Can It Be Different?

Aku melangkahkan kaki ku menyusuri jalan berbatu itu. Jalan yang sering ku lalui dulu. Jalan ku menuju ke sekolah, jalan ku bermain ke sungai Barito, jalan ku berangkat ke New York 29 tahun yang lalu.

Aku dulu tinggal di desa pedalaman Kalimantan ini. Orang tua ku adalah petani penyadap karet, sampai suatu ketika mereka berpulang karena penyakit mengenaskan itu. Aku juga hampir saja. Beruntung, aku selamat. Namun tidak pula bisa di katakan beruntung waktu itu, aku pulang ke rumah tanpa siapa-siapa. Aku berduka setengah mati dan nyaris mati.

Aku hidup sebatang kara dengan belas kasihan para tetangga hingga suatu ketika seorang traveler dari New York menemukan ku.

Aku tidak ingat jelas bagaimana detail-nya, tapi dia membawa Sasha kecil ke kota penuh lampu dan gedung setinggi langit  yang belakangan ku kenal sebagai New York.

Ayah angkat ku Arnout adalah pria Belanda yang bekerja sebagai penulis dan berbasis di New York. Dia menemukan ku waktu itu di dalam perjalanan nya mencari inspirasi untuk buku baru nya.

Buku baru dari sisi negara dunia ketiga.

Katanya ia terbius oleh mata hitam gadis kecil dengan wajah tirus karena kelaparan itu. Waktu itu dia sudah 44 tahun dan tidak memiliki siapa pun, jadi dia merasa aku adalah kiriman Tuhan untuk dia jaga.

Dan dia benar-benar menjaga ku. Tidak hanya menjaga, dia juga menyekolahkan aku di sekolah yang benar-benar bergengsi. Columbia University. Dan sekarang aku memiliki gelar master dari sana.

Enam hari lalu aku meminta izin menengok makam kedua orang tua ku, dan dia langsung menyetujui dengan syarat aku berhati-hati.

Puncak dari persetujuan nya itu adalah dua hari yang lalu aku terbang dari New York.

Aku terbang ke Jakarta. Duduk di pesawat sekitar 16 jam dan ditambah menunggu transit sekitar enam jam di dua tempat. Lalu di tambah lagi aku terbang dari Jakarta ke Banjarmasin selama satu setengah jam, naik bis enam jam dari Banjarmasin. Jadi aku baru berjalan di kampung halaman ku sekarang, 41 jam dari detik keberangkatan ku.

Anak-anak berkulit cokelat tanpa baju berlarian di jalan berbatu. Ah, mereka juga tanpa alas kaki.

Aku melambai ke arah mereka dan mereka berlari menjauh sambil tertawa.

Aku merentangkan tangan menghirup udara tanpa polusi ini. Sulit menemukan yang seperti ini di New York.

Lumayan jauh aku berjalan membelah perkampungan kecil itu sampai rasanya kaki ku nyaris tanggal.

Aku membuka tas selempang ku dan duduk di atasnya mengistirahatkan diri di tepi jalan.

Beberapa orang mengamati ku dengan mata yang tak terbaca. Mungkin mereka menyangka aku penjahat? Orang tersesat? Atau mungkin artis? Hey Sa, kegilaan mu muncul lagi!

Aku hanya menyunggingkan senyum saat pandangan kami bertemu, lalu mereka pasti akan mengalihkan pandangan tanpa sudut bibir terangkat 0.1 cm pun.

“Maaf nona.” Seseorang dengan bahasa Indonesia menyapa ku. Aku tidak mengenal bahasa Indonesia sampai enam hari yang lalu aku mempelajari nya otodidak setelah Arnout mengizinkan aku kemari.

“I-ya? Di ma-ap ken” aku mengucapkannya dengan sedikit terpatah dan aneh. Kening pria muda itu berkerut. Sepertinya dia lebih muda beberapa tahun dariku. 24-28 tahun mungkin?

“Baik.” Dia terlihat memikirkan sesuatu. “Ada yang bisa saya bantu nona?”

“Oh ada.” Aku terdongkrak dari duduk ku, dia menawarkan bantuan. Ah, aku suka negara dunia ketiga. Orang New York tidak akan menawarkan bantuan kepada wanita yang duduk di atas tas nya di tepi jalan. “Kau bisa tunjukkan hotel padaku?” Aku masih berbicara dengan lambat dan ter patah-patah.

“Hotel?” Tulisan ‘aku bingung’ muncul di dahi nya.

“Iya, hotel. Tempat sewa kamar.” Aku sambil menggambarkannya dengan tangan ku. Ha! Kau terlihat seperti menanyakan box makanan mu yang hilang Sa.

“Saya mengerti.” Ia mengangguk. “Hanya saja maksud saya bagaimana mungkin anda menanyakan hotel di desa seperti ini?”

“Can you make it a bit slowly? I can’t understand.”  Aku lupa bahwa aku mengatakan itu dalam English yang juga secepat kereta api.

Ia mengangguk setelah terlihat bingung beberapa saat. Bagus. Bukankah English adalah bahasa dunia? Jadi seharusnya seluruh dunia bisa. Aku tersenyum pada diri sendiri.

“Di sini tidak ada hotel.” Ia sepertinya sangat bangga dengan bahasa ibu nya. Hey Sa, itu bahasa ibu mu juga! Oh iya. Aku hampir lupa.

Aku menunduk sedih. Bagaimana mungkin aku harus kembali ke hotel ku di kabupaten sekarang?

Butuh empat jam naik kendaraan semacam van kecil tapi dengan pintu terbuka ber-cat biru dan kursi memanjang di dalamnya bernama angkot, lalu lebih dari tiga puluh menit naik kendaraan yang namanya becak, aku baru melihatnya di sini. Bagaimana aku melakukan perjalanan empat jam setengah itu di malam hari di tempat asing ini?

Ini memang kampung halaman ku. Tapi kampung halaman pun agak menakutkan setelah kau tidak berada di sana selama 29 tahun.

“Kau dari mana nona? Kedengaran nya bukan dari daerah ini, atau bahkan negara ini.”

Si pria muda yang terlihat lebih putih dari semua orang yang ku temui di desa ini bertanya.

“New York. Dan aku menginap di Ampah.” Aku memberitahu nya.

Ia Nampak terkejut. Ku maklumi saja karena aku akan terkejut pula jika aku di posisi nya.

“Kau bisa menginap di tempatku jika kau mau.” Ia mengatakan sambil menoleh ke arah lain.

“Bagus. Tunjukkan jalan. Aku akan menginap untuk beberapa hari, boleh?” Ia terperanjat.

“Kau langsung menerima begitu saja? Tinggal di rumah seorang pria?” Aku bingung mengapa itu masalah.

“Ada yang salah dengan itu?” Aku bertanya bingung.

Eh elah-elah ni, aku pakaitung hanyu sah ulun Amerika.—lupakan saja, aku lupa kau orang Amerika.” Dia mengatakan dalam bahasa Dayak. Bahasa masa kecil ku. Aku tidak mengenal bahasa Indonesia semasa kecil. Itulah kenapa aku baru pertama kali belajar bahasa Indonesia enam hari lalu.

***

Aku baru saja selesai mandi. Air nya sangat dingin. Tidak ada penghangat air di rumah Juli. Ya, nama pria lokal itu adalah Juli. Dia ternyata bukan penduduk asli desa ini. Dia hanya guru dan di tugaskan di sini.

Besok aku akan langsung ke makam ayah dan ibu. Aku sangat merindukan mereka sekali pun aku sudah tidak ingat lagi bagaimana rupa mereka. Sedihnya tidak ada foto untuk mengganti otak ku yang payah ini.

Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh waktu setempat. Suara agak gaduh terdengar dari ruang tamu. Rumah ini kecil, jadi suara sedikit pun sudah menggelegar ke seisi rumah.

Perlahan aku mengintip ke luar ruangan. Aku melihat Juli sedang menghantam kan tangannya ke dinding, lalu seorang gadis muda sedang menangis di sofa. Ada apa?

Apakah wanita itu hamil?

Tapi gadis itu lebih terlihat seperti murid nya, daripada pacar. Apakah dia menghamili muridnya sendiri? God! Pria berengsek.

“Tapi ibu sama bapak menghendaki itu semua.” Isak si gadis tersebut.

Apakah orang tua gadis itu meminta Juli menikahi anaknya yang hamil? Ha, itu permintaan egois, bagaimana mungkin kehamilan menjadi alat pemicu pernikahan? Tapi sedikit ku mengerti, mengingat enam hari lalu aku ada membaca tentang budaya Indonesia. orang di sini tidak membesarkan anak tanpa suami.

Aku menajamkan telinga ku untuk menyerap kata-kata mereka. Shit! Kenapa tidak dengan bahasa dayak saja? Aku mengumpat.

Tak banyak yang aku mengerti dari pembicaraan mereka selama lebih dari setengah jam tadi. Aku hanya melihat si gadis keluar dengan berhamburan air mata., dan juli jelas sangat kacau. Aku juga mendengar kata ‘nikah’ di sana.

***

Keesokan harinya, Juli termenung di depan TV.

TV empat belas inci itu terus menyala sementara pandangan Juli kosong ke depan. Pikirannya kelas mengudara entah ke mana. Aku menekan tombol off di remote control.

“Kenapa di matikan?” Akhirnya wajah kusut itu kembali di tempati pikiran.

“Kau bisa bercerita.” Aku memulai. “Aku kenal banyak dokter hebat, dan mereka biasanya tidak pernah gagal jika kau mau.” Aku memberitahu.

“Dokter?” ia terlihat bingung.

“Untuk menggugurkan.” Kata ku.

“Menggugurkan apa?” katanya, aku tertawa dia berusaha merahasiakan itu.

“Aku mendengar kalian tadi malam.” Aku memukul tangan nya penuh pemakluman. “Kau bisa jujur denganku sekarang.” Aku tersenyum padanya.

“Ahh,, kau mendengarkan?” Ia kembali sangat kusut. “Maaf untuk itu.” Ucapnya.

“Eii,, tidak perlu meminta maaf. Aku juga sering melakukannya.” Aku mengedipkan mata.

Wajahnya berubah agak cerah. “Benarkah?” Ucapnya.

Aku mengangguk.

“Kalau begitu bagaimana kau menangani orang tua mu? Ku lihat kau masih belum mengenakan cincin kawin sampai sekarang.”

“Tentu saja.” Aku mengangguk bangga. “Kau hanya harus jujur pada mereka, dan menangani masalah mu sendiri dengan baik, lalu berhati-hati setelahnya.” Aku kembali berkedip. Sa? Ada apa dengan mata mu?

“Benar.” Ia bangkit berdiri seakan memiliki semacam ide untuk memberi makan seluruh pengemis di dunia. “Kana hanya harus jujur pada orang tuanya. “ Ohh,, jadi nama gadis itu Kana. . .“Mereka pasti mau menunggu, setidaknya sampai dia lulus SMA. Sebentar lagi ujian nasional dan Kana akan lulus.”

“Jadi kau tetap akan menikahinya saat lulus SMA?” Aku sedikit bingung di sini. Apa beda nya sekarang dan lulus SMA nanti? Dan bukankah kelulusannya sebentar lagi? Seingat ku dia baru mengatakan itu beberapa detik yang lalu.

Ia menggeleng cepat. Bahkan tangannya ikut menggeleng.

“Bukan aku yang akan menikahinya Sa.” Ia menjelaskan.

Lalu aku hampir pingsan di tempat setelah ia menjelaskan.

Kana di paksa menikah dengan pria yang lebih tua 26 tahun darinya dengan alasan meringankan beban keluarga. Keluarganya yang miskin tidak mampu lagi menanggung Kana, dan pria lebih tua yang sudah pernah menikah dua kali itu menawarkan diri menggantikan tugas kedua orang tua nya.

Semakin miris mengingat usia Kana saat ini baru 14 tahun. Perkiraan ku sekitar 16 meleset.

Dan Juli mengatakan itu bukan kali pertama kejadian mengerikan ini terjadi. Kana adalah muridnya yang ke sekian kali yang keluar dari bangku sekolah SMP.

“Itu sudah biasa di desa ini.” Kata Juli. Aku melihat air bening di pojok mata nya.

Aku mengerti perasaannya. Aku mengerti. Bahkan ketika aku tidak mengenal Kana, tapi aku mengerti dari air mata nya semalam.

Aku tiba-tiba teringat Arnout yang selalu mengatakan ingin menimang cucu dan mendesak ku menikah atau hamil dan melahirkan anak. Sekarang aku sudah 35 tahun dan aku masih belum rela meninggalkan masa lajang ku. Bagaimana Kana yang baru 14 tahun? Dia bahkan belum bisa di kategori kan lajang. Dia masih anak-anak.

Sekarang anak 14 tahun itu akan menjadi istri pria 40 tahun yang sudah menikah sebelumnya, atau mungkin beberapa tahun lagi akan menjadi mantan istri pria itu.

Tak terasa aku juga menangis menyelami tangisan Kana semalam.

Bagaimana mungkin kau bisa menikah kan anak 14 tahun dengan alasan meringankan beban keluarga?

Mengapa kau harus melahirkan mereka jika merasa mereka adalah beban?

Tak bisakah membiarkan mereka setidaknya mengecap indahnya masa muda yang ku nikmati puluhan tahun ini?

Sedikit saja lebih dari 14 tahun?

“Kanker servik dan kawan-kawan akan mudah mendatangi yang melahirkan di usia muda. Perselingkuhan sering terjadi karena kau belum puas menikmati masa muda dan berganti pasangan. Mungkin saja niat meringankan beban keluarga itu malah membuat keluarga baru yang penuh beban sama dengan keluarga awal.”

Aku ingin sekali meneriakkan paragraf itu kepada kedua orang tua Kana.

PS: Dengan sedikit improvisasi di tokoh utama, ini berbasis cerita nyata (Kana). Tepatnya ini terjadi di daerah pedalaman Bogor. Bagi saya cerita di atas cukup memilukan namun tidak ada yang bisa saya lakukan. Hanya meneriakkan nya melalui sebuah cerpen gaje.. *poker face*

Advertisements

4 thoughts on “Can It Be Different?

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s