Nggak Usah Sok Bully (Nyinyirin) Orang! Soalnya. . .

Hasil gambar untuk kasus bully
PeduliSehat.info

Sebenarnya saya agak lama dalam berpikir “Haruskah saya posting tulisan ini?”, karena sebenarnya saya juga suka nyinyirin orang, jujur. . .

Tapi kemudian setelah saya pikir-pikir lagi, saya tidak terlalu suka nyinyirin didepan, kalaupun nyinyir juga. . . I mean kalo di depan pun, saya akan sangat berusaha buat memilih kata-kata terhalus buat nyinyir supaya nggak terlau nyakitin dan jatohnya jadi kayak ‘kritik’ bukan nyinyir bully.

Sekarang ada diantara kalian yang bilang “Aku mah mending dinyinyirin didepan, daripada dibelakang.”

HA!

Kita beda prinsip berarti. Kalo saya sih mending dinyinyirin dibelakang. Toh kalo dibelakang kan saya tidak tahu. Dan kalau tidak tau, emang mau ada efek apa ke saya? Kalau didepan? Saya makan hati!

Dan berhubung saya adalah penulis dan penguasa di sini di blog ini, jadi ya ngikutin prinsip saya saja ya. . . he he he he. . .#kidding #butpleaseikutinaja #pasangmukaimut

Nah, tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari trend netizen Indonesia yang belakangan mulai mulai mengikuti trend nya netizen Korea, SADIS.

Iya! Sekarang di Indonesia tuh internet bullying semakin merebak, kisah-kisah bullying pun bermunculan, yang sebenarnya menurut saya agak sedikit. . . “ngeri dan sedih”.

Ini dan ini salah dua buktinya!

Kenapa bukan content creator saja yang banjir, kenapa musti bullyer (ada nggak sih kata ini? LoL) nya?

Melalui artikel ini, saya, Miss Vallendri yang cantik jelita ingin mengajak Miss-Miss Cantik ataupun Abang-Abang Ganteng sekalian untuk mengurangi (atau kalau bisa menghentikan) nyinyir dan bully yang biasanya menjadi bagian dari hidup kita. Karena. . .

1. Nggak jadi duit

Pertama saya mau pastikan. Dengan membully kamu enggak seketika jadi banyak duit dan kaya raya, kan? Dengan membully kamu enggak seketika didatangi oleh produser yang menawarkan agar kamu jadi artis binaan dia, kan?

Yang ada kamu bisa jadi didatangi pengacara yang meminta kejelasan atas ocehan sembarangan dan tidak beretika yang sudah kamu keluarkan entah dimana (medsos atau secara langsung).

Doesn’t sound that good, right?^^

2. Kamu juga cacat

Iya! Kamu manusia juga kan?

Nah, berarti kamu juga punya cacat cela, sama kayak yang kamu bully dan nyinyirin itu.

Malaikat yang nggak punya cacat cela aja nggak nyinyir dan bully. Masak kita yang penuh dosa ini belagak sok?

3. Kamu punya kerjaan lain kan?

Oke kalo kamu misalnya bilang “Ah makanya gegara aku manusia yang punya banyak dosya dan cacat cela ini, makanya aku bully. Kalo aku malaikat mana mungkin bully. Kan bakal sibuk terbang kesana kemari untuk mencari alamat nyatet dosa dan amal orang-orang. . .”

Nah berhubung kamu menyinggung tentang Malaikat yang sibuk sehingga tidak sempat membully, sekarang saya juga mau tanya. “Kamu pengangguran ya? Waktunya luang sekali sampe bisa bully orang berjam-jam dan dimana-mana begitu.”

*memincingkan mata curiga*

4. Nggak udah ngebully juga kita udah penuh dosya

Seperti yang kita bilang dan sepakati diatas, kita ini makhluk penuh dosya, sekalipun nggak ngebully juga.

Yakin mau nambah berkali-kali lipat cuman karena nyinyirin dan bully orang?

5. Karma berlaku didunia

Udah tau kalo dunia ini selalu diputar oleh tangan Tuhan yang Maha Adil, kan?

Makanya! Kita nggak tau dimana dan bagaimana kita beberapa waktu ke depan. Bisa jadi tahun depan kita bakal berada diposisi orang yang kita bully itu. Mau?

Really? Kamu nggak sabar pengin nyoba? Oke terserahlah!

Yang pasti saya sudah kasih tau dengan jelas bahwa karma itu berlaku didunia. Nggak usah cemas bakal nggak kegilir, pasti dapet kok. Bukan di kamu, ya keturunanmu.

6. Dia juga punya hati

Dan kalo misalnya kamu nyahut “Ah, aku mah nggak percaya Tuhan. Apalagi dosya. . .”

Hm, bagaimana dengan moral dan perasaan, nggak punya juga?

Pikirkan bagaimana perasaan dia! Sekalipun mungkin dia nanggepin dengan senyum dan terima-terima aja, dia sakit. Di bully itu nggak ada enaknya.

Bahkan, ada yang bilang, fitnah lebih kejam dari membunuh.

Tau nggak sih kalo bully itu beberapa persennya adalah fitnah?

Kalo misalnya 100 persen=membunuh, 75 persen=bikin sekarat orang, 50 persen=nyiksa, dan 25 persen=nyakitin, coba hitung dan pertimbangkan yang kamu lakukan sekarang artinya ngapain!

7. Kamu nggak ada hak!

Iya serius yang di subjudul. . .

Kamu nggak ada hak! Kamu dulu ada ngasih susu ke dia nggak? Ada ngasih beras ke orang tua dia buat bikin bubur nggak? Atau ada nyumbang sperma, gitu?

Kalau enggak, itu artinya kamu enggak ada hak buat menghakimi dia.

Saya yakin kamu juga nggak segitu kenal detail hidup dia sampe mempunyai keistimewaan untuk membully.

Ah, kamu, kamu, kamu, kamu, kamu, dan saya, mari mengurangi pembullyan. . . Kalau bisa, mari berhenti! Jangan kembangkan budaya bullying di bumi Indonesia ini

Daripada bully, nyinyir, dan kritik tanpa alasan, bagaimana dengan bergeriliya mencari kelebihan dia dan mulai memuji saja?

Dengan ngelakuin hal positif, kita akan memberi energi positif ke lingkungan. Dan berhubung lingkungan berlaku seperti cermin, jadi kita juga pasti bakal dapet pantulan dan ngerasa positif juga.

Pertimbangkan deh apakah artikel saya ini ngawur nggak berdasar dan salah, atau benar dan musti dapet like+share.

Love you guys. . . keep pretty and happy *wink*

Vallendri Arnout xoxoxoxo

Advertisements

6 thoughts on “Nggak Usah Sok Bully (Nyinyirin) Orang! Soalnya. . .

  1. Aku tim yang kalau mau nyinyirin aku empat mata aja sama aku Val, nggak usah di depan banyak orang. Kalau bisa sih nggak usah nyinyir lah. Kalau emang ada yang nggak disuka ya kasih tau gitu dimana salahnya, lebih bagus lagi kasih saran yang membangun, ya nggak?

    Liked by 1 person

    1. Alasan aku nggak mau di nyinyirin alngsung sih gegara dulu aku pernah (dibecandain tapi bagi ku dinyinyirin) masalah style ku yang sangat cuek. Dan kamu tau, sampai sekarang aku bersedia makai jeans kesempitan, baju nggak segitu nyaman dan bukan tipe ku demi keliatan stylish di kampus. Jujur masih ada kesisa rasa jengkel ku ke mereka sampai sekarang sekalipun udah tiga taun. Aku nggak bisa balik ke diri aku yang cuek dan nggak ngelabelin orang dari barang yang dia pakai lagi. Itu efek dinyinyirin di depan bagi aku. Padahal aku jauh di
      dalem hati aku idup nyaman dengan jeans-jeans yang nggak terlalu nyiksa dan kaos yang luarnya kemeja nggak dikancing. Dan aku pengen balik lagi ke my only butut sneakers. #maafjadicurhat

      Aku suka kalau bisa nya itu El. Nggak usah nynyir sama sekali lah. LoL

      Di kasih saran pun menurut aku kita ngasih saran kalo emang yang dilakuinnya itu “ngerugiin dirinya atau orang lain” aja. Kalo nyinyirin style nya. Jangan deh.

      Like

  2. winona571

    Poin – poin nya betul semua sih… Ya memang nggak membawa kemana – mana bullying itu. Saya juga sebetulnya bukan orang yang suka membully. Apalagi dulu pas sekolah. Terus stlh dewasa sekarang, dapat pelajaran juga untuk nggak gampang menghakimi. Krn bbrp kali habis menghakimi, malah mengalami sendiri. 😀

    Tapi kadang di era medsos ini, ketika ada orang yang ngomong asal njeplak, baru deh.. nggak tahan juga buat jawabin mereka.

    Liked by 1 person

    1. Malah merugikan dan bisa berakibat buruk. . . .

      Hi hi hi hi iya juga sih. . . aku juga kadang begitu sih, mau comment juga sebenernya, tapi entah gimana ujung-ujungnya pasti nggak jadi. . . biasanya udah ngetik dan susah-susah edit baca ulang beberapa kali mastiin itu sopan nggak nyakitin bla bla bla dan ujung-ujungnya selalu batal. .

      Like

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s