What’s Going On? Why You Absent For Days?

https://i2.wp.com/cdn.morguefile.com/imageData/public/files/d/dawnwillow/09/l/1411743262xr6al.jpg

Via Morguefile

Ok, what I mean with ‘days’ actually isn’t that plural. I mean yeah it is plural. But, you know, not that highly extreme bad evil zonk plural because I actually absent just for 5 days I guess.  But whatever. The thing is, di Ehem! Ehem! Ehem! Ada Yang Beda Lho…^^ saya sudah berjanji untuk terus berkomitment dalam menulis, dan nyatanya *shrug* saya menunjukkan tanda-tanda bleh!

What happened? Ada apa dengan target menulis setiap hari yang harusnya saya lakukan sesuai dengan tips menulis yang saya pelajari entah lupa dari mana?

Guys, I’m stressed. I um, yeah, stressed. I GOT A LOT OF STRES from my parent that I hardly focus on things.

Guys, di postingan Liburan Vallendri Secara Garis Besar saya memang sudah berkeluh kesah panjang lebar tentang kegilaan liburan saya yang di hiasi alergi and stuff.

Ya, itu memang menyebalkan, tapi tidak membuat saya stres juga sih. I mean, bekas luka bisa hilang, dan sebenarnya tidak sebanyak itu juga guys. Saya nya saja yang terlalu over dalam menanggapi. Banyak yang lebih buruk. So, mengenai itu, kicauan saya sebenarnya jauh lebih besar dari perasaan yang saya alami sesungguhnya. But this problem, make me feel sangat stres. Like really really hampir gila stres.

Waktu liburan kemarin guys, orang tua saya menanyakan tentang apa yang ingin saya lakukan setelah lulus kuliah. I mean they actually sering menanyakan itu, tapi biasanya tidak se-serius yang waktu liburan kemarin. Saat di tanya dan saya menjawab ‘ingin menjadi penulis’ mereka hanya akan berkata ‘oh benarkah? wartawan? kenapa wartawan? tidak tertarik yang lain? tapi sudahlah, yang penting lulus saja dulu. yang penting kamu bahagia, mama sama papa akan melakukan apa pun’. And yeah, tidak ada perdebatan lebih lanjut dan saya berpikir kalimat terakhir tersebut sudah cukup mewakili pernyataan tak terucap bahwa mereka akan mendukung saya menjadi seorang wartawan jika itu membuat saya bahagia.

I mean saya tidak memiliki jaminan bahwa saya akan berbahagia jika saya menjadi seorang penulis, tapi sampai saat ini, hanya menulis dan apa pun yang berhubungan dengan buku lah yang membuat saya bahagia. Dan apa sih di dunia ini yang memiliki jaminan dan garansi? Lazada? Zalora?  *rolling eyes*

Waktu liburan kemarin, saat saya masih menjawab hal sama, Mama dan Papa muncul dengan berbagai pertanyaan yang menyebalkan. Seperti berapa gaji yang akan saya terima. Bagaimana jaminan keberlangsungan pekerjaan itu. Bagaimana tanggapan dan masa depan pekerjaan itu di kaitkan dengan kehidupan yang akan saya jalani di masa depan (like marriage, kids, and stuff). God, asuransi, dana pensiun, dll pokoknya banyak pertanyaan berat yang menyebalkan dan menyudutkan saya bahwa pekerjaan itu tidak menjamin, tidak worth untuk saya kejar dan impi-impikan.

Saya menjawab semampu saya, misalnya saya ambil contoh tentang kaitan pekerjaan itu dengan my marriage and kids.. Saya menyatakan pada orang tua saya bahwa pekerjaan saya sebagai writer akan berjalan berkesinambungan dengan itu.

Saya mengira bahwa pertanyaan itu mereka ajukan karena mereka khawatir saya tidak memiliki waktu untuk mengurus pernikahan dan anak nantinya. Saya pikir mereka takut jika saja pekerjaan saya itu sangat mengintervensi kehidupan pribadi saya. Jadi, saya menjawab bahwa saya bahkan sudah berencana untuk benar-benar quit bekerja dan full hidup sebagai seorang ibu dan istri setelah saya menikah nanti. Saya hanya akan menulis untuk kesenangan pribadi, semisal blog, dan tentu saja itu tidak akan terlalu mengganggu kehidupan.

Tapi ternyata di dalam impian kedua orang tua saya, mereka ingin anak mereka termasuk menyumbang 50% dari pemasukan rumah tangga dan memiliki pondasi dan jaminan kuat untuk dirinya sendiri which is sometime tidak terdapat di dalam seorang ibu rumah tangga full time. Mereka takut, jika tidak seperti itu, saya bisa jadi mendapat perlakuan yang tidak di inginkan dari suami saya dan keluarganya nanti. Mereka takut saya akan kenapa-kenapa terlebih jika mereka sudah tidak berada di dunia ini nantinya. Dan berbagai macam ketakutan lain.

Oh fuck guys, I know, mungkin tulisan ini agak sedikit random dan enggak sinkron sama yang sudah saya tuliskan sebelumnya di Chit-Chat Tentang Keperawanan ini, di mana saya mengatakan bahwa pilihan aman adalah untuk hidup independent dan sangat jauh sekali dari urusan menjadi ibu rumah tangga.

God, guys, begini lho. Itu pilihan aman yang tentu saja akan saya lakoni sampai saya puas dengan pilihan aman itu. I mean on my plan, I will live like that, and enjoy my freedom till like early 30s. Intinya sebelum 30 saya benar-benar akan bereksplorasi dan gila-gilaan sehingga target saya di umur 30 tahunan, saya sudah bosan dengan hidup gila, dan siap melepas semuanya untuk sebuah komitmen serius dan settle down.

Shit, such a big  fat dream isnt it? Yeah I know. Thanks for the best luck you gave to me. I needed that in this case:)

Rencana kedua sih memang iya, seperti yang saya bicarakan di postingan itu, saya tidak masalah jika impian saya tidak tercapai. Saya juga tidak sepositif itu dengan impian saya.

Tapi bagaimanapun jadinya hidup saya nanti, saya tidak ingin menjadi seorang pegawai negeri di kantor Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Barito Timur, sekaligus pemilik beberapa CV yang mengerjakan proyek-proyek yang di keluarkan oleh instansi tersebut. Atau pun menjadi seorang guru dan masih juga sebagai seorang kontraktor.

The thing is, my parent want me to work with government because they wat me to have this fixed income till I die (even after as long as my kids not married yet), plus develover job so I can bred my money.

Papa pengen nya di Barito Timur karena konon katanya beliau masih memiliki taring di sana, dan kebetulan tidak di tempat lain.

Anyway ceritanya begitu dan itu tidak terlalu mengganggu saya sebenarnya, sampai lima hari yang lalu Mama mengirim pesan yang berisi tawaran pekerjaan lain.

20160812_194932

Itu bahasa Dayak Maanyan yang mengatakan bahwa saya harus mengecek email yang di kirimkan oleh Om saya yang berisikan lowongan pekerjaan di Kementrian Desa Kabupaten Barito Timur lengkap beserta bocoran gaji yang ditawarkan yaitu sekitar lima jutaan.

Gaes, Mum and Dad, obsses with me.

Mereka mencarikan saya pekerjaan, mereka membelikan saya rumah, mereka mengurus setiap detail hidup saya, dan ITU MEMBUAT SAYA STRES.

For heaven sake, saya bukan anak tunggal. Saya memiliki dua adik di bawah saya yang juga mereka pikirkan. Dan keluarga saya juga bukan keluarga milyuner atau sebagainya, tidak ada alasan bagi mereka untuk membelikan saya rumah tanpa persetujuan saya.

Mereka adalah orang tua yang paling tidak mengerti anaknya. I mean kadang mereka bisa menjadi orag tua paling demokratis dan pengertian sedunia, tapi untuk beberapa kasus, mereka menyebalkan.

Guys, I’m stressed belakangan ini. So, begitulah bagaimana saya masih belum berbagi tentang seseorang yang ‘melamar’ saya, tentang pertemuan saya dengan sahabat lama saya, tentang bagaimana saya berjalan keliling Bogor untuk menghilangkan stres, dll.

Well, sekali pun semakin enggak jelas saja tulisan yang saya posting, jangan minggat ya^^

Hint for my next post: light kissing in a public area:)

20160815_215255

Sorry di sensor, takut di blokir KPI soalnya…

Love You<3

 

Advertisements

17 thoughts on “What’s Going On? Why You Absent For Days?

  1. Jangan sampai stress Vall, nikmatin aja dulu apa yang bisa kamu nikmatin. Fase ‘dikejar-kejar target’ sama ortu itu seperti kutukan terhadap orang yang pernah menjadi mahasiswa deh hehehe..

    kalau kamu yakin sama yang kamu mau, be a full time wife, journalist and whatever you want, berarti usahamu harus keras untuk buktikan ke papa dan mamamu bahwa anak mereka akan baik2 saja nantinya..

    Dan sperti ortu kebanyakan, aku yakin ortumu mau kamu mendapatkan yang terbaik. Apalagi seorang ayah, gak akan rela kalo anak gadisnya kenapa-napa.. good luck

    Liked by 1 person

    1. He he iya makasih Sti..

      Aku akan benar-benar bekerja keras untuk lepas dari kutukan ini…. he he

      He he rasanya sih yakin Sti.. kerja dan gila-gilaan sampe umur 30, lalu setelah itu jadi full time housewife. Dan sekalipun bukan ini, pastinya bukan pegawai negeri juga. Dan bukan anak yang mobil dan rumahnya di beliin orang tua….^^

      Like

  2. Ini mirip waktu awal2 lulus kuliah, ditanya ortu mau kerja apa, saya blg mau freelance.. Lalu diceramahin dengan yaa Mirip2 sama yg ditulislah.. Tapi dengan kenekatan, sampai skrg saya masih hidup.. Heuheu

    Liked by 1 person

      1. Hi hi hi hi.. danke danke buat tips nya:) *mulai mencatat*

        Well, kita lihat saja nanti. Apakah saya bisa mengikuti kemauan saya ini dan pamer-pamer kesuksesan, atau malah menyerah pada takdir yang ada di tangan mama papa.

        Like

  3. Ya maunya orang tua kadang aneh2. Saya sih nurut aja. Lha wong dienakin. Dulu sih pingin kerja sendiri dan mandiri, tapi orang tua terlalu khawatir dengan saya. Jadinya saya diajari deh buat jualan buah di pasar. Anehnya, saya sangat menikmati pekerjaan tersebut. Walaupun kadang pilihan orang tua tidak tampak bagus, klo dijalanin nanti juga merasa senang.

    Liked by 1 person

    1. Aduh, kalo mama baca komentar ini, kak Shiq4 bisa di kelonin kayaknya.

      Hf. Jiwa ku terlalu pemberontak untuk menurut, kak. Dan aku sudah terlalu lama menunggu sampai bisa lepas dari ‘aturan’ mereka.

      Tapi terimakasih nasihatnya. Bijak sekali dan pastinya di jadikan pertimbangan:)

      Liked by 1 person

  4. winona571

    Bisa dipahami pemikiran orang tua semacam itu… Tapi kalau kitanya bisa membuktikan pilihan hidup kita, knp tidak? Errr… saya sendiri dianggap stubborn, misalnya soal karir, mau kerja dimana, pasangan hidup, etc. Menulis juga hal yang saya sukai, tapi memang jadi sambilan saja. Tetap ada karir yang lain, yang di Indonesia bisa menghasilkan uang. 🙂 Why? Karena harus bisa mensupport diri saya sendiri. Sehingga keluarga juga tidak bisa mengatur – atur hidup saya.
    Ehm, mau menikmati hal gila sebelum usia 30? Bagus!…. mendingan lah, daripada saya sendiri, baru mencoba hal – hal gila di usia 30 tahun. 😛

    Liked by 1 person

    1. Iya juga sih. Kayak kata nenek ku, yang mau bantu coba bicara, aku hanya perlu untuk membuktikannya saja pada mereka.

      Masalahnya kak Kezia, aku masih belum nemu passion di bidang lain. Ada sih kayak ngoding dikit-dikit, itu sebenernya seru menurut ku, cuman, ugh,

      Hf, doain yang terbaik deh. Semoga ada stasiun TV yang mau nerima aku:)

      Dan tentang menikmati hidup, udah baca https://pursuingmybule.com/2016/06/20/indonesia-and-self-ageism/ belon? Semangat! Usia boleh tua yang penting jiwa dan semangat kita enggak^^

      Like

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s