5 Pemicu Drama Antara Saya Dan ARL

20170325_205957
Abaikan wajah dan badan kami (saya khususnya) yang semakin membengkak

Oke postingan ini memang sama sekali tidak ada di dalam ‘list to post’ pada awalnya.

Tapi ya, well, pada awalnya kan emang semuanya kagak ada yang ada kan ya. #apasih #itumembicarakanawalmulapembentukandunia #abaikan #lagingaco

Intinya ini adalah postingan yang sama sekali tidak direncanakan. Titik. #pentingbangetya

Terkhusus untuk Mbak Kunu dan Mbak Momo, ini dia lima besar pemicu drama antara saya dan ARL. Kalian bisa berpendapat apa saja nantinya, kalian bisa menilai apakah ARL ini orangnya adalah yang phsycomaniac over posesif atau bagaimana, jangan sungkan-sungkan untuk menyadarkan saya.

1. Dia bilang saya orangnya nggak ikhlas-an

Ini penyebab pertengkaran pertama kami lho guys. Kalau enggak salah, saya juga ada menceritakannya di sini (Kisahku dan ARL Part 4).

Waktu itu dia sedang mengantarkan saya pulang dari rumah bibi nya yang meninggal tapi mampir dulu ke toko buah segar.

Kita tuh membeli beberapa buah dan makanan, sama sekali nggak banyak. Bayangkan saja jumlah buah dan makanan yang harganya kurang dari Rp. 200.000. Sekitar 189-190 kalo nggak salah.

Anyway intinya nggak banyak dan saya sama sekali nggak keberatan untuk membawa itu dengan tangan saya sendiri.

Yeah, jadilah sewaktu ARL sedang sibuk memasukkan kartu-kartu nya (pas membayar somehow dia terlihat ribet karena mengeluarkan beberapa kartu), saya berinisiatif untuk membawa belanjaan tadi terlebih dahulu keluar.

Ini sumpah kebiasaan doang, murni sama sekali nggak ada disebabkan karena saya nggak ikhlas ngebawa barang itu, saya menunggu ARL keluar di depan pintu lalu menyerahkan belanjaan tadi ke dia.

Nah yang di otak dia, itu gegara saya nggak ikhlas bawain itu sekalipun jarak dari depan pintu ke mobil sama sekali nggak lebih dari 10 meter.

Sebenernya masalah yang waktu itu sih nggak segitu gedenya, tapi ya berhubung itu masalah pertama kami, jadi bagi saya ini lumayan selalu teringat. Dia juga sampai sekarang masih gimanaaaa gitu nggak pernah biarkan saya membawa barang. Wkwkwkwk

No honey, saya fine membawa barang di tangan saya asalkan barang itu nggak penting dan sudah siap hilang. :p

2. Saya nggak ngabarin dan bales singkat

Nah sebenernya masalah yang pertama tadi kan langsung selesai di dalam mobil kan.

Wong ya saya jelaskan bahwa itu memang kebiasaan saya, nggak pernah membawa barang atau apapun setiap kemana-mana dengan siapapun.

Yeah, dengan teman-teman pun, kalau misalnya ada beli sesuatu, saya adalah seseorang yang selalu tidak pernah kebagian membawanya.

Pertama karena saya orangnya super pelupa dan segala hal yang nggak bener-bener lengket sama badan saya bakal ketinggalan, jadi anak-anak pada nggak mau ambil resiko.

Perasaan saya pernah share tentang keteledoran saya di Liburan Vallendri Secara Garis Besar ini deh.

Anyway sorry saya gagal fokus lagi, mari balik ke pembahasan point dua . . .

Kan ceritanya dia nganterin saya kan. Udah cipika cipiki, french kiss, peluk, gerayangan #what #kidding lengkap dah pokoknya.

Eh malam itu juga pas dia sampe rumah, kami bertengkar lagi.

Dia mempertanyakan mengapa saya tidak memberi kabar pas saya sudah sampai kosan.

At first its kind of weird, actually, dia minta dikabarin saat baru saja kami bertemu dan dia mengantarkan saya pulang.

Tapi belakangan saya mengerti kenapa dia melakukan itu. Dia mengatakan bahwa dia ingin kepastian bahwa saya sudah sampai dengan selamat saat pulang melewati gang ke kosan.

Nggak jauh sumpah, cuman ya gitu, entahlah, cowok punya kecemasan tersendiri yang agak unik, I guess.

Latelly, saya membandang itu sebagai sesuatu yang manis.

Hanya saja kan waktu itu masih awal-awal, saya masih sangat tidak terbiasa dan merasa tertekan.

Terus selain masalah mengabari yang jarang sekali saya lakukan, dia juga memprotes masalah kebiasaan mengirim pesan saya yang saaaaaangat singkat.

Saya tidak akan pernah bisa melupakan moment dimana dia mengatakan ke saya “Aku pengen bikin kamu marah terus. Aku suka kalo kamu lagi bawel begini.”

Itu waktu dia lagi sakit tapi malah makan makanan yang berminyak dan bersantan. Kan lagi sakit perut harusnya nggak boleh. Jadi saya rada marah dan mengomeli dia.

Ah guys, sayang sekali sudah tidak ada bukti untuk itu gegara handphone saya hilang kemarin, tapi intinya saya mengakui bahwa tingkat kecuekan saya dalam membalas pesan di masa lalu itu derajatnya sangat parah dan saya bisa mengerti kenapa dia protes.

Saya bahkan pernah menjawab deretan kata I love you dan ucapan selamat malam yang manis ala dia dengan “Iya” dan “Oke”

3. Saya masih berkirim pesan dengan mantan dan pedekaters bule saya

I know itu sangat aneh dimana saya berpikir bahwa saya bisa terus bersama dengan para pedekaters, mantan dan memiliki ARL di waktu yang bersamaan.

God, saya salut seberapa lama dia bertahan dan bersabar sebelum kemudian meledak dan memprotes agar saya berhenti berhubungan dengan mantans dan pedekaters siapapun itu.

I dont know, saya pikir dia baru mengungkapkan kekesalannya itu setelah dua bulan. . .

Saya selalu mengatakan bahwa saya dan mantan saya itu bersahabat. Kami curhat, kami bercerita, kami bercanda, just like sesama sahabat.

Nah di sudut pandang ARL, nggak ada yang namanya bersahabat dengan mantan.

Dengan mantan itu hanya ada ‘damai sekadar saling sapa’, atau masih cinta dan berencana balikan.

Perkataan dia terbukti.

Mantan saya yang saya pikir sahabat itu actually not really a sahabat=sahabat. Dia bersahabat dengan saya karena dia masih sayang dengan saya. Dia hanya menunggu saat yang tepat untuk mengompori saya dan membuat saya udahan dengan ARL.

Terus yang sahabat nggak pake mantan, I mean sahabat (ceritanya) dari awal, dia juga nggak sepenuhnya sahabat pula.

Mereka menjadi sahabat saya karena mereka tertarik dengan saya sebagai wanita.

Its weird untuk menyadari seberapa polosnya saya memandang dunia ini dan terus menyakiti ARL dengan itu.

Okay maybe saya terkesan membenarkan semua yang dilakukan ARL disini, but tetap please nggak usah sungkan buat kritik dan memberi tanggapan menurut kalian. Saya membenarkan dia karena saya sedang mabuk kepayang sama dia. Yang bisa berpikir dan menilai jernih itu ya kalian. *wink wink*

4. Saya suka berpikiran buruk

Kek waktu itu waktu kena amandel, dia ada marah besar lumayan ngambek gegara saya manja nangis-nangis bilang “Gimana kalo misalnya nanti aku meninggal, pasti dikuburinnya di Kalimantan. Kamu bakal dateng nggak ke acara pemakaman ku? Terus tiap tahun di ulang tahun kematian ku, kamu dateng nggak?” wkwkwkwk

Terus saya juga pernah ngobrol tentang ditabrak mobil la la la yang dia juga marah gegara kata dia jangan ngomong yang aneh-aneh.

I dont know guys, mungkin kapan-kapan saya bakal cerita selengkapnya kalau misalnya saya ada waktu.

Tapi dari kecil saya sudah bersiap untuk berumur pendek.

Actually selama tiga tahun (SD kelas 3-5) saya selalu menyimpan dress natal saya dengan sangat baik dengan tujuan agar bisa memakai itu dan terlihat cantik sewaktu di peti mati.

Ceritanya kan ada mitos di Kalimantan khususnya di kalangan orang Dayak yang mengatakan bahwa siapa saja yang kepalanya pernah kelompat sama bunglon, itu artinya dia nggak akan punya umur panjang.

Nah waktu dulu di kelas tiga, kepala saya kelompat sama bunglon dooooong. Wakakakaka

No no no worries, sekarang sih saya udah nggak cemas dan kepikiran masalah bunglon itu sih.

Hidup dan mati kan ada di tangan Tuhan. Saya hanya akan menikmatinya saja sekarang, kehidupan. Pakkkkk bunglon dan mitosnya.

5. Lupa anak yatim dan kurang bersyukur

God, peer yang sangat berat dan wajib dari ARL.

Menurut dia, rejeki yang kita dapatkan itu nggak pantes dimakan/pakai kalau misalnya belum disisihkan terlebih dahulu ke yang lebih membutuhkan (dalam hal ini anak yatim).

Menurut ARL, sebelum gaji yang diterima sampai ke rumah, sepuluh persen nya harus ada di tangan anak yatim dulu.

Itu ibaratkannya kek membersihkan rejeki itu agar tidak menimbulkan hal buruk sekaligus menyenangkan hati Tuhan.

Kata dia, rejeki yang kita terima itu nggak semuanya milik kita, sebagian darinya ada titipan dari Tuhan untuk anak yatim dan kaum kurang mampu lain.

Saya pikir itu memang ada di ajaran Islam, isnt it?

Me, in the other side, memang diajarkan untuk berbagi sejak kecil, hanya saja tidak musti setiap dapat rejeki.

Misalnya kan dia teh bonus sama gaji kan misah kan, jadi pas dapet gaji, cus anak yatim. Pas dapet bonus, cus lagi ke anak yatim.

O my God ini karena efek saya kurang piknik bareng Alkitab nih ya. Di Kristen juga ada sih sebenernya, persepuluhan namanya. Sama kek yang diyakini ARL, memberikan sepuluh persen rejeki ke yang membutuhkan.

Tapi ya saya sangat tidak terbiasa dengan itu. Saya sekeluarga bersedekah di saat-saat (atau pas lagi pengen) tertentu, saat kami memang mendapatkan rejeki yang lumayan besar, misalnya ada proyek besar dan untungnya besar, baru sedekah. Tapi per bulan, enggak always check kayak dia.

So intinya, bersedekah setiap bulan tanpa absen, its kind of ‘baru’ sekali bagi saya.

Saya niatin, saya pengen, saya selalu tersentuh mendengar cerita anak yatim yang menggantungkan hidup mereka kepada uluran tangan hangat seperti yang ARL lakukan, saya pengen berbagi bersama mereka.

Tapi masalahnya niat saya nggak cukup kuat dan konsisten untuk keep per bulannya nyisihin gitu.

Awal-awal doag semangat dan niat sekeras baja.

Kadang dateng godaan barang bagus yang seharga sama duit yang harusnya saya sumbangkan. Kadang ya perancangan bulanan saya nggak sesuai sama bayaran yang saya terima dari gawe ecek-ecek saya. (FYI saya sekarang sudah tidak mendapatkan allowance lagi).

Citttt, , , saya bisa bercecuap lebih banyak lagi jika saya tidak melihat jumlah kata yang sudah saya ketikkan.

Intinya itu dia mereka-mereka pemicu drama antara saya dan ARL.

Kalian bisa menilai apakah ada indikasi super posesif dan maniak dari dia. Ditunggu komentarnya, see you next time:)

Advertisements

30 thoughts on “5 Pemicu Drama Antara Saya Dan ARL

    1. Peka banget Kez. . . Kebalikan dari aku. Tapi ya kita sekarang udah mulai semakin saling terbiasa ke satu sama lain.

      Btw gimana kabarmu lama nggak kedengeran? Kapan ke Jabodetabek nya? Udah hampir akhir bulan ini *meringis*

      Like

      1. winona571

        Sorry, udah balik Belgia 2 hari lalu.
        Waktunya mepet, ga sempat mampir. Aku soalnya ada sakit serius…. yang bikin aku nggak optimal survey pengumpulan data nya.

        Liked by 1 person

  1. Doi peduli banget sama yang nomor 5 Val haha. Keren2
    Btw mengingat jatuh bangunnya hubungan kalian, sebenarnya ada lebih dari 5 poin yang bisa disebutkan kan? HA HA! *eh *sotoy level naga

    Liked by 1 person

    1. Keren dan konsisten banget emang. Dia ampe bilang bahwa itu penting banget buat aku ikutin kalo emang serius aama dia. Tapi susah banget buat diikutin dan dikonsistenin Del. . .😅
      Dan yeah, lebih dari 5 point sebenernya. Tapi yang ini yang nggak selesai2 (dan gede dan bersumber dari ARL) sampe sekarang sering kebahas. Yang lainnya sih kepecahkan aja sampe sekarang.
      #ceklekFadelyangsotoytapibener

      Like

    1. Oh gitu ya Mas Dikdik.

      Thanks. Sekarang aku udah lumayan ngerti dia juga sih. Kadang kalo dia lupa/telat ngabarin, aku juga degdegan. Bukan gegara takut dia udah diambil orang atau gimana, tapi ya takut terjadi apa-apa juga. Hi hi hi hi

      Like

      1. Ahahahaha iya thanks Kun.

        Emang gitu makanya aku nggak bisa bete ‘beneran’ sama dia soalnya kecerewetan dia itu beralasan dan baik sebenernya. Cuman ya rata-rata susah dijalankan. :p

        Thanks udah balik lagi buat kasih peyukan tertinggalnya. ^^ #superbahagia

        Liked by 1 person

      2. Aaaa noted Kun doakan saja segala rencana bener-bener fall into its place ya. Aku janji bakal undang kamu dengan catatan pas dateng nggak bawa terlalu banyak plastik item (buat bawa makanan pulang #ketawa).

        Liked by 1 person

  2. Hmmmm semua kayaknya normal2 aja kok val. Kecuali soal “ngga ngabarin, lupa ngabarin, baru smpet ngabarin” dan berujung jd pertengkaran. Sumpah yg kya gini ga enak banget dan nyebelin sih. Soalnya aq pernah pny mantan yg super ribet klo aq lupa,baru sempat, tau ngga kasih kabar walaupun gue cuma ke mall yg jaraknya 2 km dr rumah.
    Klo masbeb, alhamdulillah dia mah selooow kagak ribet. Dia baru ribet klo aq bls chat singkat “iya, ngga, oke” ribetnya jadi drama hihihi plus emoticon sedih, galau, takut klo saya ngambek sm dia. Pdhl aq baik2 aja, bls chat singkat cm krn lg males ngetik panjang2 aja.

    Liked by 1 person

    1. Iya sampe sekarang sih kadang saya berpikir itu nyebelin sih Syer, walaupun nggak se nyebelin pas awal-awal.

      Thanks atas pandangannya.

      Mas Bebi lucu deeeeh. Nggak sabar pengen liat foto nikahannya.^^

      Sebenernya emang gitu kan ya. Kalo misalnya nggak gegara ‘males ngetik’, kadang emang ada aja orang yang kalo di pesan itu emang selalu singkat. *rolling eyes*

      Like

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s