Kapan Tepatnya Kita Harus Minta Maaf?

https://i0.wp.com/cdn.morguefile.com/imageData/public/files/j/jclk8888/01/l/1422375508ft5t9.jpg

Via Morguefile

Dulu di awal kuliah tepatnya semester 1 dan 2 seluruh mahasiswa IPB tidak terkecuali di suruh tinggal di asrama. Tidak terkecuali termasuk princess Vallendri. Di sana saya sekamar dengan tiga orang lain. Pertama Aisyah yang berasal dari Surabaya, kedua Atikah yang berasal dari Depok, dan ketiga Faryn yang berasal dari Bengkulu.

Kami memiliki hubungan yang sangat indah dan bahkan saya merasa itu adalah tahun terbaik di kuliah karena ada mereka. Ada Aisyah si mamah tiri yang mengajarkan saya banyak hal termasuk untuk tidak mencampur baju dan sepatu saat merendam mereka, ada Atikah yang sama sama gila dan di urus yang memperkenalkan saya dengan Prambors radio, dan juga Faryn yang lembut hati dan selalu tersenyum.

Namun dari sana pula saya mulai ingin mengatakan ini. Bahkan sudah pernah saya katakan pada Faryn nya.

Jangan meminta maaf untuk hal yang tidak seharusnya kamu minta maaf.

Misalnya begini;

  1. Dia mengambil tempat sabun dan tempat sabun kamu yang letaknya berdekatan dengan tempat sabun dia tersenggol. Kamu melihat hal itu, dia minta maaf.
  2. Tempat tidur kamu dekat dengan terminal untuk mencharge, dia mengcharge handphone dan menaruhnya di atas kasur kamu. Dia minta maaf.
  3. Tersenggol dikit. Minta maaf.

Pokoknya banyak maaf maaf lain yang menurut saya pribadi terasa ‘ganjil’. Dan tidak seharusnya.

Well, setidaknya inilah dua alasan kenapa saya tidak ingin orang meminta maaf sepuluh kali sehari:

  1. Kami berteman bukan? Bukankah dengan selalu meminta maaf untuk hal kecil seperti itu menandakan kamu masih sangat segan? Benarkah kita sudah berteman dekat?
  2. Saat kamu meminta maaf dengan tulus untuk yang seharusnya kamu minta maaf, saya akan sulit merasa bahwa maaf kamu itu spesial dengan kata maaf yang selalu keluar dari mulut kamu itu selama ini.

Bagaimana menurut kalian??? Apakah saya yang keliru dan harus mengubah mindset? Atau apakah saya harus mengganti judul postingan ini dengan meminta maaflah bahkan untuk sekedar bernafas?

Advertisements

One thought on “Kapan Tepatnya Kita Harus Minta Maaf?

  1. Elisa

    Untuk kasus pertama menurutku wajar dia minta maaf. Kasus kedua mungkin maksudnya minta izin, karena biar gimanapun itu wilayah kamu. Kasus ketiga, hmm menurutku juga nggak salah dia minta maaf. Mungkin dia mmg segenan orangnya, atau nggak gampang buat buka diri sama orang lain, dengan kata lain dia tidak merasa sedekat yang kamu rasakan sehingga dia masih merasa segan. IMO ya. Atau diomongin aja kalau merasa itu perlu diomongin 😄

    Liked by 1 person

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s