The Truth About Valentine (Tentang Valentine)

20170208_103529

Hey guys, valentine sebentar lagi. Sudah bisa dihitung dengan jari, coba! Apakah kalian sangat excited untuknya?

Saya? Iya dong! Saya saaaaangat excited.

Pertama, karena valentine tahun ini saya nggak jomblo dan memiliki seseorang untuk merayakannya bersama secara kekinian. #pengenbangetjadikekinian #nggakjuga #sekadarmencairkansuasanaartikel #stophashtag #oke #getit

Kedua, saya, , , saya suka dengan urusan yang begini. Saya suka semua yang berkaitan dengan kasih, sayang, dan cinta.

Mereka itu kek, selalu identik dengan tawa, senyum, dan kebahagiaan.

Yeap, even for kaum jomblo! Lha iya. Emang cinta dan kasih sayang cuman buat lawan jenis? Ada orang tua, ada sahabat, ada keluarga besar, bahkan ada nenek-nenek yang duduk di samping kita waktu di angkot yang bisa menjadi sasaran kita untuk menebarkan cinta.

Oaky.

Sekarang saya tahu pasti ada diantara reader (s) yang langsung mengatakan, , ,

“Yang begitu kok nunggu valentine, tiap hari lah!”

Hmmm, , , *menggetukkan telunjuk di bibir bawah*

Yakin sudah melakukan itu tiap hari? Yakin bahwa selama ini nggak sering lupa nelpon Mama dan bilang “I love you Ma. Nggak ada kata yang bisa menggambarkan seberapa berterimakasihnya aku karena ditakdirkan jadi anak Mama. Kalau suatu saat ada reinkarnasi, dan Mama harus melahirkan seseorang lagi, tolong lahirkan aku ya. . .”

Saya sih sering lupa.

Kadang di pagi hari saya teringat bahwa saya sudah lama tidak telepon, lalu kemudian saya meniatkan untuk menelpon nanti setelah rada siangan dan saya nggak terlalu in chaos.

Chaos berlalu, saya sudah tidak terburu-buru, saya kemudian meraih HP dan ingin menunaikan niat.

Pas pattern di buka, , , WA dari pacar menggunung, notif grup lebih lagi, notif blog sudah kayak apaan tau, belum lagi yang dari sosial media lain, dan ‘niat’ yang tadi serta merta terkubur oleh mereka.

Beberapa hari kemudian, handphone saya berdering dan ada tulisan “Mum calling” di sana.

Saya sayang sama Mama saya, saya sayaaaaaang, dan itu ‘tiap hari’. Tapi, saya hanya ingat untuk mengungkapkannya beberapa kali dalam setahun.

Padahal kan saya tidak tahu seberapa lama lagi saya memiliki waktu untuk melihat beliau dengan senyum khas nya setiap saya ucapkan “I love you” itu.

Begitu juga ke Papa, saudara, pacar, sahabat, temen, dll.

Disaat seperti itulah valentine datang. 14 Februari datang dan mengingatkan kita tentang perlunya menebar kasih sayang dan cinta ke sekeliling kita.

Bagi saya valentine bukan ‘hari kasih sayang’. Tapi hari yang mengingatkan saya untuk mengambil waktu sejenak, memberi dan menerima senyum dari dan ke orang-orang yang saya cintai.

So, happy ‘early’ valentine guys. . .

Advertisements

3 thoughts on “The Truth About Valentine (Tentang Valentine)

  1. winona571

    Hahaha… apalagi saya. Bilang “I love you Mom” seharusnya jadi kewajiban. Soalnya Valentine day adalah hari kelahiran saya. 😀 Terima kasih sudah dilahirkan… bisa menikmati kehidupan yang menyenangkan.

    Dan tahun ini, juga istimewa sih… Pertama kalinya Valentine day dan punya “seseorang”.
    Cuma nggak ngarepin romantis2an sih… Soalnya ybs ada sidang pengadilan di hari itu. 2 biji lagi… 😛

    Liked by 1 person

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s