum di Indonesia bisa kamu baca di Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Di sana di jelaskan lengkap. Sok kalau enggak percaya, silakan download file nya dan baca sendiri.

Intinya lampu merah di maksudkan untuk tanda berhenti, lampu kuning siaga (bersiap-siap akan jalan atau berhenti), dan lampu hijau artinya jalan.

2. Namun secara manusia nya dimaknai ‘lebih cepat’

Ketika melihat lampu kuning dari kejauhan, entah mengapa para pengemudi menjadi ‘kekurangan’ gas yang ada di motor atau pun mobil nya. Putar sekencang-kencangnya, injak sekuat-kuatnya. Begitulah.

Hey! Kalian tidak hanya membahayakan diri kalian. Kalian membahayakan pengguna jalan yang lainnya. Bisa jadi juga kalian membahayakan bayi baru lahir beberapa hari yang lalu (kalau-kalau ada mobil keluarga yang sedang memboyong pulang ibu dan bayi nya dari RS).

Memang, undang-undang tidak menyediakan sanksi langsung untuk menindah ‘orang yag menambah kecepatan’ di lampu kuning, tapi, kalian bisa jadi di jerat oleh:

Pasal 106 Ayat (4) “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mematuhi ketentuan: a. … dst; g. kecepatan maksimal atau minimal; h. …dst. dengan sanksi hukum seperti pada Pasal 132 Ayat (5): “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar aturan batas kecepatan paling tinggi atau paling rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf g atau Pasal 115 huruf a dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah)..

Kan kalau menginjak gas enggak mengira-ngira bisa jadi di atas kecepatan.

Tapi yang paling penting sih kembali lagi ke hati nurani dan logika. Hanya karena ingin lebih cepat beberapa puluh detik melewati lampu merah, apakah kalian rela mempertaruhkan nyawa kalian? Apakah kalian rela mempertaruhkan nyawa orang yang tidak tahu apa-apa di depan kalian?

Ah, whatever lah.

Yang pasti kalau ada orang jenis ini sampai menyebabkan aku ter-gores sedikit pun (mobil ku) nantinya, lihat saja!

Advertisements

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s