(Cer-bung) One Night Stand: Chapter 3

Gambar sedekah dari Pao Pao Oppa.. sumbernya dari sini

Baca dulu:

Chapter 1, chapter 2

Sinar matahari masuk dari tirai yang terbuka dan memapar wajah Lusi. Ia menggeliat namun terasa sesak dan terlalu hangat, nyaris mendekati panas. Ada sesuatu yang berat menindih tubuhnya. Membuka mata dengan malas, Lusi nyaris berteriak saat melihat tangan kekar dengan bulu keperakan sedang menangkup payudara nya dari belakang.

Matanya menjelajah ke seisi ruangan, menyelidik dan menemukan bahwa dia berada di sebuah ruangan asing unknown area.

Dimana dia sekarang? Alis nya berkerut bingung masih dalam suasana setengah sadar. Lalu penggalan-penggalan kejadian yang terekam seperti film dewasa berkelebat di kepalanya.

Pertemuan di depan McD, perjalanan di mobil, check in di hotel, hingga ke teriakan-teriakan orgasme mereka.

Oh, Hell! One night stand seharusnya berakhir sebelum matahari terbit. Apa yang mereka lakukan sekarang?

Perlahan Lusi menggeser tangan itu dari payudara nya, ia merangkak keluar dari ranjang, meraih celana dalamnya dari lantai dan memakainya di ikuti dengan pakaian lengkap lain.

Sesaat hendak keluar, Lusi berhenti di tepi ranjang mengamati Sam sejenak untuk yang terakhir kali.

God, seandainya pria ini bersedia menjadi fuck buddy atau friend with benefit nya.

Pipinya memanas melihat ereksi Sam yang pagi itu menegang lagi dan masih terbungkus kondom semalam. Mereka melakukannya beberapa kali lagi setelah yang pertama. Tadi malam adalah termasuk ke dalam malam terpanas yang Lusi miliki.

Mulutnya terbuka lebar melihat tangan Sam yang sedang tertidur terlihat seperti sedang meremas-remas. Hell, itukah yang membuatnya tidur sangat nyenyak dan berasa di surga? Remasan kecil di dalam tidur Sam? Ingin rasanya Lusi kembali membuka baju dan menuntun tangan itu ke payudaranya lagi, namun ia buru-buru menggeleng dan mengenyahkan pemikiran itu, itu gila! Dia harus pergi sekarang.

Lusi mengendap keluar dan mengutuk diri lebih banyak lagi setelah ia menerima pandangan-pandangan menyelidik dari para petugas kebersihan sampai pelanggan hotel lain akan rambut dan pakaiannya yang kusut dan tidak masuk ke golongan ‘pengunjung hotel bintang lima dengan cabang di berbagai penjuru dunia’ ini.

Terkutuk! Kenapa orang Indonesia cenderung suka mencampuri urusan orang lain dengan tampang menghakimi khas mereka itu? Lusi mengumpat dalam hati kemudian menyadari bahwa ia juga orang Indonesia dan dia juga termasuk bukan? Atau setidaknya tidak semua orang, hanya sebagian besar. Koreksinya kemudian.

Lusi bukan yang suka ikut campur kok! Dia akan berjalan lurus dan pura-pura tidak melihat, sekalipun ada wanita acak-acakan dengan tampang dapat dipertanyakan keluar hotel di pagi hari.

Lusi hampir saja bersujud syukur saat sampai di apartemennya. Ia akan masuk dan menemukan apartemen tenang karena Kinar sedang berada di Bandung, bukan berarti dia membenci Kinar berada di sini, tapi kadang akan sangat sulit menghadapi pertanyaan Kinar saat ia pulang di pagi hari dengan tampang ‘aku mengalami banyak orgasme’ seperti ini.

Ia membuka pintu dengan bersenandung kecil, menggila dengan pemikiran berendam sampai kulitnya keriput di hari minggu sambil mendengarkan music, di temani segelas anggur dari Oddbins yang baru sampai kemaren.

“Lusi, apa kau gila?” Suara melengking Kinar menyembur dengan kepala orangnya yang sedang di lilit handuk dari balik pintu.

“OH MY GOD. KAU MENGAGETKANKU.” Lusi berteriak kesal karena terkejut dan lebih karena khayalannya tadi tidak akan pernah terwujud. Tuhan, badannya benar-benar lelah dari malam panjangnya, dan ia tidak memiliki sisa tenaga apapun untuk perdebatan bodoh ini.

“LUSI?” Nada Kinar memperingatkan.

Lusi membanting diri ke sofa melewati Kinar yang sedang berkacak pinggang, “LUSI?” ulang Kinar seperti seorang ibu yang sedang menghadapi putrinya yang menginap di luar tanpa kabar semalaman.

Lusi memutar bola mata nya, Kinar melebihi seorang ibu. “Aku lelah.” Lusi menaggalkan jaketnya.

“LUSI!!!” mata Kinar menyala penuh kengerian. Lusi mengikuti arah mata Kinar dan menemukan bercak-bercak merah nyaris di sekujur badan nya. Bukti gairah dan kegilaan Sam tadi malam. Buru-buru ia mengambil jaket dan bermaksud menutupnya, namun ia memang selalu kalah cepat dengan Kinar. Sahabatnya itu telah melempar jaketnya menjauh lebih dahulu, menegakan dan menarik bahu Lusi ke arahnya, ia mengamati Lusi dengan pandangan ngeri yang dramatis. “Apakah ini ulah si bule?” Kinar tidak berusaha menyembunyikan nada sarkasme nya. Lusi ingin sekali memutar waktu, dan memperingatkan Sam di awal pertemuan agar tidak menimbulkan bekas seperti ini. Ini gila! Bahkan Lusi agak sedikit ngeri.

Tak ada gunanya mengelak dari Kinar, apalagi dengan bukti yang jelas seperti ini. Lusi akhirnya menceritakan sedetil-detilnya dan menerima lebih dari dua jam ceramah Kinar tentang bahaya STD (#sekalipun Lusi telah mengatakan dalam capslock bahwa mereka memakai kondom) dan bahaya patah hati (#meskipun dengan double capslock Lusi telah menjelaskan bahwa hubungan mereka hanya sebatas pemuasan nafsu semata dalam semalam).

Jam sebelas siang Lusi baru berhasil di bebaskan ke kamarnya. Ia telah kehilangan gairah berendamnya tadi, Lusi malah menghempaskan diri di kasur dan memilih tidur mengingat seberapa kurang tidurnya ia semalam.

*****

“Aku ingin draft untuk kasus Cherly dalam sepuluh menit.” Seorang ber-jas hitam tanpa cela menunjuk ke arah Lusi bahkan sebelum dia melepas tas di bilik nya pagi itu. well,, itu  dia Arthur Sinaga SH. Big bos nya Lusi.

Kening berkerut mengapa bos Lusi memiliki gelar SH dan mengenakan setelah hitam membosankan setiap hari? Jangan kaget, karena Lusi bekerja di sebuah firma hukum papan atas di negaranya itu, dan yang paling penting dia juga mengenakan setelan serba hitam dan simpel.

Pak Arthur memang sedikit menakutkan. Atau, bisa di lebih katakan mengerikan? coba perhatikan skejul nya dengan baik!

04.00 bangun pagi

04.01-04.10  minum dua gelas air putih, pee, and poop.

04.11-04.20  jogging di sekeliling rumah mewahnya.

04.21-05.30 membaca sekilas beberapa kasus yang akan dia tangani di hari itu.

05.31-05.40  mandi dan berpakaian.

05.41-06.00  berangkat ke kantor sambil membaca buku tambahan. (Note, beliau selalu tiba jam 6.00 am dan memanggil Lusi seperti ini, ‘Aku ingin draft untuk kasus -–#berbeda setiap hari– dalam sepuluh menit’).

06.01- 12.00  bekarja full.

12.01-12.10 makan siang.

12.11-sering lembur sampai tengah malam — bekerja.

See??? Sdikit mengerikan bukan? bagaimana mungkin seseorang hanya memiliki sepuluh menit  untuk setiap hal lain kecuali bekerja? Apakah dia hanya bercinta untuk sepuluh menit? Whoa!!

Lusi memang kadang berpikir itu mengerikan, tapi itu lah yang memang harus di lakukan oleh seorang pengacara handal. Bagaimana mungkin pengacara-pengacara handal bisa memecahkan kasus seperti pelecehan untuk anak di bawah umur, sementara mereka terlalu banyak menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri?

Motto hidup seorang pengacara adalah Kerja! Kerja! Kerja! (#Seperti pak Jokowi?). Dan Lusi sedang dalam fase untuk melangkah ke sana.

Untuk hari senin sampai sabtu, Lusi akan mengikuti skejul Pak Arthur dan dia hanya memberikan satu hari istirahat yaitu hari minggu. Dan dalam fase untuk mencapai target sebagai pengacara sempurna inilah Lusi tidak memiliki apapun untuk hubungan jangka panjang.

Dia pernah mencobanya beberapa tahun lalu. Tidak, tidak hanya pernah namun sering!

Pertama dengan di dokter bedah, bisa di bayangkan bagaimana mengatur jadwal antara pengacara dan dokter bedah? Kedua dengan si jurnalis, ha ha ha! Konflik beda sudut pandang dan keinginan membuat mereka selalu berdebat bahkan di tepian orgasme sehingga kadangkala tak satupun dari mereka yang mencapainya karena perubahan mood mendadak. Ketiga dengan si direktur perusahaan, Lusi terkena skors dari firma hukumnya karena berkencan dengan klien. Keempat dengan teman satu firma nya, God Good, itu hanya sebatas quickie (#istilah western untuk seks kilat tanpa foreplay) sepuluh menit dan sangat tidak memuaskan. Dan butuh beberapa lembar polio jika harus di jelaskan untuk semua pengalaman hubungan berkomitment dan jangka panjang yang sempat Lusi coba bangun. Semuanya selalu berakhir karena kurangnya waktu dan komunikasi antar satu sama lain dan setiap itu terjadi Lusi selalu membuang ongkos untuk satu kotak Paseo 250 lembar.

Sekarang kau sudah mendapatkan pencerahan bagaimana dia berakhir di forum one night stand dan situs kontak jodoh dengan mayoritas pria bule berpemikiran bebas? Tempat bergaul yang bisa cocok dan low risk adalah di sana, seperti sekarang ini.

Sekarang tepat hari sabtu, dan satu minggu yang lalu di hari yang sama Lusi mendapatkan malam yang sangat panjang dengan porsi kurang tidur dalam situasi dan konsep yang lebih unyu dari membaca dan membuat draft untuk kasus apapun, dia bercinta sepanjang malam! Tak ada tekanan dan pertengkaran di esok pagi atau pagi berikutnya, bahkan sampai sabtu berikutnya Lusi akan segera memulai malam panjangnya yang lain.

Login, bertemu pria yang hot, dan bercinta sampai mati semalaman lagi!

Lusi sedang merapikan tas dan bersiap untuk pulang ketika smartphone nya bergetar.

“Ritz-Carlton Pasific Place jam 8 malam.”

Alis Lusi berkerut menatap nomor baru itu, scanner di kepala nya mencoba mencocokan akankah dia pernah melihat nomor itu sebelumnya?

“Tidak mungkin!” pekik Lusi dan mendapat  pelototan tajam Pak Arthur. Pria empat puluhan itu memang agak jengkel dengan Lusi di setiap hari sabtu karena Lusi meminta jadwalnya di kosongkan sedangkan pak Arthur masih akan tetap setia di kantor.

“Temanmu sedang meng-sms bahwa jalan macet di setiap titik sehingga kau tidak berguna pulang lebih awal?” Mata pria itu terlihat lebih mengerikan dari balik kacamatanya. Lusi sempat bergidik ngeri membayangkan akankah dia berubah seperti itu saat menjadi senior?

Ohh,, pikirannya seketika kembali ke sms yang sedang berada di layar hp yang sudah menggelap di tangannya. Jika Lusi tidak salah mengingat, itu SAM!

Iya, Sam yang dari malam minggu lalu!

Tanpa berpikir dia mengetikan;

“Cool. I’ll be there in 8.”

Whoa, akankah hubungan meReka berlanjut menjadi fuck buddy?

Sepulang kantor Lusi langsung menuju ke hotel. Ruangan kali ini lebih terlihat biasa saja, namun tetap mewah. Lusi menemukan ruangan kosong, namun terdengar suara air, Sam sepertinya sedang mandi saat ia sampai.

Merasa bergetar dan juga khawatir, Lusi gelisah berjalan kesana kemari sambil meremas bazer nya.

“Aku tahu kau pasti langsung datang dari kantormu.” Lusi terlonjak kaget oleh suara baritone Sam dari arah kamar mandi. Pria itu melenggang santai tanpa sehelai benang pun, sambil mengucek rambutnya dengan handuk. Benjolan nafsu membuka dan menahan mulut dan mata Lusi. Butiran-butiran air yang menetes di wajah dan tubuh telanjang Sam mengirimkan unlimited voltase ke dalam celana nya.

“Y-ya?” gugup Lusi.

“Kita akan makan malam terlebih dahulu,” Sam merapatkan jarak antara mereka dengan dua langkah lebar. “Asisten ku telah memilih pakaian untukmu, mandi lah.” Ia melumpuhkan Lusi dengan ciuman panas menuntut yang ia lepaskan secara tiba-tiba sehingga Lusi jamin dirinya akan langsung bersimbah di lantai jika Sam tidak menahannya.

Tanpa perintah kedua, Lusi terhipnotis dan berjalan menuju kamar mandi seperti yang Sam inginkan. Ia masih mengumpulkan sisa-sisa kendali dirinya yang mulai pulih setelah ciuman itu sambil menarik gagang pintu. Berbalik sejenak, ia melihat Sam menuangkan sampanye ke dalam dua gelas, “satu untuk ku?” pikir Lusi. Ia sangat ingin membasahi kerongkongannya yang kering dengan cairan dingin itu, namun ia mengurungkannya karena mengingat rencana makan malam Sam, dan fakta bahwa perutnya juga keroncongan.

Setelah pintu tertutup di belakangnya, yang pertama Lusi lihat adalah gaun formal semata kaki berwarna merah tergantung di dinding kamar mandi. Di sampingnya, Lusi juga di perhadapkan dengan sepasang pakaian dalam paling cantik dan seksi yang pernah ia temui. Dengan warna senada, namun ya Tuhan, itu hanya renda-renda tipis yang… bagaimana mungkin ia akan cocok memakai pakaian dalam seperti itu? Hanya model Victoria’s Secret yang pantas. Menoleh ke bawah sejajar gaun, Lusi menemukan stiletto yang paling seksi yang pernah ia lihat. Kemana Sam akan membawanya dengan pakaian yang seperti ini?

Lusi melangkahkan kakinya ke pancuran air dari jubah mandi yang tadi melilitnya. Kesadarannya sedikit banyak telah kembali berkat air dingin tersebut. Ia sengaja memilih air dingin dengan harapan tingkahnya lebih terkendali dari pada seekor kerbau betina minta kawin.

Beberapa menit kemudian Lusi telah berdiri di depan cermin besar di dalam kamar mandi itu, mengambil handuk, ia membungkus rambut basahnya dan mulai mengoleskan pelembab yang tersedia di rak. Memoles bedak dan lipstick tipis, sedikit eyeliner dalam usaha meraih penampilan mata agar terlihat lebih besar, dan mascara sebagai pelengkap. Setelah selesai dengan itu, Lusi mengambil hair dryer dari dalam rak dan mengeringkan rambutnya.

Betapa takjubnya Lusi melihat bahwa pakaian dalam berenda seksi yang awalnya ia pikir hanya untuk model Vicoria’s Secret tadi malah membuat miss V dan miss 34C nya terlihat dapat bersaing dengan Kate Upton.

Lusi keluar dari kamar mandi dengan perasaan campur aduk. Ia sedikit gugup ternyata, di atas semua kepercayaan dirinya, dia masih gugup.

Ketika Sam masih berdiri menghadap keluar jendela dan tidak menyadari kehadiran Lusi di ruangan itu, Lusi hanya berdiri diam dan berpindah-pindah tumpuan di antara kedua stiletto nya.

Lusi memasang pose menggoda dengan tangan dan dada setengah di rapatkan ke dinding, dan kaki yang di angkat sebelah memamerkan belahan gaunnya yang nyaris di puncak paha nya.

Sam berbalik dan menyemburkan sampanye nya setelah ia berbalik karena suara dehem Lusi. Keduanya sama-sama tercekat, Lusi menelan ludah beberapa kali melihat gundukan di balik celana formal Sam yang seketika membesar setelah melihatnya. Perasaannya bergolak seperti lumpur lapindo, menyadari seberapa besar ia mempengaruhi pria itu.

Dengan tidak sabar ia berjalan cepat ke arah Lusi, menangkup wajah Lusi dan menciumnya dengan gila. “Gosh, kau membuatku gila.” Bisik Sam di antara ciuman mereka. Lusi mengalungkan tangannya di leher Sam, memasukan jarinya ke rambut pria itu seolah menarik Sam lebih dekat sekalipun jarak mereka tidak bisa lebih dekat lagi. Sam meremas payudara Lusi dengan kasar dan melepaskan ciuman mereka secara tiba-tiba. “Kita tidak akan sampai ke restoran jika melanjutkan lebih dari ini.” Ia terengah-engah seperti pelari marathon di meter-meter terakhir, Lusi bingung bagaimana Sam bisa berpikir tentang restoran di saat seperti itu.

“Kau dan aku membutuhkan makan, kita memiliki sisa malam ini.” Ucap Sam menjauh dari Lusi setelah menyadari tatapan protes perempuan itu. “Rapikan gaun dan lipstick mu! Aku menunggu di depan elevator.” Perintahnya kemudian menghilang di balik pintu.

Setengah jam kemudian, Lusi dan Sam sudah berada di tengah-tengah Cheateu Blanc yang megah. Memandang sekeliling, Lusi di manjakan oleh bunga dan tanaman hias yang tertata rapi dan elegan serta furniture antic dengan layout berkelas. Lagi pula, apa sih dari restaurant yang memakan satu lantai ini Nampak tidak elegan? Sejak pertama masuk ke dalam gedung, Lusi telah terpesona dengan kemewahan pelayanannya. Mereka di sambut oleh bule dengan penampilan sangat menarik –walaupun tidak semenarik Sam–, lalu di antarkan ke window table sehingga memanjakan mata dengan pemandangan lampu-lampu dari balik kaca jendela lebar di samping mereka, kemudian datang pelayan yang masing-masing memasangkan lap bersih agar gaun indah dan tuxedo mereka tidak terkotori oleh makanan. Penjelasan tentang makanan yang di sampaikan oleh pelayan berseragam itu mengingatkan Lusi pada acara favorite mama nya, ‘MasterChef’. “Beef di masak medium rare dengan campuran garlic, zucchini, quinoa, dst. .” begitu penggalan kalimat panjang si pelayan yang di tangkap telinga Lusi. Ahh,,, pelayan yang mengantarkan lap bersih tadi datang dengan sampanye dingin yang menakjubkan.

Sam memesan Zuppa Touscana Souop untuk Appetizer, Chicken and String Beans dan  Niku Tofu, sebagai Main Course lalu Peach Maelba untuk Dessert sedangkan Lusi memilih Canape untuk Apettizer, Garlic Steak dan Rice Meat Roll untuk Main Course, dan Profitrol Paste sebagai Dessert. Dan untuk minum keduanya sepakat dengan Still Water, Sampanye gratis dari pembukaan tadi, dan sebotol Chateau Chabernet 2006. Aneh memang, di restoran Perancis, namun tak satupun masakan perancis yang mereka pesan kecuali soup Sam.

Memang benar kata orang, nafsu makan dan nafsu birahi itu nyaris setimpal. Jika tadi keduanya hampir melupakan makanan karena di kuasai nafsu birahi, maka sekarang keduanya nyaris melupakan tentang seks karena kenikmatan karya Chef restoran itu.

Nyaris.

Nyaris saja, karena saat kaki keduanya bersentuhan secara tidak sengaja di bawah meja, juicy dari steak yang sedang meleleh di lidah Lusi ia rasakan seperti juicy yang keluar dari  botol di antara kedua kaki Sam. Gairah kembali menyala di mata mereka, membakar wajar keduanya bersamaan dengan reaksi anggur mahal tersebut.

“Aku lapar.” Bisik Lusi dari seberang meja, melepas sepatu dan mengelus kaki Sam dengan kakinya di bawah meja. Otot rahang Sam menegang hingga nyaris putus menahan kebutuhannya yang semakin mendesak. Ia lapar. Sama seperti Lusi, hanya saja mereka berdua lapar untuk hal yang lain.

Keduanya tersentak terkejut saat pelayan kembali datang membawa makanan penutup mereka dan meletakan di atas meja.

“Est-ce qu’il y aura autre chose, monsieur?—apakah ada yang lain, tuan?–” si pelayan bertanya pada Sam. Tadi di awal Sam memang menyapa mereka dengan bahasa Prancis.

“Non, merci.—tidak, terimakasih–” Jawab Sam dengan aksen Amerika nya.

“Trcs bien, bon appetite.—baiklah, selamat makan)” Punggung pelayan itu menghilang ke balik pintu kaca elegan di belakang.

Lusi mempermainkan es krim nya dengan sendok kecil, hanya mengaduk-aduk. Sementara Sam sedang total menahan diri agar tidak melompat menyebrangi meja dan menelanjangi Lusi di tengah-tengah restoran itu. Sekarang  mereka telah kenyang untuk makanan dan rasa lapar untuk seks itu terasa tak tertahankan dan menyiksa.

“Kelihatannya kita bisa melewatkan dessert.” Gumam Sam dengan suara serak. Mata Lusi membulat besar, hatinya melompat keluar karena kegirangan.

“Absolutely!” Jawabnya. Dan tanpa komando keduanya berdiri. Sam mengangkat tangan dan menyodorkan kartu platimun nya lalu keduanya keluar.

“Bagus.” Seringai Sam melebar, “Karena jika kau menjawab hal lain, maka aku tidak yakin bisa menahan diri untuk tidak mempertontonkan kebodohanku di sini.”

Supir limo dan Bill asisten Sam yang sedari tadi menunggu di luar sudah siap membukakan pintu. Lusi masuk terlebih dahulu lalu kemudian di susul Sam yang sengaja menggoda Lusi dengan meremas pantatnya. Bill hanya berdehem dan menunduk melihat kelakuan boss sekaligus sahabatnya itu.

“Hentikan. Ada dua orang saksi di sini!” Lusi membentak Sam dengan suara rendah.

“Aku sudah tidak sabar.” Sam  tersenyum sensual.

Mereka diam beberapa saat. Menikmati perjalanan membelah ibukota dalam diam. Atau apakah sedang berusaha keras untuk menahan diri dan sampai ke hotel dengan sopan?

“You okay over there?” Sam meraih bahu Lusi. “You’re trembling,” lanjutnya.

Memalingkan wajahnya ke arah Sam, Lusi tersenyum. “I’m fine.”

“Tapi kau bergetar.” Kukuh Sam.

“Orang yang terlalu lapar memang akan bergetar.” Lusi tercengang dengan kata-katanya sendiri, mereka berdua tahu dengan sangat jelas tentang kata lapar yang familiar itu.

Lusi bergerak mendekat, mengangkangkan kaki nya di pangkuan Sam, “Lusi, what the hell are you doing?” Mata Sam melebar seperti bola.

“Aku pikir American people sering melakukan ini,” bisik Lusi. “Sex in the car.”

Lusi mencium Sam –#yang sendiri pun sedikit shock dengan keliarannya–dengan rakus. Tangannya liar meraba dan meremas area bagian bawah milik Sam, Sam mendesah saat tangan Lusi aktif bekerja. Dalam beberapa detik Sam juga berhasil mengatasi shock nya dan mengambil langkah professional. Ia menyinsing gaun malam Lusi ke atas pinggangnya, menurunkan celana dalam Lusi dengan cepat. Jarak antara hotel dan restoran tidak begitu jauh sehingga mereka harus bertindak cepat. Saking terburu-burunya Sam bahkan hampir tidak menyadari dimana mereka berada. Ia berdiri dan kepalanya terantuk atap mobil itu.

“Akh.”

“Kau baik-baik saja?” Lusi mengelus kepala Sam yang terantuk, Sam hanya mengangguk. Rasa sakitnya seketika hilang di ganti dengan lenguhan saat tangan Lusi bergerak semakin ahli. Dia rela menghantuk batu dengan kepalanya untuk ini.

“Kau selalu hampir melupakan kondom.” Gumam Lusi di antara ciuman mereka ketika ereksi Sam nyaris masuk.

“Kau menyihirku untuk melupakan segalanya.” Sam meraih kantong belakang celana nya yang setengah terbuka.

Suara robekan foil itu terdengan seperti music opera yang indah.

Dengan satu kepercayaan yang terjalin di dalam mata yang bertatapan itu, Sam menyatukan inti mereka dengan satu dorongan panas dan kuat. Tak ada waktu bercinta dengan lembut. Lusi mencakar punggung Sam dari balik baju nya, menahan keinginan untuk berteriak. Melirik ke luar jendela hitam dari balik horden yang tersingkap, Lusi tersenyum menyadari bahwa mereka sedang berada di tengah kemacetan ibu kota. Siapa yang menyangka sekarang dia sedang berada di tepian jurang orgasme dengan Sam berada ketat di dalamnya, di antara ribuan orang yang tak tahu apa-apa? Pemikiran itu terdengar seksi. Lusi jadi ingin melakukan yang lebih ekstrim seperti seks di…….Monas elevator?

“Shittttt..” teriak Sam.

Di antar pemikiran seksi dan gila itu Lusi merasakan perutnya mulai bergolak kemudian ia bergetar hebat dalam balutan orgasme yang manis yang di susul oleh Sam kemudian. Mereka bertatapan untuk beberapa lama, dengan posisi intim itu yang seakan tak mampu mereka hilangkan sampai ketukan di pintu mulai naik.

“Sam…. Sam…” suara Bill terdengar di baliknya.

“Whats? Shitt….Bill?” maki Sam dan menarik ereksinya keluar.

“Kita sudah sampai.”

“Oh.” Sam berucap dan merapikan celana nya, Lusi juga bergegas dengan pakaiannya. Memoles rambut dan wajahnya juga, berusaha menghilangkan atau sedikit mengurangi wajah –-aku habis di mangsa dalam limo oleh bule ganas– dari nya.

Itu tidak terlalu membantu karena Lusi masih sempat memperhatikan wajah si supir dan Bill memerah melihat Lusi dan rambut acak-acakan Sam. Sepertinya mereka berdua lupa membetulkan rambut Sam.

“Come on little blew-minded, aku sudah panas kembali.” Goda Sam di telinga Lusi namun cukup keras membuat si supir dan Bill lebih merona. Lusi hanya menatap Sam tidak percaya dan berjalan cepat ke dalam.

TO BE CONTINUE

Let me know if you like it and want me to continue the story!^^

Advertisements

20 thoughts on “(Cer-bung) One Night Stand: Chapter 3

  1. winona571

    Bagus nih…. Ceritanya detail dan manis.

    Tapi kepikiran, mirip mungkin ya… Ketika di kisah ini keluar dari hotel pagi – pagi dengan rambut dan baju kusut, dengan keluar dari apartemen pagi – pagi dengan baju kusut juga… 😛 Untung ga ada masyarakat usil yang suka menghakimi. Hahaha…

    Liked by 1 person

      1. winona571

        Padahal kan belum tentu terjadi apa2…. 😀 Memangnya ada yang ngliat langsung apa yang terjadi dalam kamar? Hahaha….
        What if, waktu nonton sepak bola, mendadak si cewek agak pusing. Lalu istirahat di kamar yang satunya (apartemen 2 kamar), terpaksa menginap di situ. Lalu pagi sudah agak enakan, bisa pulang ke housingnya. Atau bahkan…. misalnya kamarnya 1, numpang tidur di kamar sampai pagi, dan TIDAK NGAPA2IN… Memangnya semuanya laki – laki tidak bisa menahan diri kalau tidur sebelahan sama perempuan? Belum tentu kan? 😀

        Liked by 1 person

      2. Ha ha ha ha iya emang. . . orang mah pada nefthink. . .dan ngapa-ngapain pun, emang ada masalah buat mereka? *nyengir*

        sing penting usia orang tersebut sudah lebih dari 17 tahun, saya mah, bodo amat! Kalo dia bawa bocah kecil dan gerak geriknya mencurigakan baru tuh. . . or misalnya si cewek yang keluar itu sambil bedarah-darah dan semalemnya teriak-teriak…

        Liked by 1 person

  2. Val, ini buat sendiri???
    Kok kaya lagi baca novel pengarang terkenal ya *diluar ceritanya.
    Maksudku alur, penggambaran detail cukup bikin pembaca bisa punya gambaran imajinasi tersendiri..
    Bagus kok val
    *maklum aye lulusan sastra indonesia hahaha jadi yg diperhatikan itu jalan cerita sama gaya bahasanya.

    Liked by 1 person

    1. Ihhh Neng Syer bikin aku yang udah super pede ini menjadi lebih pede lagi. Dipuji lulusan sastra, bayangin! *nyengir*

      But thanks anyway, I will take it supaya lebih semangat lagi nulis dan belajar^^ #apasihujung-ujungnya

      Itu asli bikinan aku kok untuk menyalurkan imajinasi liar dan gila yang melilit di otak ku selagi harusnya mikirin skripsi itu. . . ha ha

      Serius makasih dan kalau memang ada cacat sekecil apapun jangan ragu untuk bilang. Aku nerima baik maupun buruk tentu saja^^

      Like

      1. tapi beneran bagus kok val,
        malah kya novel terjemahan rasanya pas ngebaca ini.
        cumaa yg mau ketawa kenapa lumpur lapindo dibawa2 sih hahaha
        itu metaforanya yg lebih cakepan dikit napa.

        Liked by 2 people

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s