Kenapa Saya Mending Sepatu Mahal Daripada Sepatu Murah?

20171122_192322
Casual shoes Urban Revivo usia 2 tahun masih bening buluk dikit doang

Sebelum lebih jauh, mari kita samakan pemahaman, bahwa yang dimaksud sepatu mahal disini adalah sepatu dengan rentang Rp. 500.000 sampai dengan Rp. 2.000.000, sedangkan sepatu murah adalah sepatu yang harganya dibawah Rp. 100.000 tanpa diskon.

Tentu saja bukan mengikuti skala mahal dan murah di mata Syahrineng ya kita. . .^^

Kenapa saya menulis ini? Thanks to kegeraman saya pada seseorang yang always menyindir dengan mengatakan “Da gua mah apa atuh, oke dengan sepatu murahan, nggak kayak Vallendri yang langsung alergi kalo nggak ada merk.”

Alergi kalo nggak ada merk? Beraninya anda mengatakan itu!

Saya selalu setia dengan sepatu seperti yang saya punya selama ini bukan karena alergi, sombong, atau sok gaya ya. Saya punya alasan yang jauh lebih dalam dari itu.

Pede amir kalian kalau sampai beranggapan bahwa saya mau mengorbankan banyak uang hanya agar terlihat wow di depan kalian. Emang kalian siapa?

Saya tuh suka barang-barang seperti yang saya pakai saat ini tuh karena. . .

1. Saya nyaman memakainya

Saya bukan tipe kaki berbau ya, khususnya kalau memakai sepatu yang baru sekali atau dua kali pakai setelah cuci.

Tapi saat memakai sepatu Rp. 35.000, kaki saya langsung bau di pemakaian perdana.

Sumpah ini bukan karangan mengada-ngada karena ingin menjelek-jelekan sepatu murah, ini nyata.

Kata mama sih mungkin dari bahan nya itu entah bahan daur ulang atau bahan apa lah yang bikin jadi gampang bau.

Pokoknya beda banget sama kek allstar, H&M, Zara, Nike, Urban Revivo dkk yang saya pake kadang ampe sebulan lebih cuman ganti kaos kaki doang tuh nggak ada bau sama sekali, cuman keliatan buluk dari luar tapi dalem nya nyaman.

20171122_205917[1]
Sendal rumahan Yongki Komaladi, usia 1 tahunan pake tiap hari dalem rumah

2. Tahan lama

Terus ini nih salah satu alesan yang penting banget. Sepatu mahal tuh tahan lama. Percaya nggak, saya masih punya salah satu allstar fav saya dari masa SMA.

Iya, saya masih punya sepatu dari umur 17 tahun sampe sekarang udah hampir 24.

Saya berani jamin, yang Rp. 35.000 nggak mungkin tahan diajak berjuang selama itu. Jangankan tujuh tahun, tujuh jam pun kadang nggak sanggup.

SEKALI LAGI ini nggak ada niat menjelek-jelekkan ya, tapi saya punya cerita nyata.

Sewaktu masih sama si MJ dulu, saya sering banget memperpanjang waktu kencan dari yang awalnya weekend doang ampe molor ke Senen ke hari kerja which is waktu itu merupakan hari kuliah buat saya.

Iya, balik nya tuh baru pagi Senen langsung buru-buru ke kosan ganti baju doang langsung berangkat kuliah.

Dan once upon a time, berbarengan dengan ‘ada kuis’, jalanan Bogor macet gila sehingga saya nggak punya waktu buat balik ke kosan dulu.

Nggak ganti baju? Its not the problem. Saya selalu keliatan fresh kok sekalipun belum mandi. Yang jadi masalah adalah nggak ganti sepatu.

IPB punya semacam peraturan yang mengharuskan seluruh mahasiswanya agar memakai sepatu yang menutupi punggung kaki dan tumit, which is lawan dari wedges santai saya pada waktu itu.

Gimana dong? Ya saya harus ganti gimanapun caranya.

Minjem temen? Not an option. Pertama karena waktunya udah bener-bener mepet dan banyak temen yang sudah berangkat. Kedua, kaki saya ukuran jumbo which is bukan tipikal kaki wanita pada umumnya yang menyebabkan saya sulit mencari temen dengan kaki cocok untuk dipinjam.

Satu-satunya solusi yang logis adalah dengan membeli sepatu baru dari sekitar jalan saya ke IPB.

Nah saya kasih tau ya guys, jalan ke IPB (Fakta-Fakta Kampus IPB) itu bukan kayak jalan ke UNPAD atau ke UGM yang kiri kanan nya bangunan dan toko-toko keren ya.

Jalan ke IPB itu. . . .

Hasil gambar untuk jalanan dramaga
Get it?

So, yeah, sepatu terbaik yang bisa saya dapatkan hanyalah sepatu  Rp. 35.000

Pas berangkat ke kelas sih masih aman. Tapi baliknya. . . Langsung ribah, (Read: kebuka sol nya) kalo kata orang Dayak mah.

Hanya seumur satu mata kuliah dong Ceu! Gila nggak?

3. Sesunguhnya malah lebih murah

Dan kalo udah gitu, jatohnya sepatu Rp. 35.000 malah jauh lebih mahal daripada yang Rp. 700.000 kan?

Simple, harga bagi usia aja, perhitungannya. Iya nggak?

Rp. 700.000 bagi 7 tahun (konversi ke hari) berapa? Terus Rp. 35.000 bagi sehari berapa?

Anyway temans blog sekalian, gimana menurut kalian? Sorry ya, lama nggak ada kabar. Eh sekalinya nongol langsung nyinyir meong. Hua ha ha ha

Advertisements

14 thoughts on “Kenapa Saya Mending Sepatu Mahal Daripada Sepatu Murah?

  1. Sama, aku juga susah tiap mau nyari sepatu. Biarin mahal yang penting nyaman, harga sedang juga gpp asal nyaman. Dulu pernah beli sepatu murah banget tapi kakiku lecet berdarah-darah. Nyari sepatu itu harus pinter milih, kaya nyari pacar 😅

    Liked by 2 people

  2. setuju sih, memang kalau sepatu atau sandal yang bermerk biasanya lebih awet..
    tapi tetep, diskon lebih mengoda, ketimbang beli tidaka da potongan..
    kalau aku pakai yang standart aja, gak mahal gak murah, yang penting ena di pakai

    Liked by 2 people

    1. Nah gitu emang Mas. Ujungnya kita bisa makai lebih lama kan.

      Iya lah siapa yang nggak gila diskon. Aku juga baru mangkir di tempat-tempat sepatu kalo udah ada tulisan up to 70% walaupun diskonnya palsu udah harga naikin dulu. ha ha

      Samaaaa kayak aku juga. Bukan yang mahal merk apa. Standart standart aja (mahal di kantong ku doang) :p

      Like

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s