Liburan Vallendri Secara Garis Besar

https://i1.wp.com/cdn.morguefile.com/imageData/public/files/l/lauramusikanski/12/l/1451122835ibcri.jpg

Via Morguefile

Secara garis besar, perjalanan seorang Vallendri Arnout di pertengahan tahun ini= not that great!

Bagaimana tidak, mari pertama-tama kita kembali ke satu bulan dan tiga minggu yang lalu di mana tiket pesawat saya hangus! Ya, amazing sekali kan pembukaannya? Tertinggal oleh pesawat!

Lalu sebelum pulih dari rasa penyesalan atas kebodohan diri itu, saya langsung di cecar oleh masalah yang saya ceritakan di postingan My Messy Life, Dramatic Parent, Finnaly Tell the Truth! ini yang merupakan buntut dari masalah sebelumnya.

Kemudian (sudah ada di draft) saya juga akan menceritakan detail tentang cerita saya salah membeli kartu perdana XL yang juga terjadi di minggu itu.

Ok, sudah ada tiga hal yang seharusnya tidak saya alami, bukan? I mean, I’m not even mention about gangguan pencernaan yang juga saya alami waktu itu (most of my life acctually)! *shrugs*

Tapi fine lah ya. Fakta bahwa saya sudah menaiki pesawat dan dalam perjalanan pulang untuk berlibur, sudah berhasil mengatasi beberapa kekacauan sebelumnya.

But then, saat saya sudah di dalam blue bird menuju ke terminal bus, saya menyadari bahwa saya meninggalkan sesuatu. Ecobag yang isinya adalah: botol minum, tisu basah, tisu kering, kotak makan, chargeran, dan my cute little laptop!

Can you imagine that? Saya meninggalkan dia lagi. Tapi jika sebelumnya di gramedia, sekarang di toilet bandara. Toilet bandara!

Uhuh, I know. I know. *nodded*

Tapi puji Tuhan, ternyata masih ada. Puji Tuhan saya masih mengetik tulisan ini menggunakan dia. Rezeki anak soleh memang enggak akan kemana-mana deh!^^

Tapi rupanya rezeki tersebut tidak sebesar yang saya bayangkan. Saya ternyata telah menggunakan jasa taksi liar, di mana untuk perjalanan yang hanya sekitar 4 km (sudah PP), sang supir memaksa 100.000 rupiah.

What? Ya! Begitulah taksi liar saudara-saudara. Tips kalau ke Kalimantan (Bogor juga sih, kudu telfon ya. Yang pada mangkir di Baranang Siang itu biasanya pada liar juga.), gunakan lah jasa taksi yang langsung dari loketnya.

Dengan sedikit adu mulut yang tetap saja di menangkan oleh dia, 100.000 rupiah saya yang berharga, melayang lah sudah. Nasiiib, nasib. But hey, segelas cokelat panas dan sepotong cake tentu saja bisa menghilangkan semuanya.^^

Akhirnya, setelah lebih dari setengah jam duduk di sana sampai pelayannya bosen dengan keberadaan saya, saya kembali melenggang ria dan melupakan fakta menyedihkan yang sudah terlewati. Saya kembali di ikat oleh sabuk pengaman, namun kali ini sabuk pengaman Xenia. Ya, instead of bus like rencana sebelumnya (yang juga saya preffer), saya menggunakan jasa travel.

Travel=

Merupakan jasa angkutan antar kota di Kalimantan (entah lah di tempat lain ada enggak ya? *berpikir*) which is biasanya milik pribadi atau agen.

Mobil-mobil yang di gunakan adalah mobil-mobil menengah ke bawah seperti Avanza, Inova, Xenia, dll, namun juga tidak menutup kemungkinan jika memang menginginkan yang mewah. Harga yang di tawarkan juga beragam tergantung dengan jarak yang di tempuh. Jasa ini sedikit lebih mahal dari bus, namun jauh lebih murah dari taksi.

Kenapa saya lebih preffer bus daripada travel? Itu karena travel biasanya crowded penumpang. Syukur-syukur kalau dapat yang di depan, kalau bertiga di tengah, atau berdua di paling belakang, kan risih?

Anyway, keberuntungan pas-pasan, saya kebagian kursi yang di tengah whic is membuat saya harus duduk sempit-sempitan di sana.

Ok, mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa saya tidak di jemput oleh kedua orang tua saya. Iya, kan?

Nah, pemirsa, jarak dari rumah ke bandara itu kurang lebih 480 km dan membutuhkan waktu sekitar tujuh jam jika mengingat Papa dan saya (yang bisa jadi menyetir saat pulang) tidak berani menginjak gas lebih dari 80 km/h. Tujuh jam itu minus makan lho ya.

Lebih mendingan mana, naik angkutan umum atau mobil pribadi? Sekali pun mengabaikan fakta bahwa kesehatan Papa tidak maksimal dan Mama tidak bisa menyetir, tetap saya naik angkutan umum adalah pilihan yang lebih logis. Am I right or am I right?

Well, singkat cerita, sekitar jam 00.42 WIB, saya baru saja melepas pelukan Mama, Papa, dan kedua adik saya. Saya ingat sekali jam nya, karena mereka meremas badan saya itu, di depan pintu, di mana langsung mengarahkan pandangan saya ke jam dinding.

So far, worth it, kan?

Yes. Saya sangat happy sampai dua hari kemudian, beberapa bintik merah yang gatal timbul (again, this happened everytime). Entah lah saya lupa apakah saya pernah menceritakan di sini tentang kegilaan alergi saya yang timbul hampir setiap kali saya datang ke suatu tempat baru. I mean with tempat baru is: tempat yang lama tidak saya datangi (dalam kasus kali ini, enam bulan).

Dengan pengalaman yang sudah sering, tentu saja saya memiliki persiapan. Loratadine yang jarang di tinggalkan, kemudian tidak mengaplikasikan hal hal kimiawi (lotion) ke tubuh, serta mandi menggunakan sabun bayi semua saya lakukan. Saya benar-benar mengikuti saran dokter. Hanya saja, loratadine memang baru boleh di konsumsi setelah ada gejala alergi nya.

Guys, sekarang saya sudah tidak bisa lagi memakai hotpants atau minidress untuk sementara waktu sampai bekal alergi saya menghilang. We dont even talk about bikini, are we? *crying*

Kemudian, bahkan sebelum alergi saya sembuh, ada bintik kecil lain yang kali ini tidak hanya gatal, tapi juga sakit, muncul di paha saya.

Lho, kok bintiknya ber-air kegitu sih? Kok mirip bintik herpes yang timbul di kulit saya saat saya pertama kali datang ke IPB empat tahun yang lalu, sih? Saya sudah terkena cacar air kelas 11 kemarin, dan herpes zoster semester satu kemarin, tidak mungkin datang lagi, kan? Saya pernah membaca di internet bahwa cacar air tidak akan bisa datang dua kali. Tapi untuk kasus khusus di mana daya tahan tubuh seseorang sangat lemah, dia bisa terserang herpes zoster. Tapi, tidak bisa dua kali. Dan dua hari yang lalu, dokter Wayan juga bilang kalau bintik-bintik ini hanya alergi biasa saya yang akan menghilang setelah beberapa hari dan dapat di kurangi gejala ya dengan obat yang beliau berikan, bukan? HA HA! Tidak mungkin herpes lagi.

Tapi setelah besok nya ada terlihat ruam-ruam yang mengindikasi akan terbentuk lagi bintik lain di sekitar bintik itu, saya memutuskan kembali ke dokter untuk meminta kejelasan akan hubungan ini.

TADANG!! Selamat! Saya mendapat kasus khusus di mana saya terserang herpes lagi. LAGI!

Thanks! Thanks a whole lot! *rolling eyes* Sejujur nya alergi jauh lebih baik dari herpes. I mean alergi saya yang biasa enggak sepaket dengan demam dan sakit.

Geunde, otokhanya (Tapi, bagaimana lagi in Korea)? Just enjoy it, then. Que Sera, Sera… *wink*

Dan berkat mendengarkan nasihat dari lagu yang kata Mbah Wiki, pertama kali di tulis oleh Jay Livigston and Ray Evans dan menjadi theme song iklan Holcim di Indonesia ini, saya berhasil melewati musibah besar tersebut dan tidak jadi minum sianida. hi hi

Baru dua minggu setelah sampai di rumah, saya benar-benar fresh untuk menikmati liburan. Minggu pertamanya, kan sakit tuh. Lalu minggu kedua nya, ribet masalah bekas herpes dan alergi. Itulah kenapa dua minggu.

Di minggu ketiga, kenapa saya fresh kembali, itu karena minggu itu adalah minggu di mana pernikahan sepupu saya di laksanakan.

I mean, Mama dan Papa tentu saja akan sewot jika saya tidak mau menghadiri pernikahan tersebut. Dan pula, dia tidak hanya sekadar sepupu, tapi juga sahabat saya. Sangat tidak logis jika saya tidak datang ke hari bahagia dia. Plus, wajah saya puji Tuhan, bebas dari alergi maupun herpes. Yang penting saya enggak pakai bikini atau pun telanjang bulat, enggak ada masalah.

Oh iya, saya sudah menyinggung tentang keluarga saya yang baru pindah rumah belum sih?

Nah ceritanya, di rumah yang sebelumnya itu di belakangnya di bangun sarang walet. Berisik banget, kan… Jadi akhirnya entah bagaimana, saya juga baru tahu kemarin pas pulang, ternyata kedua orang tua saya memutuskan bahwa mereka lebih baik memiliki rumah baru.

Lalu setelah pindah ke rumah baru, rumah lama nya mau di bakar? Tidak! Melalui perhitungan ekonomi yang jeli dan penuh pertimbangan, akhirnya di putuskan lah bahwa rumah tersebut akan di sewa kan.

Siapa yang mau tinggal dengan suara walet menggema selama 24 jam? Entah lah! Yang pasti begitulah keputusan yang sudah orang tua saya putus kan waktu bahkan sebelum saya pulang ke rumah.

Untuk menarik penyewa, maka di lakukan berbagai hal di rumah tersebut. Remodeling yang in this case adalah cat ulang dan sedikit penataan di garasi, penambahan kamar mandi, dan juga pembuatan sumur bor (supaya lebih irit daripada membeli air).

Kalian harus tahu guys, bahwa di minggu-minggu awal di buat, sumur bor harus dinyalakan setiap beberapa jam, tapi tidak boleh continue. Jadi intinya itu harus dinyalakan selama beberapa saat, kemudian dimatikan lagi, lalu nantinya dinyalakan lagi. Bagi yang mesin penyedot airnya pakai sensor, selow aja kan. Tapi yang enggak, ya manual. Yang kami? Uhm, kasih tau nggak ya masih manual. Artinya harus ada seseorang yang menyalakan dan mematikan mesin tersebut secara teratur.

Anggota keluarga kami terdiri atas saya, Papa, Mama, Ev, dan Jay… Papa? Kerja, tentu saja. Mama? Uhm, yeah sometime kerja juga. Ev dan Jay? Tentu saja sekolah! Lalu yang free dan memiliki waktu luang untuk melakukan tugas menekan sakelar mesin air siapa? Ofcourse me! Miss Vallendri yang sepaket dengan bekas bintik-bintik merah yang mulai terlihat menghitam di sekujur tubuhnya. Karena, Miss Vallendri yang mulus pastinya sudah entah di mana.

Selama beberapa waktu, tugas simpel tersebut berhasil saya kerjakan dengan baik. I mean, menekan air lalu menunggu sebentar, dan di sana juga masih ada TV, not that hard. Sampai kemudian…

Di hari pernikahan sepupu saya, saya berencana untuk datang sendiri, besok nya, enggak bareng sama keluarga. I mean mereka berangkat lebih awal, dan saya sama sekali tidak memiliki gairah untuk berangkat lebih awal dengan cacat di tubuh saya. Tapi kemudian, saat saya sedang berada di rumah lama untuk melaksanakan tugas, Mama nelepon dan insist bahwa saya akan berangkat bersama mereka.

Keputusan yang mereka buat atas diri saya tersebut yang membuat saya sangat kesal dan lupa untuk mematikan mesin air sebelum saya pulang. Dan hal itulah yang menyebabkan mesin air hidup selama tiga hari kami menghadiri pernikahan sepupu saya.

Guys, bertambah satu hal lagi yang membuat orang tua saya semakin cemas dengan saya yang sudah dewasa ini. Satu hal lagi yang menjadi alasan mereka memperlakukan saya seperti gadis kecil berusia lima tahun dan mengontrol hidup saya.

Memang abstrak sih bagaimana bisa saya tidak mengingat sama sekali tentang fakta itu selama tiga hari. Kalau misalnya saya ingat kan bisa telepon tetangga untuk meminta bantuan mereka mematikan KWH.

Di tambah dengan mereka mengungkit masalah ketinggalan pesawat, mereka tidak bisa mengelak dari gelar kill joy.

Lalu sekali pun Mama sama Papa adalah kill joy, kedua adik saya tetap adik yang terbaik. In fact, entah bagaimana saya merasa bahwa di kepulangan saya kali ini, kedua adik saya semakin nyambung dengan saya. Kita main game, kita nonton bareng, kita becanda bareng, kita mendiskusikan masa depan bareng, dan kita juga main kartu bareng.

Sayangnya, kebersamaan kami yang terakhir itu, bukanlah jenis kebersamaan yang di setujui oleh Mama saya. Dia sama sekali tidak suka anak-anaknya rame main capsa banting (begitulah nama permainan yang kami mainkan).

Setelah peringatan untuk berhenti di berikan berturut-turut dan tidak kami hiraukan, di suatu ketika Mama datang menyerbu ke dalam kamar adik saya (di mana kami main kartu), dan seperti orang gila merobek-robek kartu kami.

What? Ya! *rolling eyes*

Mama sangat marah, dan kami tersakiti. Entah bagaimana, dari mulut saya, keluarlah sebuah kalimat yang sangat tidak pantas di katakan; I hate this house.

Adik saya meng-acc dan kami bertiga mogok berbicara hari itu. Sampai makan malam pun kami tidak keluar-keluar dari kamar masing-masing. I bet they play games, dan saya belajar TOEFL Preparation.

Di saat itulah Mama saya menangis dan mengatakan bahwa dia sudah tidak sanggup lagi mengurus kami. Dia berharap Tuhan mengambil saja dia dari dunia karena memiliki anak yang tidak bisa di urus seperti kami bertiga adalah hal yang lebih menyakitkan dari kematian.

Guys, waktu itu saya rasanya benar-benar jengkel dengan Mama saya, tapi membuat dia menangis?

No! Saya tidak menakutkan hal semacam kutukan atau semacamnya. Saya juga tidak berpikiran masalah dosa atau hal lain. Saya hanya tidak menyukai fakta bahwa Mama sedih dan menangis. Titik. Itu saja. Apa pun penyebabnya, terlebih, saat saya turut bertanggung jawab di sana.

Hal lain yang membuat liburan saya tidak sesuai rencana adalah; Nenek dan Kakek (dari Mama, dan tinggal dua-duanya yang masih hidup) saya pisah rumah saudara-saudara. Sehingga saya harus mengunjungi mereka masing-masing tiga hari secara bergantian which is mean menghabiskan satu minggu lain without ‘me time’.

Dan pulang dari rumah Nenek, saya mendapati fakta yang sudah saya ceritakan di Back! Back! Back! Back! kemarin; saya melewatkan panggilan wawancara untuk pekerjaan impian saya.

Setelah membaca sekilas cerita di atas, bagaimana menurut kalian? Apakah setuju dengan label ‘not that great’ seperti yang saya tuliskan di awal?

By the way, bagaimana liburan kalian?

Hug, love, and kisses xoxoxoxo

Vallendri Arnout

Advertisements

2 thoughts on “Liburan Vallendri Secara Garis Besar

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s