Berburu Makanan Ke Kota Kembang Bandung

bandung
Ngulon

Sadar nggak sadar, setelah putus dari ARL, saya jadi ‘lebih’ sering bepergian. Walaupun sendiri, walaupun waktu nggak banyak, adaaaaa aja trip ke luar kota dadakan yang berhasil dilakuin.

Yeah, sekalipun nggak jauh, nggak naik pesawat, intinya saya ninggalkan Bogor ataupun Jakarta.

Mungkin karena sudah nggak butuh izin dan denger penundaan “Ngapain kamu berangkat sendiri? Entar kalo ada selah ambil cuti, kita berangkat bareng deh.” dan sejenisnya lagi.

Ternyata nggak cuman nikah, jomblo pun membawa berkah. Hi hi

Nah ini short trip ke Bandung yang bakal diceritain ini tuh, kejadian nya pas dua hari setelah putus.

28 Juli 2017

Saya teh sumpeeeeeek banget di rumah (waktu itu saya dikasih keistimewaan libur gegara saya mau resign [tapi bos nggak mau ngasih resign] abis error putus ama ARL. Jangan tanya, I know itu aneh dan saya sudah sangat sadar akan hal itu sekarang). Mana rencana mendaki gunung ke Garut udah batal gegara ARL sebelumnya sewaktu kami masih jadian.

Blank! Sampai kemudian ide itu muncul. . .

Ceritanya pas nonton YouTube nya neng Eli (youtuber asal Bandung) makan lotek, iler saya netes lima liter gegara pengen.

Pikir-pikir-pikir, akhirnya daripada kena resiko kehabisan iler, saya call lah pak supir untuk meminta tolong dia menemani saya ke Bandung.

Dia mau? Tentu saja, kan emang digaji untuk lakukan itu. Nanya mah basa basi doang. Wuahahahaha #ditampolsupir

29 Juli 2017

Jam setengah 5 subuh, sambil nguap-nguap kedinginan, saya sudah siap di depan kosan dan menunggu abang driver uber yang mau nganter ke stasiun. Iya, posisi waktu itu lagi pulang ke Bogor, niat mau resign, kan. ^^

Nggak dateng-dateng dong sampe jam 5.

Asem? Iya. Tapi inilah kekurangan uber yang sering saya alami. Driver nya pada lethoy. Entah itu disaya doang, saya nggak tau. Yang pasti saya mah nggak punya begitu banyak memori bagus sih sama angkutan online dengan tarif termurah ini.

Okay di tahap ini kalian pasti bertanya-tanya kenapa saya nggak cancel aja? Apa saya segitu ketakutannya kena penalty 5000 karena cancel?

Jawabannya adalah no, saya nggak takut kehilangan 5000 kok. Alasan saya hampir nggak pernah cancel driver segimanapun kelakuan mereka adalah karena pernah satu ada driver yang curhat yang kira-kira singkatnya menceritakan bahwa “Walaupun banyak yang hanya sampingan, tapi banyak juga yang memang itu mata pencaharian sehari-hari mereka. Cancel dari penumpang itu mengurangi rate mereka which is lumayan berakibat buruk dan itu artinya secara nggak langsung menutup pintu rejeki mereka.”

Menutup pintu rejeki orang? Not a thing that I like to do.

Balik ke pagi itu, akhirnya saya cancel juga itu uber (nggak mungkin saya nunggu lebih lama lagi), kemudian berangkat dengan saudara sepupu nya, grab bike.

Kali ini bebas hambatan tanpa drama. Babang grab berhasil mengantarkan saya ke stasiun dengan kecepatan tinggi dan tiba dalam 22 menit.

But then, kapan sih hidup Vallendri bisa benar-benar bebas dari drama? Jarang!

Pas mau masuk stasiun, kehebohan dimulai ketika saya menyadari bahwa kartu KRL multi trip saya ketinggalan di kosan which is mean saya harus membeli yang THB and with another mean that I should berdiri iting-iting mengantri bersama banyak pembeli lain sedangkan janji awal adalah saya akan bertemu dengan pak supir di stasiun Cawang di jam 7 which is imposible mengingat itu adalah sekitar satu jam dan 20 menit dari waktu itu.

Ke Cawang teh selancar-lancarnya KRL, saya selalu perhitungkan setidaknya butuh waktu satu setengah jam. Dan waktu itu (posisinya belum dapet tiket), saya sudah minus sepuluh menit.

Saya hubungi pak supir lagi untuk mengatakan bahwa dia bisa datang jam 8 saja daripada menunggu telalu lama. Tapi ternyata, beliau sudah di perjalanan untuk ke Cawang.

Ternyata selama ini supir saya itu adalah supir yang selalu mengusahakan datang 30 menit lebih awal daripada janji. I love you pak. Hi hi^^

Singkat cerita, saya baru menapakkan kaki di Cawang dan memulai perjalanan di sekitar jam setengah sembilan.

Screenshot_20170831-172249
Sudah super macet dan penuh dengan mobil-mobil begini-_-

Tapi ya mau gimana lagi. Apa opsi lain yang bisa diambil selain terus maju? Saya tidak akan putar balik.

Anak soleh dan baik hati pasti diberi kemudahan. Hi hi

20170729_095638

Liat deh, itu yang di foto itu adalah jalanan pas 10 km-an mendekati Bandung. Lancar jaya.

Saya pindah duduk ke kursi depan gegara boring dan supaya lebih mudah cerita-cerita sama pak supir. Kaki yang begitu jangan ditiru ya. Berbahayok. *rolling eyes*

Waktu itu kira-kira udah jam setengah satu siang ketika kami keluar pintu tol dan masuk ke salah satu jalanan public di Bandung.

Lupa mengambil foto, tapi jalanannya benar-benar sedang lenggang sekali. Hanya ada beberapa mobil yang berpapasan sesekali sehingga saya memutuskan untuk membuka jendela.

Aneh kalau kamu nyebut Bogor itu kota yang sejuk. Bandung lah yang pantas menerima gelar itu.

Saya baru menutup jendela setelah mulai memasuki keramaian dan pedagang jalanan memeberi kembalian dari bayaran untuk kue. . .

20170729_111724
Ini

Bandung memiliki lampu merah super banyak, lotek macan sebagai makanan pertama yang ingin saya makan berada 5 km di kejauhan, kue beras (Rp.10.000) itu dibutuhkan untuk ganjalan sementara.

Mungkin karena bercampur efek lapar, tapi serius saya sangat menikmatinya. Saya dan bang supir masing-masing menghabiskan dua bar sampai kemudian di kunyahan terakhir tak terasa kami pun sampai ke. . .

20170729_122401
Lotek macam yang legendaris

Karena niat setelah lotek adalah bebek asap, maka pak supir pun memutuskan untuk tidak memesan apa-apa.

Bukan karena saya tidak meneraktir, tapi karena katanya dia nggak bisa terlalu banyak makan. Dan kalau harus memilih makan apa, dia lebih prefer ke nasi beneran daripada lotek yang begitu-begitu.  Ha ha

Saya pun hanya memesan lotek (Rp.16.000), kolak campur (Rp.10.000) , dan aqua (Rp.5000) untuk saya sendiri.

20170729_123129
Lotek dan kolak campur ala lotek macan. . .

Sumpah guys, disitu saya khilaf baaaaanget pas makanin itu lotek dan kolak. Itu tuh kek yang. . . enak banget, nggak berasa MSG, nggak bikin eneg.

Bagi penyuka pedas, saya sarankan untuk memesan yang ‘super pedas’. Soalnya yang ‘pedas doang’ bagi saya nggak berasa pedas sama sekali. Ha ha

Itu doang sih kekurangannya, defenisi pedas nya mereka sama saya ternyata rada beda. :p

Kolak campurnya? Jangan ditanya!

Saya yang nggak suka kolak-kolakan aja ampe pengen nambah seandainya nggak keinget sama list tempat makan yang ada di agenda. ^^

Porsi nya pas banget. Walaupun terdiri atas 5 elemen yaitu kolak pisang, candil, bubur sagu, bubur lemu dan bubur jali, mereka nggak ampe kebanyakan dan bikin bosen.

Saya tuh jujur paling nggak suka sama tempat makan yang porsinya buanyak banget tapi kualitas dibawah rata-rata.

Mending dikit tapi enak lah daripada banyak tapi banyak doang. Iya nggak sih?

Anyway intinya gitu. . . Dengan kualitas rasa yang seperti itu, sama sekali nggak heran gimana mereka bisa bertahan dari tahun 1974. Hi hi

Kemudian keinginan bang supir untuk makan bebek asap sebagai makanan kedua kandaslah saat kami menemukan bahwa bebek asap muara jalan macan ternyata bukanlah bebek asap yang ada di list saya.

Bebek asap depan itu bukanlah bebek asap legenda. Ia hanyalah anak bawang yang baru saja buka beberapa bulan sebelumnya.

Batagor riri malah yang menjadi pilihan.

Saya memesan satu untuk masing-masing batagor dan siomay, lalu memilih kuah baso saja alih-alih bumbu kacang.

20170729_125927
Ini penampakan batagor riri

Saya mengetahui batagor riri ini dari rekomendasi banyak orang. Kebanyakan review mengatakan bahwa rasa batagor disini tuh enak super dewa. Tapi kok saya ngerasanya kok. . . biasa aja? Ha ha

Asli nggak ada istimewa-istimewa nya sekalipun sepertinya selalu direkomendasikan oleh banyak blogger dan artis.

Apalagi mengingat harga nya yang Rp. 13.000 per piece kecil. Total Rp.26.000 untuk itu tuh kek, tamparan pake sepatu banyak tanah persis di wajah.

Kuah nya tuh kek bening nyaris tawar cuman banyak seledri dan bawang goreng doang. Terus batagor nya juga nggak jauh beda.

Satu kalimat dari saya? Bukan tempat yang akan saya kunjungi kembali!

Well, bisa jadi sih, untuk mengulang pengambilan foto di kotak telepon itu. Sesebabang supir asal ambil sih. Nggak merhatiin background.

20170729_131839
Ngapain cobak helm dan sebagainya di belakang sana ikut-ikut?

Ha ha anyway langsung skip ke destinasi selanjutnya. Saya memilih untuk berangkat sejauh lima kilo meter menuju ke pasar cihapit. Ada legenda lain yang ingin saya sambangi disana.

Saat menuju ke pasar cipahit, air mata saya hampir menetes melihat ada satu dress super cantik yang ada di list saya masih terpasang di manikin reruntuhan sisa kebakaran D’Fashion jalan Malabar.

20170729_132743
Sisa si jago merah

Cantik banget. . . seandainya itu tempat nggak kenapa-kenapa, saya pengen mampir dan membawa sahabat (batal dipinang) saya itu. . . hiks hiks hiks. . .

Saya masih merasa lesu sampai kemudian mobil terparkir di jalan dekat gerbang pasar cipahit.

Kenyataan bahwa keberadaan kami saat itu hanya 500 meter dari warung nasi bu Eha pasar dalam pun berhasil mengembalikan semangat drop saya.

Ya iya lah. Masak mau makan di tempat makan langganan para pahlawan termasuk Bung Karno bergitu malah lesu nggak bertenaga? Dungdung!

Dengan langkah pasti saya dan bang supir pun masuk ke dalam pasar yang (sejujurnya) lumayan tidak rekomendasi sebagai lingkungan tempat makan.

Kami sempat lumayan kesusahan untuk menemukan warung yang di maksud. Letaknya terlalu ke dalam. Beruntung saja pak satpam baik hati yang jaga di depan mau antarkan kami.

20170729_134432
Jejeng. . . warung nasi bu Eha pasar cihapit tampak dari depan

Bagi kamu yang jijikan dan diare ketemu lalat, ini warung bukanlah tempat yang tepat. Lalat’e buanyak beud guys, ciyus.

Tapi anehnya, sekalipun berada di tempat horror dan begitu, yang dateng saya perhatikan mayoritas bukan orang kerah biru deh.

Kelihatan dari merk (bukan gaya ya) pakaiannya. Rata-rata mehong.

Bang supir nggak mau apa-apa selain teh hangat. Saya doang yang memesan ayam goreng.

20170729_134759
Makanan yang saya pesan di warung nasi bu Eha

Nah tau nggak apa yang ketche dari warung ini? Mereka menyediakan unlimited sambel dan lalap. Dan itu rasanya. . . surgawi plus plus.

‘Agak’ terlalu pedes sih buat saya pribadi, tapi kek nya buat kebanyakan orang yang lagi makan waktu itu, nggak ada kata terlalu. Mereka pada makan dan minum dengan anteng nggak kesetanan kayak saya. Ha ha

Kalau enggak salah ingat ya, untuk nasi, ayam goreng, teh, dan lalap seabrek itu, saya cuman ngeluarkan duit Rp.19.000

Murah badai untuk ukuran tempat makan terkenal. Serasa nggak percaya. #tuhkan #mahalngeluh #murahsoksokangapercaya #mauneopo

FYI bu Eha nya masih ikut jualan lho guys. . . sekalipun udah tua, beliau masih kuat buat duduk dan jadi cashier.

20170729_135921
Ini foto ketche yang kami ambil bersama

Udah tua banget kan? Semoga beliau sehat terus deh. Thanks banget udah ngewarisin sebuah tempat makan dengan sambel seenak itu.

Dan keluar dari situ, saya benar-benar sudah sangat kekeyangan dan tidak bisa menerima apapun lagi ke dalam perut saya.

Tips: Makan ke warung bu Eha sebaiknya dilakukan pagi-pagi. Kalo siang kek saya, kalian bakal nemu satu atau dua menu doang dan itu pity sekali.

Saya hanya bermaksud untuk menemani supir saya makan saja tapi dia malah mengatakan bahwa dia nggak terlalu laper setelah gazillion jam sebelumnya sudah makan kue beras.

Saya memaksa takut dia meninggal kelaparan, tapi dia juga memaksa mengatakan bahwa dia nggak lapar. Ya apa boleh buat kan.

Akhirnya saya putuskan bahwa saya akan berpura-pura makan lagi dan memesan lebih banyak agar dia juga ikut makan.

Tapi sebelumnya, beli camilan pentol ndower Solo dulu. . .^^

Nah sebelum-sebelumnya, tiga tempat makan telah terlewati, semuana ketche baik-baik aja tanpa drama kan. Kali mencari pentol ndower Solo ini, baru deh mulai lagi.

Tiga kali kami di bawa muter ke tempat yang sama oleh gugel mep eror. That what I mean with tempat yang sama itu bukan kek cuman muter selama beberapa kali injekan gas, tapi muter yang jauh pake banget dulu.

Kezel? Sangat. Tapi ya mau gimana lagi. Demi tempat makan enak mah saya nggak bakal mundur.

Ern, bakal deng. . . Waktu itu saya putuskan mundur juga setelah sangat lelah, supir udah mengulang kalimat ‘yakin masih mau cari itu?’ sebanyak enam kali, dan kami sekali nyasar ke dalam area pesantren. Ha ha

Dengan berat hati saya pun merelakan untuk tidak kesampaian ke pentol ndower. Kasian takut si supir malah nangis.

Kemudian sebagai balasan, saya nggak lagi mikirin dia makan apa enggak. Malah dengan jahatnya saya mengajak dia langsung pulang. #superjahatemang #plismaafinyahbang

Tapi ya sampe tengah-tengah saya nggak tega juga ngelakuin yang begitu kejam. Tepatnya di rest area tol Cipularang km 97, saya ajak dia berhenti dulu.

Sembari mengisi perut, perhentian itu bertujuan untuk mempersilahkan kemacetan jalan sedikit berkurang. Saya liat di map, jalan di sekitar Bekasi dan sekitarnya itu merah super.

So, yeah, sekali tepuk dua nyamuk mati di tangan.

Lupa nama restorannya apa, yang pasti saya memilih yang paling pojok dekat dengan masjid.

20170729_164643
Dia order nasi goreng
20170729_164446
Saya order roti bakar

Dua duanya sangat enak. Iya, saya nyicip nasi goreng dari piring supir saya. Emang kenapa? Emang situ oke? Sewot banget. Ha ha :p

Untuk minum kalau enggak salah dia pesen teh manis, sedangkan saya pesen capucino dan air mineral.

Mehong sih ini tempat. Tapi ya bisa dimengerti lah namanya juga rest area. Kalau enggak salah saya tuh total ngeluarkan Rp. 150.000 apa Rp.120.000 dan kembaliannya pakai receh doang.

20170729_170542
Masjid nya ketche kan?

Saya masuk ke sana tiga kali. . . untuk ke toilet nya.

Nampaknya makanan yang saya makan di Bandung sebelumnya itu telah tercerna dengan mudah karena langsung dibawa berkendara. #apasihhubungannya

Anyway, yeah, that’s pretty much that I can share. Till next time. . .

Bonus tebak-tebakan:

Apa yang bisa mengalahkan angin kencang?

20170729_164104
Hint jawaban ada di foto ini

 

Advertisements

13 thoughts on “Berburu Makanan Ke Kota Kembang Bandung

  1. Ahh aku jadi kangen Bandung…. Kalau di Bandung tuh, harusnya main di daerah yg banyak mahasiswa, daerah Dipati Ukur, Setiabudi, pokoknya daerah situ, banyak makanan enak soalnya, dan tentu saja harga mahasiswa. Btw kamu berhenti di KM 97, dan melewatkan 1 hal, kamu gak nyobain Soto daging purwakarta.. Haduh itu soto rekomended banget sih..

    Like

    1. Noted deh buat kunjungan selanjutnya.

      Nggak efektif sih yang kemaren itu. Soalnya letak tempat-tempat yang di list aku itu nggak tersusun berdekatan. Jadi ribet.

      Terus soto daging nya, yang tiga toko dari mesjid ya? Hampir kesitu sebenernya T.T

      Like

  2. Itu kaki ckckck. Koq kita sama sih, suka naikin kaki kalo di mobil 😂😂😂😂😂
    Btw, itu yg pertama bukan nasi beras tapi ketan bakar. Atau istilah sundanya ulen.
    Bandung memang surgawi… duh udah seminggu gak ke Bandung jadi kepikiran

    Liked by 1 person

    1. Hua ha ha ternyata senior juga suka ngelakuin hal sesat ini. . . fiuhhhhh *menghapus keringat* :D:D:D:D

      Oh oke oke aku edit deh. Abisnya bingung mau nanya lupa.

      Ayo ke Bandung lagi. Aku juga pengen nih buat nyelesaikan masih banyak lagi list yang belum kesampean. Udah terlalu kenyang kemarin tuh.

      Like

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s