Thanks To Kakak Tingkat Yang Psycho, 7 Mahasiswa Ini Tewas Sebelum Wisuda T.T

Gambar diambil dari TribunStyle.com

Berita tentang 3 orang Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang tewas setelah melakukan Pendidikan Dasar (Diksar) di Gunung Lawu, Tawangmangu, Jawa Tengah kemarinlah yang membuat saya menulis tulisan ini.

Ketiga mahasiswa malang itu diduga tewas karena tindak kekerasan yang dilakukan oleh para senior mereka.

Ketiganya baik Muhammad Fadhli, Syaits Asyam,  maupun Ilham Nurfadmi Listia Adi, tubuh mereka penuh luka dan memar.

Dengan kekuatan terakhirnya, salah satu dari ketiga korban, Asyam sempat mengatakan bahwa ada senior berinisial Y yang menyiksa dia. Y memukul punggung Asyam menggunakan rotan sebanyak 10 kali, menyuruh Asyam mengangkat beban berat sekalipun ia kelelahan, kemudian setelah itu memberi beberapa penyiksaan lanjutan ke Asyam.

Dokter menemukan banyak sekali luka di tubuh Asyam, terutama di bagian punggung, selangkang kanan dan kedua lengannya.

Salah satu rekannya mengatakan bahwa saat diksar, Asyam mengungkapkan kondisinya yang sudah tidak kuat dan ingin mengundurkan dari, tapi panitia kegiatan seenaknya melarang seakan-akan mereka bisa menjamin bahwa Asyam akan tidak apa-apa.

Hey. . . Kalian yang sok berkuasa. . . Yang sok menyiksa junior. . .

Gambar kedua orang tua Asyam yang saya ambil dari JawaPost.com
Lihat seberapa besar harapan dan kebanggan saat mereka melihat foto anak mereka. Apa hak kalian untuk merusak semua itu? Kalian siapa? Mereka melahirkan dan membesarkan anak mereka bukan untuk menjadi budak siksa kalian!
Sebangga itu, jadi senior? Sebangga itu, lahir sedikit lebih cepat dari mereka?
Ah. . . Asyam dan dua temannya hanya segelintir kecil dari banyaknya korban ‘hebatnya’ para senior di Indonesia.
CATATAN BESAR: SAYA MENULIS INI TANPA ADA MAKSUD MENJELEK-JELEKAN INSTITUSI TERTENTU. INI MURNI UNTUK MENGINGATKAN KEMBALI JEJAK HITAM DI MASA LALU AGAR MENJADI KESADARAN DAN TIDAK DIULANGI LAGI.
1. Siswa Taruna STIP Marunda, Amirulloh Adityas Putra
Gambar Amir dan pacarnya yag saya ambil dari Paling Seru
Umurnya baru 19 tahun. . . perjalanan hidupnya masih panjang. . . masih banyak yang belum ia lihat. . . masih banyak yang belum ia rasakan. . .
Tapi apa. . .
Empat seniornya yang berinisial SM (20), WS (20), IS (22), dan AR (20) malah mengambil dan menginjak-injak semua peluang, impian, dan harapan dia.
10 Januari 2017, sekitar pukul 17.00 WIB setelah latihan drumband, taruna yang akrab disapa Amir ini dipanggil menghadap oleh para senior.
Ya, tanpa penolakan atau basa-basi, ia dan enam teman dia yang lain, datang saja ke alamat yang diminta, tepatnya ke gedung dormitory ring 4 STIP, kamar M, nomor 205, lantai 2.
Tak ada yang menyangka (atau memang sudah tahu saja bakal begitu???), ternyata mereka hanya dipanggil untuk disiksa.
Mereka dianiaya dengan tangan kosong secara bergantian.
Tanpa henti para senior memukuli Amir dkk di bagian perut dan ulu hati sampai terjatuh dan tewas (dalam kasus Amir).
2. Siswa Taruna STIP Marunda, Agung Bastian Gultom
Agung dan keluarga. Foto diambil dari blog Diaznada42
Masih di kampus yang sama, pada tanggal 12 Mei 2008, 10 orang senior STIP Marunda merenggut nyawa seorang maba (mahasiswa baru) bernama Agung Bastian Gultom.
Oleh kesepuluh senior arogan yang gila hormat diatas, Agung dinilai tidak respect dan melawan ke senior.
Karenanya, sang maba pun dihadang dan dikeroyok lalu dibiarkan terkapar di jalan sampai tewas.
Tragis? Iya!
Salah satu keinginan terakhir korban (disampaikan oleh seorang teman) bahkan minta dibacakan salah satu ayat Alkitab dari Habakuk 1 :12-17 yang isinya tentang kekejaman dan kekejian para manusia. “Diamanakah keadilan-Mu Tuhan. . .?” dan itu tertulis di nisan Agung.
Foto nisan Agung yang juga diambil dari blog Diaznada42
3. Siswa Taruna STIP Marunda, Dimas Dikita Handoko

Foto Dimas yang saya ambil dari ©2014 merdeka.com/yan muhardiansyah
Masih dari kampus yang sama dan oleh para senior gila hormat yang sejenis, kali ini di tahun 2014, Dimas Dikita Handoko yang diambil hidupnya.
Ceritanya Dimas dan beberapa temannya yang lain dinilai tidak kompak serta tidak respect sama para senior.
Dengan alasan sepele dan konyol itulah, Dimas dkk dipanggil ke rumah kos salah satu pelaku.
Awalnya diceramahi dan disakiti secara verbal, lalu setelah masih saja belum puas, para senior belagak Tuhan itupun secara bergantian memukuli dan menendang perut, dada dan ulu hati para korban.
No, tidak hanya itu, mereka juga menendang kaki dan menggampar pipi para korban.
Fisik Dimas yang malang pun tidak kuat menghadapi itu. Ia tumbang dan kemudian menghembuskan napas terakhirnya.
4. Praja IPDN, Cliff Muntu
Foto Cliff Muntu yang saya ambil dari blog Chirpstory
Bullying di sekolah yang menyebabkan kematian lalu kemudian ditutup-tutupi oleh para petinggi demi menjaga pamor sekolah, awalnya saya pikir hanya ada di drama Korea.
Ah, ternyata saya mah kurang piknik. . . Di kehidupan nyata juga ada. Di Indonesia, malah.
Pada tanggal 3 April 2007, seorang praja bernama Cliff Muntu, tewas secara misterius di kampus tercintanya, IPDN.
Sehari sebelumnya, Cliff tiba-tiba jatuh pingsan usai mengikuti pelatihan drumband. Dan setelah mendapatkan pertolongan pertama ia dibawa ke Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
Pihak IPDN yang ingin menutup-nutupi pada mulanya mengatakan bahwa Cliff meninggal di RS Al-Islam karena telah lama menderita penyakit liver.
Namun dokter di rumah sakit itu menyatakan bahwa Cliff sudah tak bernyawa ketika tiba di rumah sakit. Dan sepertinya. . . bukan liver. Menurut mereka itu karena terjadi pendarahan parah di organ-organ dalam tubuhnya.
Belakangan, dokter menemukan banyak sekali bekas luka lebam di tubuh Cliff. Bahkan yang lebih gila lagi, mereka juga menemukan bekas suntikan formalin di tangan almarhum.
Ah, jangan remehkan kebenaran peribahasa “sepintar-pintarnya topai melompat, pasti akan jatuh juga.” guys. . .
Saat otopsi, tim forensik Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, menemukan bahwa jantung, paru-paru, limpa, hati, ginjal, otak, buah pelir dan dada praja itu, semuanya mengalami trauma dan pendarahan karena benturan benda tumpul.
Tau nggak apa yang miris? Bukan begal ataupun preman jalanan yang menyebabkan semua cacat pendarahan di tubuh Cliff itu.
Mereka adalah praja-praja terhormat berpendidikan dan pintar, senior nya sendiri. Dan yang memerintahkan untuk menyuntikkan formalin ke tubuh Clif, itu tidak lain adalah seorang dosen. Lexie Giroth, Dekan Managemen Ilmu Politik dan Pemerintahan IPDN.
Dekan! Dekan! Dekan!
Can you believe it? I know its hard to believe, but you should. Its real!
Dan tidak hanya sekadar Cliff Muntu. . . Cliff mah yang terekspos media. . .
Salah satu dosen jujur yang bernama Inu Kencana Syafei mengatakan bahwa kekerasan dan ketidakadilan di IPDN adalah lahan tempat panen uang para pejabat korup.
Menurut Inu, di IPDN, pelanggaran-pelanggaran mah bisa ditebus dengan uang. Nyiksa temen tapi nggak sampe meninggal, 150 jeti. Kalo mbunuh, 300 jeti. Kalo dugem dan sejenisnya, tiga jeti. . . Lha buset. . . *rolling eyes*
Menurut hasil riset disertasi doktor milik Inu, dalam rentang tahun 1990-2005 saja, IPDN sudah menelan setidaknya 35 korban meninggal, namun yang terekspos media baru 10-an saja.  (detik.com)
5. Maba ITN, Fikri Dolasmantya
Foto almarhum Fikri yang saya ambil dari Radar Malang
Tewasnya salah satu maba peserta ospek mahasiswa jurusan planologi ITN yang dilaksanakan di kawasan Gua Cina Sumbermancing Wetan, Malang pada tanggal 9-13 Oktober 2013 lalu kembali menambah deretan panjang dan kelam di dunia perospekan.
Ia adalah Fikri Dolasmantya Surya asal Lombok NTB.
Fikri mulai menjadi bulan-bulanan senior saat dia berusaha melindungi beberapa teman yang mengalami ketidakadilan parah.
Dia diperlakukan dengan sangat brutal dan bahkan dipanggil ke dalam tenda panitia untuk disiksa.
Seorang saksi mengaku bahwa dia dan teman-temannya bahkan mendengar ancaman sadis para senior yang berbunyi “Kalau kau mau mati, mati saja kau. Biar dikubur di sini.”
Wow! Apa hak mereka mengatakan hal begitu ya?
Dari kompas.com saya menemukan berita bahwa saat orientasi, peserta bukan hanya mendapat kekerasan fisik dan mental dari pra senior mereka, tapi juga pelecehan seksual.
6. Akademi Maritim Djadayat Jakarta, David Richard Jamati
Keluarga David, fotonya saya ambil dari viva.co.id
Senin 25 Februari 2012, salah satu mahasiswa Akademi Maritim Djayat Jakarta meninggal dunia.
Sebelumnya mahasiswa semester satu itu mengalami cedera dan pembengkakan di bagian kepala. Itu merupakan hasil pembekalan dari akademi yang ingin ia jadikan tempat menuntut ilmu.
7. Praja IPDN, Jonoly Untayanadi
Korban yang sudah tidak bernyawa. . . Saya ambil dari Banjarmasih Post
Masih di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), hanya saja yang kali ini IPDN Sulawesi Utara.
Salah satu praja tingkat tiga, Jonoly Untayanadi, tewas pada 25 Januari 2014.
Ia adalah mahasiswa pindahan dari IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.
Kematiannya sangat sadis dan mengenaskan. Saat diwaba ke RS, dari mulut Jonoly terus keluar darah.
Itu dia. . . setidaknya ada tujuh orang yang informasinya berhasil daya himpun dari berbagai sumber yaitu; kompas.com, merkeda.com, kaskus, suara.com, detik.com, viva.co.id, psycopath diary, dan kompas.com
Dear para senior gila hormat. . . apakah kalian puas dengan hasil kerja nyata kalian?
Wahai para adik yang sudah (maupun yang akan menjadi) junior kampus. . . Jangan pernah diam dan membiarkan diri kalian disiksa dan diperlakukan tidak adil atas nama apapun.
Mari berantas budaya aneh dan tak manusiawi ini. . .!
CATATAN BESAR: SAYA MENULIS INI TANPA ADA MAKSUD MENJELEK-JELEKAN INSTITUSI TERTENTU. INI MURNI UNTUK MENGINGATKAN KEMBALI JEJAK HITAM DI MASA LALU AGAR MENJADI KESADARAN DAN TIDAK DIULANGI LAGI.
Please follow, like, dan share ya. . .
Advertisements

14 thoughts on “Thanks To Kakak Tingkat Yang Psycho, 7 Mahasiswa Ini Tewas Sebelum Wisuda T.T

  1. Geregetan banget kalo ada berita kayak gini. Heran ya kenapa senior2 tuh mikirnya ‘kalo dia dulu digituin sama seniornya, dia juga harus melakukan hal yg sama terhadap juniornya’. Ospek yg ada perpeloncoannya tuh nggak penting banget ya. Kenapa ospek nggak diisi sama seminar bertema (misalnya) bahaya narkoba aja. Kan lebih bermanfaat tuh.

    Liked by 1 person

  2. Jd mahasiswa itu keras jendraaal.
    Emang bener kok di STIP mayan keras dan biasanya yg mukulin itu senior yg dlu wkt junior sering kena pukulan jd semacam dendam gt lah.
    Mantan aku, mantan gebetan alumni STIP jd suka korek-korek cerita mereka menghindar soal ngadepin senior dlu.
    Kalo kata mantan gebetan, dipanggil ke kosan senior jangan mau. Krn diluar wilayah asrama, jd sekolah ga bs bertanggung jwb.
    Gonjlokan kya gitu sbnrnya ga dibolehkan sm pihak sekolah, tapi kayak jadi “budaya” bagi para senior. Klo ga di gojlok, nti junior gampang manja dan ga ada hormat sm senior
    *katanya sih gt.

    Liked by 1 person

  3. Duh sedih dan tragis ya bacanya beritanya :(. Mana universitas yg pertama itu adalah almamater saya pula. Perasaan disana jarang deh ada perploncoan kayak gitu, waktu ospek juga gak serem2 amat, yg ada malah pas ospek gitu banyakan kita di jelasin tentang keagamaan 😀

    Liked by 1 person

  4. Emang udah tradisi nyiksa junior di sekolah militer. Gimana pun juga, saya meyakini terus terjadi dan tidak bisa dihentikan karena seniornya pun dulu diperlakukan seperti itu ketika masih junior.

    Liked by 1 person

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s