10-11 April 2016: Penipu (?), Fave Hotel, First Meet and Wake With RF

https://i1.wp.com/cdn.morguefile.com/imageData/public/files/s/singhajaykr25/preview/fldr_2008_11_28/file000753288887.jpg

Via Morguefile

Sebelum masuk ke sini, ada baiknya kamu membaca postingan ini. Kamu bisa langsung klik di sana dan akan terbuka ke tab baru.

Yeah, tidak wajib sih, tapi cerita ini berawal dari sana. Ibarat membaca buku, tempat kamu sekarang ada di bab 2. Membaca bab 2 tanpa tahu cerita bab 1 kan agak sedikit. . .^^

Ready? Baiklah.

20.40 (±) – Sampai di Bogor, , , yeiy

Sesampai di Bogor, semuanya sudah lumayan plong. I mean thanks to Bapak-bapak Chinese tua baik hati, tidak sombong, lucu, talkaktif, dan rajin menabung, yang sebelumnya di kirim Tuhan untuk menghibur saya di bandara.

IMG_20160410_124831

Bogor!!!!!!!

Tuh kan, bingung saya ngomong apa kalau enggak baca bab 1 :p

Anyway dengan semangat dan senyum full charge saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak surpir dan kenek bus Damri, kemudian meleng-gang keluar.

Kan Damri-Fave Hotel cuman di pisahkan oleh IPB Convention Center.

Nah, untuk melalui pemisah itu, kita memiliki pilihan untuk:

  1. Menyusur lewat jalan raya (memutar)
  2. Memotong lewat jalan Damri kalau ingin keluar Bogor (lurus)

Mau tau saya pilih yang mana?

Ya iya lah pilihan kedua! Cukuplah saya memutar-mutar di bandara Soekarno Hatta sebelumnya. Jangan di Bogor lagi deh.*rolling eyes*

Memang sih, jalan pintas pasti ada risiko nya. Pertama, jalan itu agak remang. Kedua, sedang ada pembangunan di hotel milik IPB (lupa namanya) yang membuat debu beterbangan ke-mana-mana di daerah situ, alhasil suasana agak sedikit terkesan slum.

Uhm, not really hanya the debu-debu debu pakai the? ha ha yang bikin slum, tapi wartegs (plural) dengan dim light mereka, di tambah di situ terminal trans pakuan (bus dalam Bogor) juga, di tambah tempat parkir motor dan mobil ya di situ juga.

Beuh, lahan bagus untuk melakukan tindak kejahatan. Iya tidak?

Vall, pernah dengar quote “Dont judge a book by its cover!” enggak?

Pernah. Kenapa?

Berlaku juga lho dengan sebuah lingkungan.

Maksudnya?

Jangan judge lingkungan itu dari penampakan nya saja.

Deuh, punya bukti nih!!!

Yeah. Saya punya bukti atas prasangka buruk saya terhadap jalan pintas tersebut.

Mbak-mbak tunggu. Maaf boleh nanya enggak?

Kata sebuah suara dari belakang setelah saya melangkah sekitar 10 langkah dari pintu bus.

Berhubung mood lagi baik, saya pun berhenti dan menemukan seorang pria Chinese mid twenties, berkacamata, membawa ransel, sebuah botol minum, berkeringat, terengah-engah sedang menghampiri saya.

Saya melemparkan sebuah senyum padanya. Ia memegang lutut, ter-engah, mengumpulkan napas sepertinya. Senyum saya semakin lebar mengingat kejadian sebelumnya di bandara.

Apakah saya terlihat sama menyedihkan nya dengan pria ini?

Selow. Ngapain lari?

Kata saya ramah dan dia tersenyum.

Akhirnya setelah sepertinya pernapasan-nya mulai stabil, dia kembali berdiri tegak dan mulai membuka mulut.

Mbak asli sini?

Uhm, enggak bisa di bilang asli sih. Tapi saya tinggal di sini.

Oh. Ok.

Mbak kalau dari sini ke utara ke arah mana ya? . . . . saya mau ke Utara tapi bingung enggak tahu arah di Bogor. . .bla bla bla bla

Dengan kecepatan berbicara 160 km/jam, si pria tadi membuat kening saya berkerut dalam dan alarm tanda bahaya berdenting keras.

Pertama, kecepatan berbicara dia memang tinggi, well, begitu pula dengan frekuensi penangkapan saya yang menyebabkan saya mampu menyimak bahwa ‘paragraf’ panjang dia tadi sebenarnya have no point on that. Tok’ berputar-putar aneh yang menurut sisi penuh prasangka dalam diri saya bertujuan untuk membuat si lawan bicara menjadi bingung.

Lho, apa tujuan komunikasi itu pada hakikatnya?

Membuat lawan bicara memahami maksud kita, bukan?

Kedua, sambil berbicara dia menunjukkan gerak-gerik gugup (?) dengan banyak menggerakkan anggota tubuh yang sekilas saya perhatikan mulai dari kepala, bahu, tangan bahkan kaki.

Ada apa? Apa yang kamu gugup-kan?

Sebenarnya selain gugup ada beberapa kemungkinan lain seperti: dia ingin menunjukkan performa dance nya di depan saya (?). Mungkin kesan pertama yang dia lihat dari saya adalah> Who, sepertinya gadis ini adalah pacar Justin Bieber yang sedang mencari dancer dari jalanan. Saya harus memberi penampilan dadakan dan untuk membuat dia memperhatikan saya, saya akan berpura-pura tersesat dan menanyakan alamat.

HA!

Well, jika itu tidak mungkin, saya memiliki satu kemungkinan lain yang lebih logis seperti>> berusaha mendistract perhatian saya agar mudah di masuki dengan strategi hipnotis (?).

I mean orang yang mudah di hipnotis adalah orang yang kebingungan dan kesadarannya tidak terlalu total, bukan?

HA! Kamu bermain dengan orang yang salah!

Ketiga, siapa yang menanyakan arah mata angin di zaman sekarang?

I mean God, , , are you freak? Dari abad ke berapakah kamu?

I mean di hampiri oleh seorang pria yang menanyakan “Di mana tempat jablay Bogor yag terkenal itu?” jauh lebih fine daripada di hampiri oleh seorang pria yang menanyakan arah utara.

Kemudian masih menghiraukan dering alarm freak dan tanda bahaya, saya menanyakan:

Tujuan Mas ke utara mana? Apa nama tempatnya?

Pokoknya lupa bagaimana kalimat aslinya, yang pasti si Mr. Freak tersebut mengatakan bahwa dia pokoknya ke utara aja. Dia menghindari untuk mengatakan nama tempatnya dengan mengalihkan perhatian saya ke pertanyaan lagi.

Mas, kalau mau bermain-main dan menipu saya, yang profesional dong! Persiapan yang matang!

Saya berteriak dalam hati.

Masih berpura-pura tidak menyadari maksud dia, saya memanggil seorang petugas keamanan dan menyerahkan dia untuk bertanya ke petugas tersebut. Kemudian saya pun melanjutkan perjalanan.

Fave Hotel di depan mata, saya hampir melangkah melewati gate nya. . .

Maaf-maaf Mbak. . . tolong bantu saya. Mas tadi enggak tau arah utara ke arah mana. . .

No. Jangan bilang ini si Mr. Freak-Bloody-Utara. . . .!

Siapa lagi? Ngarep banget yang muncul magically Justin Bieber-_-

Kali ini dia bilang dia dari Jakarta Utara, datang ke Bogor dengan teman-temannya, namun di antara empat orang dari mereka yang datang ke Bogor bersama, dia yang terpisah dari mereka.

Kalau mau balik ke Jakarta mah naik commuter line aja ge!

Iya, kata bapak satpam yang di sana tadi, yang deket itu naik APTB di depan situ. Tau terminal APTB di mana Mbak?

Oh, APTB. Itu tuh di situ. <saya menunjuk ke arah seberang jalan>

Ok makasih Mbak.

Iya.

Saya mengangguk, menampilkan senyum terakhir dan berbalik. . . hmm, , ternyata saya memang terlalu berburuk sangka. . .

Makanya dari sekarang seharusnya kamu lebih bijaksana melihat dunia jangan hanya dari sisi buruknya saja. Merusak kesehatan lho. . .! Kata teeny little angel Vallen di dalam kepala saya.

Tiba-tiba, cara saya melihat dunia berubah dalam satu detik.

Ternyata, dunia tidak seburuk itu. Kadang orang bertanya arah di daerah slum dengan gaya aneh memang ada. Dunia masih di penuhi dengan orang jujur, baik, namun kadang kebingungan dan tersesat di tempat baru. Dunia masih. . .

Tapi saya sudah tidak ada uang lagi buat ongkos Mbak.

Gubrak!

Prasangka buruk yang terbukti, Vall! Benar kata saya kan? Berganti si evil Vallen yang bersuara sinis.

God, dunia indah dari satu detik yang lalu seketika runtuh berganti dengan rongsokan realita yang pahit.

Maaf mas, saya lagi buru-buru, bisa minta tolong sama yang lain aja?

Kata saya masih dengan sopan namun jauh di dalam hati, saya merasa miris dan ingin menampar wajah dia.

Saya sudah luntang-lantung di Bogor dari jam tiga tadi Mbak. Mbak benar-benar tidak bisa menolong saya?

Jleg!

Dari jam tiga, tanpa uang, di Bogor yang panas, jika dia benar-benar seperti apa yang di katakan olehnya dan bukan penipu, maka dia lebih menderita dari saya hari ini.

Itu pemikiran hasil hasutan si litle angel.

Pergi Val. Dia penipu yang berusaha mengambil keuntungan dari sisi lembut kamu.

Bukankah kamu bersyukur akan hadian kecil kiriman Tuhan melewati seorang Bapak-bapak Chinese yang baik hati di bandara tadi?

Apa hubungannya dengan orang baik di bandara tadi Val? Pergi!

Tidak Val! Mungkin kamu adalah hadiah kecil kiriman Tuhan untuk pria malang itu. Tidakkah kamu ingin dia mengucap syukur karena bertemu dengan kamu?

Kamu idiot kalau mendengarkan si malaikat. Dia lemah dan mudah tertipu.

Mungkin dia penipu, mungkin dia memang bukan orang baik. Tapi, apakah itu penting? Yang penting adalah rasa bahagia di hati kamu karena telah menyambung rantai kebaikan melalui dirimu, bukan?

Saya seperti di siram oleh se-ember air es.

Akankah saya ingin rantai kebaikan ini putus di saya?

Masih dengan waspada, saya mengajak dia ke pos security Fave Hotel. Meminta bantuan petugas Fave untuk mengantar dia ke tempat dimana dia bisa berangkat sendiri, dan menyerahkan sedikit uang yang saya pikir cukup untuk biaya dia naik angkot, kereta/APTB, membeli sedikit cemilan di jalan, dan sampai di rumah dengan selamat.

Around 21.00 – Awkward greeting

Finish masalah Mr. Freak-Bloody-Utara, saya langsung menuju elevator untuk naik ke 801.

Masuk ke elevator, tekan 8, tidak bisa.

What the matter with this?

Tekan lagi, tidak bisa.

Really? Apakah hotel ini memiliki sistem kartu akses untuk setiap lantai? Good, so saya harus ke loby dulu-_-

Benar saja, sekali tekan L, elevator langsung bergerak naik. *rolling eyes*

Selamat malam dengan saya (lupa siapa) ada yang bisa saya bantu Ibu?

Kata wanita dengan senyum sopan 24 jam, dari balik meja receptionist.

Mau minta kartu akses untuk ruangan 801. Atau mungkin bisa di buka akses elevator ke lantai itu dan tolong di hubungi penghuni kamar dan katakan saya Vallen sudah datang.

Kata saya to the point.

Si receptionist meminta saya menyebutkan nama RF, dan nama lengkap saya sendiri kemudian dia memberi saya akses untuk ke atas.

Satu menit kemudian, saya sudah berdiri di depan pintu 810.

Hello, open the door. Im here.

Beberapa detik kemudian, tadang. . . our first meet^^

Kesan pertama>>> apa yang dia lakukan memakai jaket di dalam ruangan?

Dia dan saya sama-sama mengajukan dua tangan untuk sebuah pelukan. . . hmm,, bedanya adalah saya pikir sekalian dengan sebuah kecupan juga.

I mean pelukan jenis seperti itu mengingatkan saya pada pelukan dan kecupan singkat yang biasa di lakukan oleh pasangan yang baru bertemu, atau akan berpisah, atau anak dan ibu di mobil ketika sedang mengantarkan anaknya ke sekolah.

Hmm, sedikit aneh karena ternyata pemikirannya tidak sama sehingga saya terkesan agresif di hari pertama-_-

Kamar Fave Hotel?

Hmm, FINE, EFFICIENT, MINIMALIST.

Yeah, ruangan yang di lapisi dengan cat putih kemudian wallpaper dinding berwarna pink (magenta), melukiskan seorang wanita berambut panjang dengan rambutnya tergerai tertiup angin, seems sosialita, di samping si wanita ada tulisan besar: Fave Hotel, Fun, Fresh, and Friendly.

Ruangan tersebut di isi dengan sebuah ranjang queen ( I think), dua buah bantal utama, dua buah bantal kecil, dua buah nakas minimalis yang ada di kedua sisi ranjang, sebuah meja belajar lengkap dengan kursi di sisi lain, sama minimalis nya dengan nakas, sama konsep juga, lampu di meja belajar juga sama konsep dengan lampu tidur di kedua sisi ranjang, sebuah TV layar datar 20 inci (?), air conditioner yang super berisik, sebuah brankas, satu bak loundry, sebuah telepon kabel, sepojok yang so-called lemari minimalist (tempat meletakkan pakaian lah) lengkap dengan beberapa gantungan baju, kemudian satu cermin besar yang letaknya berhadapan dengan pintu kamar mandi.

Beralih ke kamar mandi, kamu akan menemukan sebuah wastafel tipical wastafel hotel dengan cermin di depannya, sabun tangan yang melekat di dinding, dua buah gelas dengan sepasang sikat gigi lengkap dengan pasta gigi nya di sana, dua botol air mineral. Well, ada sedikit berbeda dari hotel lain, mereka tidak menyediakan tisu wajah di sana, tidak juga ada hair dryer. Lalu kemudian ada sebuah toilet duduk yang berfungsi dengan baik, lalu thanks God ada tisu toiletnya, lalu kemudian setelah kaca pembatas, ada shower panas dingin (oh, keran wastafel juga panas dingin),  uhm, menarik, sabun, shampoo dan hari conditioner, di kemas dalam satu wadah menempel di dinding sama konsep dengan sabun tangan.

Maaf sekali saya tidak memiliki banyak foto untuk di tampilkan. Maklum HP saya rusak, kamera yang bagus masih di toko (woi, yang mau menyumbangkan kamera sini dong), adanya kamera gelo yang malas saya bawa ke mana-mana.

So, yeah.. hanya ada dua foto di bawah ini:

IMG_20160411_091800

Foto 1. Pemandangan dari jedela kamar 810 Fave Hotel.

Look, terminal bus di kejauhan sana adalah termial APTB yang di cari Mr. Freak-Bloody-Utara semalam^^

IMG_20160412_031209

Foto 2. Breakfast Fave Hotel.

Itu ngambil mie, sedikit nasi apa bihun apa dua-duanya (?), tahu dan tempe goreng, lupa yang fried pakai saus itu kentang apa ayam. . .

Uhm terus minumnya kopi+creamer+jus jambu.

Hm, menu sarapan yang sangat flat menurut saya.

I mean hotel ini menyandang nama Aston yang menurut saya merupakan hotel lumayan ada di mana-mana, tapi kenyataannya. . . *shrug*

Untuk menu sarapan, Fave Hotel menyediakan tiga menu.

Pertama western, yang terdiri atas jus (everyday jambu & orange), toast dengan pilihan selai nanas dan strawberry (everyday), bolu, kue kukus, choco crunch.

Kedua Indonesia, setiap hari tersedia nasi, ayam kecap (setiap hari), well, kadang mie goreng, kadang bihun goreng, sekali pernah ada soto kuning, sesekali ada goreng kentang, tumisan sayur (setiap hari), selalu ada bubur (bergantian kacang hijau, sumsum, ayam), always tersedia varian kerupuk, well, thats all.

Ketiga vegetarian. Uhm, jika kamu vegetarian, jangan khawatir datang ke Fave, kamu akan hidup di sana. Menurutku bahan salad untuk vegetarian lumayan segar. I mean should i say sangat segar? Even sadly buah-buahan everyday always semangka, melon, dan pepaya. -_-

Oh, ada lagi deng. . . kamu bisa memilih aneka olahan telur yang memiliki stand sendiri dan bisa kamu nikmati selagi panas (langsung bikin). Diantaranya omelet, telur dadar, telur ceplok, atau bahkan telur rebus.

Nah, kembali ke malam sebelumnya sebelum saya mengetahui tentang breakfast.^^

Yeah. . . sejujurnya bertemu dengan dia sedikit ajaib.

No no no no, not ajaib semacam falling in love or someting. Its like ajaib saya merasa (bagaimana dengan dia?) seperti sudah mengenal dia seumur hidup saya.

Sama sekali jauh dari awakward, kami sangat banyak tertawa malam itu.

And guess what, , , dia membawakan saya sosis, coklat, dan bunga^^

Thankiyu RF untuk bunga pertama dan still the only one yang aku terima sejauh ini:)

Ah, sumpah biasanya seorang Vallen mengalami PMS akut, malam itu berakhir indah dan penuh tawa. Tidak ada tanda-tanda PMS.

Bangun pagi, sekitar jam 9-an, kami langsung turun sarapan, fuck, ternyata sarapan hanya sampai 10.30. Yeah, kami turun memang di sekitar jam itu. Orang-orang sudah pada beres-beres.

Setelah sarapan singkat, kami naik kembali ke atas, melanjutkan tidur (kalau enggak salah), soalnya dia capek, saya capek, dan tidak memiliki waktu terlalu banyak untuk keluar karena besoknya saya ada ujian.

Akhirnya, kami hanya diam bermalas-malasan di kamar, sambil saya belajar sesekali, dia melihat dan bertanya beberapa hal menemani saya belajar, dan kami makan malam dengan roti isi daging dan minuman dari starbuck.

Kesimpulan akhir>>>

1. Entah kamu di tipu atau apa pun, jika kamu merasa bahagia dengan semua itu, itu tidak masalah.

Seperti kejadian yang saya alami di atas.

Saya ikhlas, saya memandang itu sebagai sebuah tindakan meneruskan rantai kebaikan yang saya dapatkan dari bapak baik hati di bandara. Semuanya terasa baik-baik saja, malah membahagiakan.

2. Greeting pertama, hmm, sepertinya tidak usah memasukan sebuah kecupan di sana. Cukup pelukan!

3. Fave Hotel dari sisi ruangan, sejauh ini fine, saya beri bintang 3 dari 5. Makanan 2 dari 5. Pelayanan dan sarana penunjang lain? Ikuti saja episode selanjutya!^^

PS: Komentar tentang Fave Hotel berdasarkan obsevasi selama 8 hari menginap di sana.

Advertisements

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s