5 Basa-Basi yang Bisa Membuat Seseorang Menjadi Kriminal

Di jalan saat sama-sama sedang sangat terburu-buru, di kelas saat dosen sedang sibuk menerangkan materi, di bus saat kita berdoa agar bisa tidur menebus begadang nya semalaman, di kantin saat kita ingin menikmati nasi padang ter-enak sedunia, di pasar saat kita menemani ibu kita berbelanja, di rumah sakit saat sedang menjenguk seseorang, di gedung pernikahan yang kita hadiri, di kantor polisi saat kita sama-sama sedang menjadi seorang kriminal, di mana pun kecuali di akhirat (karena masih belum ke sana), saya selalu menemukan basa-basi yang sudah basi, suka bikin enggak enak hati lagi!

Pokoknya saat mendengar jenis basa-basi tersebut, kadang ada semacam rasa atau keinginan ih apaan sih, pengen gua makan apa ni orang?,  apa pengen gua mutilasi?, *memutar mata*, *mengunyah gigi sendiri*, such an idiot!, dia belum pernah di lempar sepatu nih.

Yeah, itu hanya beberapa rasa dan keinginan yang wajar saya tuliskan, yang terlalu kejam untuk di tuliskan oleh gadis se-cantik saya? TONS!

Kenapa saya sangat jengkel? Maksudnya dalam kehidupan sosial tentu saja semua kata tidak akan selalu sesuai dengan yang kita inginkan, tentu saja ada yang menyakitkan. Yang membuat saya jengkel adalah saat mengatakan/menanyakan itu, mereka juga tidak sebegitu seratus persen ingin tahu. Itu hanya di ungkapkan karena tidak memiliki bahan pembicaraan. Hanya untuk bersikap polite yang misalkan sedang berada di sebuah gedung pernikahan dan kebetulan kalian bertemu lagi di meja prasmanan setelah tadi juga bertemu dan bertutur sapa di pintu gerbang which is mean kalian sudah bertemu dua kali, hal yang tadi dia tanyakan bisa keluar lagi sebagai basa basi.

What? Its not even a day since you ask me the same question. What the matter with you? Kalian bahkan tidak peduli dengan jawaban saya yang penting kalian sudah bertanya. Whats the point of that question then?

Ada setidaknya lima topik di bawah ini yang paling mengganggu saya jika di tanyakan/katakan untuk basa basi:

1. Gendutan Sumpah!

Jika kalian orang Indonesia, maka kalian pasti pernah mendengar basa basi yang di awali (atau berisikan) dua kata di atas. Ok, maybe kadang bisa di ganti dengan makin tinggal tulang jika kamu adalah seorang wanita berperawakan kurus.

Padahal kadang tidak ada yang berubah pada orang yang di sapa. Just basa-basi. Kadang pun setelah dia selesai mengatakan itu dengan kita dan ada teman lama lain yang juga baru di lihat oleh dia, dia langsung berpindah, cipika-cipiki dan mengatakan hal yang sama. Kita? Kita yang di tinggal ini kadang:

  • Tipe Cassandra (saya mengatakan ini berdasarkan nama teman saya Cassandra):

Enggak makan nasi, enggak makan daging, enggak makan apa pun yang ber-gula dan berlemak selama satu bulan.

  • Tipe Vallendri:

Dongkol setengah mati dan mengutuk-ngutuk dalam hati tapi bibir masih senyum 100 watt, malah kadang di sertai tawa. Hayo! Sebanding enggak sih, di kutuk untuk sekadar basa-basi?

2. Somboooooong!-_-

Selain yang point satu, ‘satu kata ajaib dan menyebalkan’ ini juga salah satu bahan basa-basi versi On the Spot!

Apakah yang di bilang sombong ini selalu benar-benar orang yang sombong?

Menurut survei saya 90 dari seratus orang yang menerima basa-basi ini, ternyata bukanlah jenis seperti yang di katakan.

Sekali lagi, orang yang mengatakan kita sombong tersebut ternyata hanya merasa harus menyapa, tapi tidak tahu mesti mengatakan apa, alhasil dia hanya mengatakan satu kata dengan O yang dipanjangkan seperti kereta api dan lebih tepatnya berbunyi: Sombooooong!

Saran saya sih jawab saja:

Do I know you? *muka innocent*

What? Sekalian kan!

3. Masak? Kok bisa sih?

Saya sering menemukan kalimat basa basi menyebalkan tersebut di kelas. Tepatnya yang paling sering dari seseorang yang bernama R. . . F. . . . H. . . . . .!!!

Woy, gue harap lo baca ini! *evil face*

Tidak jarang lho, apalagi waktu semester tiga dulu, departemen saya kebagian dosen yang sudah enggak bisa masuk (biasanya ada seminar, dll), pemberitahuan nya mendadak pula! Ujung-ujungnya anak-anak pada nongkrong di kelas saja untuk menghabiskan waktu menunggu kelas selanjutnya.

Saya sih biasanya lebih suka mengobrol dengan sahabat saya jika kasusnya seperti yang di atas. Dan apa yang kami bicarakan? Mostly destinasi-destinasi menarik untuk di kunjungi, sepatu diskon, atau seperti topik yang 99% mendominasi pembicaraan para teenages or early twenties: COWOK.

Teman saya ini kebetulan suka sekali mendengar cerita-cerita saya dan pacar saya, (saya juga suka kok mendengar cerita dia dan pacar dia). Tapi entah mengapa si R. . . F. . . . H. . . . . . ini selalu muncul di saat saya yang sedang bercerita.

Saya sih biasanya langsung diam saat dia menanyakan “Ngobrol apaan sih? Seru amat lu bedua.”

Tapi sahabat saya ini entah entah sudah gen atau bagaimana, sekali pun saya sudah pernah bilang bahwa saya tidak suka anak-anak khususnya R. . . F. . . . H. . . . . . tahu tentang kisah cinta saya, dia dengan bersemangat nya menceritakan apa yang sedang kami ceritakan (yang ringan-ringan tentunya misal paling dia bilang Vallen lagi cerita liburan dia ke Bandung bareng Jo). Atau saat mahasiswa internasional yang dekat dengan saya suatu ketika datang ke kelas untuk memberikan saya satu toples nastar, tanggapan R. . . F. . . . H. . . . . . masih saya ingat dengan jelas adalah:

Kok bisa sih?

Hah? Apakah saya boleh bertanya balik, kok bisa sih situ nanya begitu?

Dia datang hanya untuk berbasa-basi, tapi dia berani-beraninya mempertanyakan tentang hal yang berkaitan dengan saya memakai nada yang seperti itu?

4. Kapan seminar/wisuda/nikah?

Kasus saya yang sekarang adalah: kapan seminar dan kapan wisuda! But log time ago saya pernah menerima curhatan sepupu saya yang selalu di tanya kapan nikah dan menurut dia itu sama menyebalkan nya juga.

Jika yang menanyakan adalah orang tua, atau nenek-kakek, om-tante, sahabat sih masih wajar, mungkin mereka memang cocern. Tapi jika yang menanyakan itu adalah orang yang saat kamu mencocokkan wajahnya dengan memori otak mu kamu membutuhkan waktu sekitar seabad untuk menemukan namanya, i dont know, its called basa-basi and its annoying.

Heh, gue mau wisuda lebaran monyet apa masalah elu? Gue mau have free sex seumur hidup kagak nikah-nikah enggak bikin lu kena kanker juga, kan?

5. Masih tau bahasa Maanyan kah iya ina?= Masih bisa bahasa Maanyan kah anak ini?

Biasanya yang menerima basa-basi ini adalah kamu yang merantau dan tinggal di kota/pulau lain yang memiliki bahasa berbeda dari daerah asal kamu.

Ambil saja saya yang asalnya dari Kalimantan Tengah, dan sekarang tinggal di Jawa barat.

Ini adalah cara lain mereka berbasa basi jika tidak mengatakan point dua yaitu: Sombooooong!

Ah, saya penasaran, jika saya jadi S2 di luar negeri, apakah saya akan di tanya Masih bisa bahasa Indonesia Vall? *BUKKKK!!*

Anyway, itu dia lima basa-basi yang paling saya benci. Jujur saya berharap semua orang yang mengenal saya dan sering mengatakan lima jenis basa basi tersebut ke saya, Please baca tulisan ini.

Hftbgtz! Apa basa-basi yang sering kamu terima? Apakah kamu sering menerima lima point yang saya utarakan? Share ini ke teman-temanmu agar mereka tahu suara kati kamu!^^

Salam hangat,

Vallendri Arnout^^ xoxoxo

Advertisements

4 thoughts on “5 Basa-Basi yang Bisa Membuat Seseorang Menjadi Kriminal

  1. Wkkwakakak aku ngakak bacanyss Vall, itu tuh point kata ‘Sombooooong’ sering banget aku dengar. Sampe eneg sama asam lambung yang meningkat saking seringnyaa denger kata ‘Somboooooong’…

    Like

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s