Review Memoir of a Geisha by Arthur Golden (Diary Seorang Wanita Penghibur)

Hasil gambar untuk memoir of a geisha
Pic by Goodreads

Mungkin tulisan ini telah sangat terlambat dan tidak akan berguna. I mean siapa yang masih belum tau novel keren, asyik, fenomenal yang sudah difilmkan (2005) dan sukses besar – Memoirs of a Geisha by Arthur Golden?

Oh, kamu? Oke, selow, saya juga baru tau tahun kemaren kok, padahal mah dunia udah heboh dari kapan tau *rolling eyes*

Iya! Bule Amerika yang lahir tahun 1956 ini nerbitin Memoir of a Geisha tuh 20 tahun yang lalu guys, tepatnya di tahun 1997.

Sebelum saya bercecuap lebih jauh lagi, bagaimana kalau kita langsung saja ke sinopsis dulu dan baru sambung chit-chat nanti?^^

Sinopsis:

Sekarang dia adalah seorang wanita tua yang sukses dan ongkang-ongkang kaki menghabiskan waktu saja dengan hobi nya. Dia tidak perlu lagi mengkhawatirkan perut maupun keuangan. Tea House miliknya yang berada di lantai atas sebuah klub di Fifth Avenue sudah cukup menjamin.

Dan kalaupun tidak, dia juga masih tidak perlu sebegitu khawatir. Dengan predikat dia yang terkenal pernah menjadi seorang Geisha Nomor Satu, dia tidak akan sulit mengais rejeki di dunia per-geisha-an.

Tapi tahukah kamu bahwa cerita sebelum kesuksesannya ternyata jauh lebih menarik? Tahukah kamu bahwa sebelum menjadi Sayuri, dia adalah Chiyo? Tahukah kamu bahwa sebelum mengenal gerakan tari dan berdandan cantik, ia hanyalah anak bungsu dari nelayan yang hidup di sebuah Tipsy House kumuh?

Kamu akan tahu jika kamu membaca novel ini.^^

Sumpah saya lama sekali baru ngetik kata lain setelah baris sebelum ini. Bukan kenapa-kenapa ya, masalahnya saya agak sulit mengontrol rasa excited saya sekarang.

Dan biasanya kalau saya udah excited banget, bawaannya ember, spoiler. Padahal kan sopiler teh, nyebelin >.< Oke saya akan berusaha untuk tidak! *muka datar optimis*

Intinya novel ini tuh menceritakan tentang seorang geisha yang menceritakan kehidupannya secara mendetail.

Iya! Mulai dari chapter satu yang mengupas detail masa kecilnya, sampai dengan chapter tiga puluh empat yang mengupas masa tua nya.

Mulai dari bagaimana awalnya dia terjebak pada sebuah keluarga yang sangat miskin sehingga ia terpaksa dijual ke rumah geisha. Kemudian bagaimana ia yang masih begitu belia menghadapi kerasnya tamparan kehidupan sebagai anak asuh di tempat hiburan tersebut, sedangkan impiannya ada di tempat lain. Lalu beranjak pada bagaimana ia menerima dan berusaha membuat unwilling takdir itu menjadi sebuah takdir yang indah.

Gaya bahasanya Arthur Golden itu lho guys, Asia sekali. Membaca novel ini kamu nggak bakal nyangka bahwa yang nulis adalah orang Amerika (Native Speaker). Saya membaca seluruh 429 halaman yang ada dengan nada orang Asia medok. Soalnya Arthur menciptakannya seperti itu.

Btw menurut saya sih, salah satu cara asyik untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, ya dengan membaca novel bahasa bahasa Inggris. Tapi kalo novel gaya native tuh kadang bikin “Ugh” kalo belum biasa. Bahasa yang seperti novel ini nih yang rekomendasi.

Kembali lagi ke novel, Arthur juga berhasil sekali dalam mengemas ide cerita yang sebenarnya klise ini menjadi sebuah masterpiece. Seluruh cerita baik itu cerita persahabatan sekaligus persaingannya dengan Pumkin, cerita senior-junior saling menjahili antara dia dan Matsumomo, cerita senior-junior saling menguntungkan antara dia dan Mameha, sampai dengan cerita asmara (berkaitan dengan cinta) dia baik dengan Mr. Tanaka, Mr. Chairman, Nobu, Mr. Doctor, dan Mr. Jendral semuanya diceritakan dengan apik dan khas.

Latar yang diambil juga keren. Hanya dengan membaca novel ini, kamu bakal takjub karena kamu akan dibawa menjelajadi Jepang di tahun 1920-an sampai dengan New York masa kini.

Pokoknya kalian harus baca!

Siap-siap begadang gegara nggak bisa ngelepasin sebelum tamat, siap-siap bantal buat diremes gegara kamu bakal sering gegeretan pengen mites sesuatu, siap-siap dikira orang gila kalo kamu baca di tempat umum (soalnya banyak cerita yang bakal bikin teriak “Oh my God noooo. . . Aaaaaaaa”, dan juga jangan lupa tisyu gegara kamu bakal dibawa baper maksimal sama kondisi dan jalan hidup Sayuri yang sangat berat itu.

Untuk Memior of Geisha, saya kasih 8/10 deh. Sebenarnya saya akan memberikan 10/10, tapi ada kejadian di halaman 420 gitu yang bikin saya kecewa banget.

Eh, saya tidak berharap sebuah novel berjalan seperti yang saya inginkan (novel ini juga jalan ceritanya nggak ketebak kok, bikin bertanya-tanya “akan bagaimana setelah ini?” sekalipun endingnya jelas), hanya saja kadang ada point-point yang masuk ke red flag saya kalau misalnya sampai terjadi. *nyengir*

Bagi kamu yang udah baca, saya mau tanya, apakah kamu sependapat dengan saya? Bagi yang belum, baca dulu, nanti share pendapat kamu di kolom komentar! See you:)

Advertisements

22 thoughts on “Review Memoir of a Geisha by Arthur Golden (Diary Seorang Wanita Penghibur)

    1. Lha bagi anak SMP sih kayaknya emang masih bikin gagal paham Des. . . Wong pas SMP kan bacaan kita masih Harry Potter, Percy Jackson gitu. Dikasih perjuangan giesha, gelo *nyengir*

      Aku udah bookmark situs film nya. Ntar kalo ada waktu coba nonton ^^

      Liked by 1 person

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s