Dear ARL Yang Di Sana. . .

Pic by MetroTVnews

“Aku mencintaimu.” Itu adalah kalimat simple namun sedikit menakutkan bagiku.

Kalimat yang hampir demi Tuhan tidak akan ku ucapkan.

Tapi, itu ku ucapkan padamu. Aku mengucapkan kalimat itu, finally, untukmu. . . Untuk membalas kata-katamu. . .

Tapi, tahukah kamu, aku sering berpikir “Benarkah itu cinta yang kurasakan? Ataukah hanya nafsu?”

Aku menanyakannya berulang kali pada diriku.

Kalau itu cinta, mengapa aku masih suka mengutamakan ego ku di banding kamu? Bukankah cinta bisa merubah Si Egois menjadi Si Penuh Pengertian?

Tapi salah juga jika perasaanku hanya dikatakan nafsu. Wong aku selalu ingin membahagiakan kamu, selalu ingin kamu mendapatkan yang terbaik untuk segala hal. Bukankah itu adalah salah satu tanda cinta?

Ah entahlah aku tak tahu.

Yang aku tahu pasti adalah fakta bahwa diriku tidak pernah puas dengganmu.

Aku selalu haus ingin menyesap bibirmu, menggandeng tanganmu, membelai seluruh tubuhmu, merasakan kamu di dalam mulutku, aku, , , aku tak pernah puas dengan rasamu. . .

Aku membutuhkanmu sama seperti penyelam yang membutuhkan tabung oksigen. Basic sekali.

Aku hanya ingin bercinta denganmu. Tanpa kerumitan setelah itu, tanpa ikatan yang terlalu mencekik, tanpa syarat hubungan yang pelik, aku, hanya ingin bercinta denganmu.

Bisakah kita sejenak menjadi sepasang manusia yang tidak mengungkit masa lalu, memikirkan masa depan, tapi hanya dengan senangnya menggenggam masa kini. Bisa?

Lupakan hak dan kewajiban yang umum dibicarakan orang. Lupakan! Mari fokus untuk saling memuaskan, saling berbagi, bercinta sampai kita lega. . .

Maukah kamu menyambut tanganku? Maukah kamu pergi bersamaku? Kita akan berbahagia. Just you, me, dan gairah kita.

Hook up with me please. .

Aku ingin mengirimkan itu, tapi aku ingat lagi bahwa dia tidak akan tidur denganku jika itu hanya untuk nafsu. Dia pernah sangat tersakiti saat aku mengatakan kami hanya “one night stand”, dia pernah sangat tersakiti saat secara tidak sengaja dia menyimpulkan bahwa bagiku dia hanya sekadar ‘penis’.

Hmmph, sulit.

Aku merindukannya. . .

Bogor, 30 Oktober 2016 – Malam

Advertisements

33 thoughts on “Dear ARL Yang Di Sana. . .

    1. He he he he sadis bener “derita tiada akhir” 😁

      Hmm,, “dibuang” kedengerannya kok agak… ehem… lol… buka membuang, hanya mengakhiri..😅

      Dan menurut kamu dia mau serius gitu? Cinca? Hmmp,, 😓 (kepo dan sotoy sebagian dari iman. Gapapa😂)

      Like

  1. Haha.. cinta ya. Maksudnya sebegitu besarnya daya cinta yang karenanya orang lain bisa sangat bergantung pada orang yang ia suka. Masalahnya ada pada orang yang disukai itu. Apa memberikan respon yang sama? ARL itu sepertinya sama

    Liked by 1 person

    1. He he iya Del begitu kira-kira. The power of love katanya😂

      Err, maksud Fadel berdasarkan analisa, ARL memberikan respon yang kayaknya sama (positif)?

      Iya juga sih, teman dua temem ku yang tau ARL juga bilang gitu.

      But it still scary. 😷

      Perasaanku itu variabel yang bergantung waktu Del masalahnya. Semakin lama semakin besar. Belakangan mood ku sempat bergantung sama situasi hubungan kami juga. Bahaya kan tahap nya sudah?

      Yang bikin lebih bahaya itu memang kenyataan bahwa aku nggak tau variabel bagaimana perasaan dia.

      Sayang kalau early twentiesku ku habiskan dengan bergalau ria. Makanya casual relationship kayaknya masih yang terbaik.

      Liked by 1 person

      1. Hoho.. iya Val. Dari yang aku baca di blog sih kayaknya Si ARL ini udah ngasih sinyal2 gitu (you-know-what-i-mean). Eh btw Pursuing Your Bule-nya gimana entar jadinya wkwk 😆

        Aku sih belum pernah ngejalanin cinta sampai ngerasain apa yang kamu tulis sekarang, tapi kalau bahas variabel dari laki mungkin aku ngomong sedikit. Betul memang kalau laki ada niatan buat cuma sekedar ‘have fun’ sama perempuan. Aku sendiri ngerasain. Tetapi kalau udah makan waktu yang lumayan lama kayak gini (lebih dari 2 bulan kan ya?) bisa jadi arahnya mulai ke hubungan serius. Buang2 waktu namanya kalo cuma gitu2 aja kayak pertama jumpa.

        Stop galau! Eh kalo kamu kayaknya nggak usah dikasih tau gitu deh wkwk

        Liked by 1 person

      2. Ha ha ha ha iya nih Pursuing My Bule nama blog nya, yang di bahas apaaaaa *tepok jidat*

        Kayaknya ini jalan Tuhan supaya aku balik lagi jalan bareng bule deh.#bulemana? 😂

        Signal apa sih? *nggak nangkep*

        Iya udah lebih dari dua bulan. Hmm,, oh God. . .

        Im not that galau anymore Del. In fact im start talking to another guy. Ntar bakal aku posting deh tentang itu.

        Yang jadi masalah adalah setiap aku ngobrol bareng dia, aku bakal kayak ngebandingin dia sama ARL.

        Pernah aku becanda, dan dia nggak ngerti yang aku becandain. Aku langsung mikir “ah coba ARL, dia mah dari kata pertama aku ucapin, dia pasti udah konek.” Lalu dia becanda juga aku malah balik yang nggak ngerti. Aku inget ARL lagi. Aku selalu nyambung pas becanda sama dia.

        Pas di jalan tetiba ada mobil maroon, bakal ada rasa jleb “Itu warna mobil ARL”.

        Pas ada motor kopling lewat aku juga bakal langsung “ha ha lucu banget ya waktu ARL bawa aku hampir keloncar make motor waktu itu.”

        Gitu-gitu galaunya Del yang masih kesisa. Udah nggak ada rasa pengen nangis atau kek gimana sih.

        Kasih aku seminggu lagi buat bener-bener ngelupain dia..

        Liked by 2 people

      3. Ehh.. bentar deh. Val, kamu maksudnya mau ngelupain atau gimana?? Kayaknya bond dengan ARL ini udah klop kok ujug2 dilupain gitu huhu…

        Untuk laki2 baru itu aku turut berduka wkwk. Kalo baca komen kamu ini laki itu bakal susah nandingin ARL atau MJ atau bule2 lain… Atau aku salah?

        Liked by 1 person

      4. Mau ngelupain=memulai yang baru dan melambaikan tangan ke ARL.

        Bener sih kita klop, bener sih aku nyesel, tapi. . .

        Yang pengen udahan itu aku Del. Kalo aku nggak konsisten sama keputusan aku, gimana dia bakal ngehargai keputusan kau selanjutnya? Nanti dia bakal mikir “Ah dia mah entar bakal nyesel dan baik-baik aja abis beberapa hari. Selow aja.” So kalau ada masalah aku bakal susah😓

        Makanya aku nggak bisa balik lagi.

        Dan ha ha untuk saat ini aku baru nemu ARL yang paling klop dan cocok segalanya sama aku.

        Kalo si bule sih kebanyakan waktu jalan aku bakal nggak nyaman di pelototin orang-orang, para bule juga nggak jemput (nganter) aku kalo jalan paling nelponin grab (beda rasanya dianterin beneran sama di bayarin grab), yang nerima style abstrak aku (pake kacamata item dan masker di siang bolong) juga cuman ARL.

        Tapi masalahnya ya itu hff,, aku pikir aku sudah terlanjur salah dan cukup mendapatkan satu pelajaran di sini.

        Liked by 2 people

  2. Sepertinya bukan “cinta”nya yg bikin susah bahkan gagal move on Val, tp beranjak dri nyamannya kebiasaan2 lama itulah yg sesungguhnya sulit, ditambah lg ketiadaan “destinasi” utk bangun kebiasaan2 baru.
    Begitu kira2..tks 😁

    Liked by 1 person

    1. Exactly. . . He he he he. . .

      Kenangannya yang bikin nyesek. Exactly. Soalnya yang saya sedihkan memang nggak ada yang berupa masa depan, tapi masa lalu.

      Hm hm hm hm. . . Titik terberat adalah ketiadaan jemputan kencan akhir pekan😃

      Liked by 1 person

  3. winona571

    Ehm, kaget juga…. Setahuku biasanya cowok yang gini. 😛
    Kalau mnrtku ARL itu justru ada poin plusnya yaa…. Dia nggak hanya sekedar mau fisik saja (hal yang paling ditakuti cewek2).
    Tapi kalau “khawatir” dengan sederet konsekwensinya, hmm…. bisa dimaklumi juga. Kalau buat saya, lbh mudah dengan cinta yang berkembang dari pertemanan, persahabatan…

    Liked by 1 person

    1. Ha ha ha ha. . . Tidak hanya cowok yang takut pada sebuah hubungan.

      Maksudnya saya juga nggak pengen fisik dia doang. Tapi saya itu ribet, rewel, nyebelin, all the bitch side nya muncul kalo udah urusan komitmen-komitmen. Kata temen saya itu adalah tembok pengaman saya untuk tidak disakiti.

      Iya itu tembok pengaman saya. Saya tidak suka memberikan hati saya sepenuhnya pada seseorang.

      Sulit untuk mempercayakan hati saya padanya. Saya akan terus cemas takut “entah nanti dia akan buang hati saya” setelah beberapa lama. Nanti dia akan merubah diri saya saat beberapa lama. ARL suka misalnya ngelarang ini, minta saya ngelakuin itu, dan bla bla yang saya pikir bisa merubah jati diri saya.

      Salah satu contoh kecil adalah dia melarang saya mewarnai rambut. Itu, agak sedikit terlalu “mencampuri” bagi saya.

      Yang saya pengen itu ya memang persahabatan saja. Ehem persahabatan yang ada kontak fisiknya sih. Ha ha But yeah, no love sign etc tapi.

      Suatu saat, suatu saat kalo memang kami benar saling mencintai, nggak butuh ucapan kok.

      Ucapan semacam “I Love You” itu malah bisa membingungkan saja. Misalnya itu bagi saya bisa memberi doktin “aku cinta dia” padahal sebenarnya tidak.

      Ah intinya mah aku cuman takut terluka saja. Bukan gegara aku mau fisiknya saja juga sih Kez😁

      Liked by 1 person

      1. winona571

        Kalau takut terluka sih sama yaaa….. kmrn juga bubar, karena saya tidak bisa lepas dalam mengekspresikan perasaan ke SVR, ga hanya ragu2 soal kedekatan fisik, tapi juga karena saya melindungi hati saya sendiri. Semakin banyak membuka hati, memberikan hati kita untuk orang lain, maka kalau sampai putus, semakin banyak juga bagian hati kita yang seakan tidak utuh lagi. Sementara saya ini lagi Phd, hal – hal gini – gini bisa menyebabkan ga bisa mikir… gawat!
        Kalau soal ga boleh ngecat rambut, duh… kalau saya juga bakal keberatan kalau dilarang – larang soal itu.

        Liked by 1 person

      2. Iya itu hal terberat dalah hubungan. Rasa takut untuk terluka. Awalnya kemaren saya pikir saya sudah berubah. Awalnya saya pikir saya sudah membuka diri saya sepenuhnya. Ada pokoknya di satu postingan saya tulis. Tapi ternyata tidak😐 Ternyata saya masih saya yang biasanya, yang tinggal dari balik cangkang kerasnya.

        Soalnya ya itu dia. Semakin membuka hati, semakin sakit kita nanti kalo terjadi apa-apa yang salah. Saya juga pernah ngobrol tentang itu di blog ini kalo nggak salah.

        Dan iya. Kan saya pengen cat pelangi gitu, kata dia jangan. Dia nggak ngelarang jangan banget-banget tapi dia ngomong “kalo kamu ngotot sih yaudah, tapi aku pengennya nggak usah”

        Itu menurut sensor saya terdeteksi sebagai “bibit pengendalian”. Satu tahun lagi saya bakal dilarang apa? Ha ha ha ha

        Liked by 1 person

      3. winona571

        Bahkan yaaa…. kalau boleh jujur, Saya lebih takut memberikan hati saya dan ujungnya terluka, daripada memberikan diri secara fisik. Errr… ngomong gini siap – siap ditimpuk sepatu sama ortu. Hahaha… 😛
        Tapi juga bukan berarti saya senang dimanfaatin secara fisik yaa… Tapi dari pengalaman sendiri, saya pernah dimanipulasi hatinya selama kurang lebih 10 tahun. Itu lebih parah dari apapun. Karena saya juga jadi tidak bisa maju karirnya… Dibaikin cuma kalau butuh, tapi kalau sudah dibelakang punggung, saya dijadikan lelucon. Meskipun tidak menyesal, karena dapat pelajaran juga, tapi juga berasa membuang waktu karena terikat dengan orang yang salah.

        Liked by 1 person

      4. Lol. Sayanya siap-siap ngamerain pas detik-detik kena timpuknya ya Kez. Tar sekalian minta izin masukin youtube😁

        Iya saya juga kayaknya lebih takut memberikan hati daripada fisik. . .

        Dan tergantung situasi, bagi saya kalau saling memanfaatkan sih itu tidak jadi masalah. Tapi kalau dia memanfaatkan fisik saya tanpa memperhatikan saya, hmm,,

        Sabar ya. Tuhan pasti ngasi yang terbaik setelah semua itu. . . Amen. Sepuluh tahun, bukan waktu yang singkat. . . Semangat!!

        Liked by 1 person

  4. Saya pingin jatuh cinta. Tapi kok sulit sekali menukan orang yg cocok ha ha ha…. Dirimu enak pernah cinta atau suka, paling nggak pernah bahagia bersamanya. Saya masih menunggu the right one.

    Liked by 1 person

    1. He he he he tapi saya masih ngelah-ngeluh mulu ya. Nggak tau diri selalu menuntut lebih. Hmm,,

      Menunggu yang terbaik lebih cool daripada selalu bertemu orang yang salah.

      Saya pengen menunggu aja kalo saya bisa memilih. Sayang di kasus saya, entah mengapa sangat mudah untuk jatuh cinta.😂

      Liked by 1 person

      1. Cinta yang tak perlu sering saling menghubungi tapi saling mempercayai.

        Cinta yang tidak perlu ada status “aku pacarnya dan dia hanya boleh keluar dari rumah denganku”

        Cinta yang tidak perlu diucapkan setiap malam sebelum tidur.

        Cinta yang begitu. Cinta yang tumbuh seiring berjalannya waktu.

        Cinta yang memberi semangat dan mengeluarkan sisi positif. . . Yang begitu. . .

        Aku lebih percaya dengan persahabatan dan berbagi rasa nyaman dan tawa lebih dari cinta. .

        Liked by 1 person

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s