Kisahku Dan ARL》》 Part 4

20161212_171039.jpg

Part 1, Part 2 dan Part 3

Seperti yang sudah saya bocorkan di part sebelumnya, di part ini saya akan membahas tentang kencan di True Story dan melayat tante nya dia😉

So daripada basa-basi mending langsung aja ya. . .

Sekitar jam dua apa tiga sore gitu, kita melenggang dari Ngohiang Gang Aut tercinta.

Dan berhubung sistem satu arah melarang siapapun memutar balik di jalan itu, kami pun melaju lurus saja.

Kemana? Ketemu Babeh.😫

Sumpah sekalipun itu bukan orang tua kandung dia, tapi tetep aja ketemu orang tua.😬 I mean this is the very first time saya bakal ketemu tetua yang dari pihak cowok.

Gimana kalau saya salah ngomong, gimana kalau saya salah bertingkah, gimana kalau saya. . . Aaargh. . . Saya nervous derajat dewa !!!

Di perjalanan saya terus-menerus menanyakan tentang Babeh lebih jauh lagi. I mean saat menulis tips untuk tampil dengan pede tinggi kemarin saya ada mengatakan bahwa salah satu modal untuk pede adalah menguasai medan/materi kan. Nah mengenal lawan bicara itu bagi saya masuk dalam penguasaan medan sekalipun materi yang akan dibicarakan masih ngambang.

Singkat cerita setelah menyemangati dan menenangkan saya dengan mengatakan “Semuanya bakal baik-baik aja, pasti lancar kok selow, dll,” ARL langsung menelpon Babeh untuk menanyakan posisi beliau dimana dan kita sudah OTW.

Jjajang! Babeh masih di RS dong nungguin Adek Ipar beliau yang lagi dirawat.

Beliau minta jemput dari RS dan kita langsung cuz menuju sana.

Lalu setelah sampai depan rumah sakit dan gegana (gelisah-galau-merana) akibat nggak dapet slot parkir, saya dan ARL memutuskan menunggu di mobil saja dipinggir jalan.

Guys. . . Itu di depan toko bunga dan saya pengen banget ARL keluar sebentar pura-pura nge-vape diluar dan balik dengan sebuket bunga😇

Apakah keinginan saya terwujud? Ha ha tentu saja tidak! Seperti yang sudah kalian ketahui dari tulisan ini, ARL tidak pernah memberikan apapun yang romantis ke saya.😭 No flower, no chocolate, no couple t-shirt😂

Kita cuman ketawa-ketiwi nggak jelas doang sore itu. Er, peluk-pelukan juga sih. Abisnya hujan becek dingin nggak ada ojek😄

Sampai tok tok tok. . . Kaca di sisi ARL di ketok dari luar.

God, nggak tau deh Mamih sama Babeh ada ngeliat nggak dari luar pas kita lagi ngebego gitu. *rolling eyes* #hanyamerekadanTuhanyangtau

Ternyata yang bakal ngegantiin mereka ngejagain masih belom dateng. Nggak bisa pulang dulu dong berarti? Iya! Nggak bisa.

Kami? Diminta nungguin bentar.

Em by the way saya ada ngasitau tentang cara berkenalan saya, Mamih dan babeh untuk pertama kali nggak sih di atas tadi?

Ha ha ha ha betul sekali tebakan kalian! Salaman dari dalem mobil dengan menurunkan kaca. So inappropriate. . .😖 But sayangnya baru sadar sekarang tentang itu. Iya! Sekarang banget pas lagi kilas balik😅

But well, nasi sudah menjadi bubur, bisa apa lagi? Ya tinggal improvisasi seadanya dengan menambahkan ayam, kerupuk, kacang, seledri, kecap dan sebagainya saja. Setujeh?😀

Kami kemudian memutuskan untuk menunggu Babeh dan Mamih di True Story. Kebetulan deket dari situ (lupa nama rumah sakitnya).

Siluet siapa hayo!!!!😅
Yang difotoin malah parkiran *tepok jidat*

Abaikan foto nggak jelas yang saya ambil itu, mari masuk ke kenangan indah yang ada di sana.

Its like the best two-three hours of my life kalau bisa saya alaykan😂

I mean apa sih yang lebih membuat kalian merasa spesial kecuali seseorang menceritakan tentang masa-masa down dan kekurangan dia? God. Saya semakin sedih!😭

ARL menceritakan tentang Mama, Papa, dan dua kakaknya. ARL menceritakan bagaimana ia di masa-masa pengangguran pasca gagal jadi. . . Maaf diblank gegara itu privasi orang. Dan pula its not the point.

Dan disitulah dia megang tangan saya dengan lembut dan berkata bahwa tidak peduli apapun yang saya inginkan, dia bakal support saya. Dia bilang I Love You pertama kali juga di sana kalau enggak salah. (Apa dihandphone ya? 🤔)

Saya ulangi lagi, pokoknya itu seperti the best day of my life. Really!😉 But yet, that time I also realize that we not mean for each other.

Dia sangat terbuka dan ekspresif sementara saya tertutup dan aman di dalam cangkang saya.

Dan saat L word itu terucapkan, maka segalanya akan berubah menjadi complicated. Itu berdasarkan pengalaman selama bertahun-tahun. Pasti!

Yang jadi masalah itu di saya. Saya yang bakal bikin masalah.

Example》》》

Dan benar saja! Malam itu juga merupakan malam kami berantem untuk yang pertama kalinya.

Pokoknya pas lagi nge-beer di True Story (dia minum teh hangat soalnya lagi batuk), handphone nya bunyi dong! Siapa yang nelpon? Babeh! Ternyata yang dirawat baru saja dijemput oleh Tuhan.

Saya nggak tahu mana yang lebih horor, malam-malam nongkrong di pohon berkuntilanak, apa fakta bahwa saya harus bertemu banyak orang dengan baju minim?

But mau gimana lagi. Masak saya tinggal di mobil waktu ARL ke rumah sakit sih? Kan tadi juga Mamih sama Babeh jelas tau kalau ada saya.

Terpaksa kami sepayung berdua berjalan menuju rumah sakit.

Oh fuck saya sulit melukiskan sebagaimana gugupnya saat semua mata langsung tertuju pada kami yang baru datang, yang sesaat kemudian berkumpul pada saya sebagai wanita yang dibawa ARL.

Awkward gila. Pertama greeting nya saya lupa bahwa saya seharusnya mencium tangan saat salaman.

Yang saya lakukan? Salaman sambil peluk dan cipika-cipiki seperti saat bertemu dengan kerabat dan kenalan di lingkungan keluarga saya. *tepok jidat*

Secara garis besar sih fine saja waktu itu soalnya ARL juga membantu untuk menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan. Bahu saya juga cukup lebar untuk sandaran Mamih yang menangis dan menceritakan tentang almarhum.

Er, waktu ngeliat mayat nya sih saya gemeteran takut juga. Semenjak Nenek dirawat dan meninggal di RS beberapa tahun lalu, saya kan takut rumah sakit dan bunyi alat-alat penunjang kehidupan.😓 Dan ARL memegang tangan saya. So sweet nggak sih? #makinbaper😅

Lalu setelah beberapa lama para keluarga membujuk sang anak yang masih enggan menyerah dan melepas alat-alat dari tubuh ibunya, saya dan ARL keluar ruangan dan kembali bergabung dengan para keluarga lainya.

ARL ngobrol tentang pemakaman dan kegiatan lain yang berkaitan dengan almarhum, sedangkan saya menjawab beberapa pertanyaan lain dari beberapa kerabat yang penasaran dengan pendidikan, pekerjaan dan tempat asal saya.

Dan setelah beberapa saat, saya dan ARL diutus untuk pulang ke rumah almarhum untuk mempersiapkan yang dirumah. Babeh ikut kami sih.

Saya dan ARL sepayung berdua, Babeh hujan-hujanan. Hal aneh kedua yang kami lakukan setelah sebelumnya berkenalan dari jendela mobil.😅

Perjalanan menuju rumah duka berjalan lancar tanpa hambatan. Mungkin efek hujan kali ya, jadi nggak macet.

Babeh bercerita dan bertanya beberapa hal, meminta maaf karena kencan kami harus terganggu dengan mempersiapkan rumah duka, itu yang saya ingat. Pokoknya otot saya yang sebelumnya tegang di situ sudah mulai kendur.

Setidaknya sampai kemudian saya memasuki rumah duka. Why the hell orang-orang (hampir semua orang yag ada di sana) musti menyalami kami? Orang-orang sekitar juga pada kenal ARL ternyata. Saya kembali nervous.

Apalagi saat saya tidak tahu musti melakukan apa. Ditambah lagi baju saya begitu diantara orang-orang berjilbab😑

Dan mereka keluarga Muslim juga. Mungkin ada yang nggak boleh saya sentuh atau bagaimana saya benar-benar tidak nyaman.

Thanks God ARL mengerti dan membawa saya pulang setelah beberapa saat. Its so uncomfortable.

Saya tidak pernah datang dan beberes ke rumah duka sebelumnya. Saya melayat pernahnya ke pemakamam doang. Er, pernah sih ke rumah duka tapi hadir ibadah doang juga.

Sewaktu Kakek sama Nenek meninggal dulu, saya juga cuman nangis di depan peti mati.

Pokoknya begitu lah cerita saya ketemu pertama kali sama kerabat ARL. Yang keduanya nanti bakal saya ceritain sekitar episode lima apa berapa nanti😁

Dan setelah dari rumah duka, ARL mengantarkan saya pulang. Sudah jam sepuluh apa sebelas juga itu.

Tapi sebelum cuz Cibanteng, kami mampir ke Toko Buah Segar dulu.

ARL kan lagi batuk flu nggak jelas, sedangkan dia tuh kayak yang nggak pecaya dokter gitu.

Orang tuanya sih dianterin ke dokter, tapi dianya sendiri kalo sakit tuh nggak bakal mau kalo belum sekarat.

Tapi dia menderita sekali kayaknya gegara batuk dan pilek tersebut. Gegara itu juga kita nggak bisa ciuman. #takutketulervirus

Jadi saya memutuskan bahwa sekalipun nggak mau berobat ke dokter, dia harus mau pakai obat herbal. Dan dalam kasus ini obat herbalnya itu jeruk nipis, lemon, jahe, yang adanya di toko buah. Thats why we go to toko buah segar.

Sampe di dalem sih masih fine-fine aja. Masih becanda pakai buah-buahan kayak di drama Korea, masih gandengan tangan, masih beli groceries buat di kosan saya dengan cara yang romantis. Masih begitu!

Sampai kemudian pas di kasir dia bayar awalnya pakai debit tapi ternyata nggak cocok bank nya dan akhirnya pake credit. Ngeluarin dua kartu kan. Ribet kan? Jadi pas dia lagi masukin balik kartu-kartunya, saya bawa tuh plastik-plastik belanjaan.

Saya juga jalan duluan keluar. Dan setelah melewati pintu, saya kasih lagi itu belanjaan ke dia sambil bilang “inih pegang” dan langsung melenggang saja ke parkiran.

Mana tahu kalau dia bisa bete gegara itu. You have clue? I am not.

Saya hanya terbiasa tidak pernah membawa apapun di tangan saya. Saya tidak tahu bahwa di point of view dia itu bisa diartikan “saya tidak ikhlas” bawa belanjaan itu.

Aneh sih sebenarnya juga. Soalnya itu nggak nyamper dua puluh meter dari mobil dan saya nggak mau ngebawain. Bukan nggak mau sih, itu kebiasaan doang. Mau sama siapapun, saya tidak pernah membawa apapun di tangan saya. Sahabat-sahabat saya sih sudah biasa, tapi ARL agaknya tidak.

Dan saat sedang bertengkar, seperti biasa sayalah yang kalah. Saya selalu jadi yang salah dari zaman baheula. Sayalah yang nangis.

Saya itu gini-gini perasaannya sehalus sutra. Ha ha iya! Jangankan berantem sama seseorang yang argumennya selangit, beramtem sama adek saya yang kecil saja pasti saya yang nangis.

Dan sekalipun begitu, kami berpisah dengan baik-baik malam itu. Pelukan masih hangat, kiss di kening masih dapat, dia juga menghapus air mata saya, everything was fine.

Except. . .

Kesal dia yang sebelumnya masih belum sepenuhnya hilang, sekarang balik lagi gegara ke-tidak-sesitif-an saya.

But guys, saya sampai sekarang masih belum mengerti kenapa saya harus menghubungi seseorang yang baru saja saya temui kurang dari satu jam yang lalu?

Alasan ketiga saya memutuskan mengakhiri itu: dia terlanjur bilang I Love You dan membuat hubungan kami jadi complicated. Untuk masalah komunikasi kami juga tidak cocok.

Bersambung. . .

Next episode saya bakal ceritain tentang pertengkaran di Death by Chocolate dan bagaimana kami nangis bareng😂

Thanks untuk tidak bosan dengan serial percintaan gaje saya😁 See you next time😉

Advertisements

4 thoughts on “Kisahku Dan ARL》》 Part 4

  1. winona571

    Ah okay…. masalah “beda” lingkungan yaa… I see, kebayang sih…
    Trus soal nggak ikhlas, hmm… Kadang mmg gitu ya, buat kita sesuatu yang biasa, buat orang lain sesuatu yang sensitif…

    Liked by 1 person

    1. Kebayang kan😅

      He not all sweet. Kami klop di berbagai hal, tapi juga sangat kontra di berbagai hal.

      Tapi saya nggak menyerah gitu aja gegara kami berbeda doang, saya berjuang kok. . . Sampai ke break event pointnya saya sendiri😁

      Like

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s