Derita Yang Harus Ditanggung Saat Hidup Seorag Diri

20171004_100848
Abaikan wajah menyedihkan ini. Hi hi

Duh judulnya, sedih dan curhat banget gitu.

Tapi ya mau gimana, belakangan emang lagi down banget, dan fakta-fakta keluhan tentang hidup sendiri mulai berdatangan silih berganti bikin sedih dan pengen cepet-cepet ditemenin, tapi jombloooooooo. He he

Well, saya emang nggak di rumah orang tua lagi itu udah dari awal kuliah enem tahun yang lalu, emang.

Tapi kemaren-kemaren itu, tinggalnya bukan di rumah melainkan di kosan yang segala-gala seperti air, listrik, dan kebersihan udah termasuk di biaya sewa dan dibayarkan setahun sekali saja.

Ugh, it was nothing like now I live in a real house with all the things on me.

Sekalipun ini memang impian saya sejak jaman purba, hidup seperti ini, seperti wanita-wanita keren tokoh utama dalam novel-novel chicklit, saya mulai merasa sangat-sangat lelah.

Beberapa malam lalu sepulang bekerja capek-capek, saya menemukan fakta bahwa air di rumah lagi macet.

Pas shower dinyalakan, yang keluar hanya angin-angin dari pompa air yang menandakan bahwa air bak penampungan kemungkinan besar sedang dalam keadaan kosong.

Why?

I was berkeringat as h*ll, lengket as f*ck, letih as ev*l, and f*cking naked ready for hot shower, bagaimana bisa-bisanya air malah keluar seperti pipis cicak doang?

Dengan sangat marah, saya mengambil handuk (nggak punya jubah mandi) dan nekat keluar untuk memeriksa bak penampungan dan melihat apa yang terjadi.

You know what happened? Ban depan kanan terparkir tepat di atas pintu bak.

Lalu kemudian setelah memindahkan mobil dan menjadi lebih marah lagi, dugaan tentang bak penampungan yang kosong sangat terbukti.

Saya menelpon PDAM tapi tidak dijawab. Mungkin karena sudah terlalu malam, sudah hampir jam 12 soalnya.

Saya menangis.

Kangen kosan yang kalau masalah seperti ini terjadi tinggal call teteh penjaga dan langsung ditangani tanpa ribet.

Kangen rumah yang kalau terjadi juga tinggal bilang papa dan sama langsung ditangani tanpa perlu pusing-pusing berbalutkan handuk dengan badan gerah.

Lalu setelah tenang, saya teringat bahwa bulan ini saya nunggak bayar dan sudah dapat peringatan.

Jangan-jangan, airnya dimatikan sama PDAM. Dulu di rumah juga pernah kejadian sama soalnya.

Jadi ya gitu, saya langsung cus ngecek ke keran, dan. . . .

20171126_094426
Taddddang!

Benar-benar dimatikan sama PDAM. Btw abaikan sampah di situ yang udah menjamur abadi. Tar dibersihkan. Fokus sama kawat yang melilit-lilit nggak karuan itu aja. Ha ha

Lalu masuklah saya ke dalam rumah kembali.

Saya merenung, bersedih, dan mengasihani diri sampai entah jam berapa dan pokok-pokok tulisan ini pun lahir.

Hati saya tergugah untuk berbagi pengalaman tentang susahnya hidup sendiri dan menjadi wanita kuat.

Dan kalau penasaran, langsung saja ya. . .^^

1. Mengurus A-Z sendiri

Mulai dari menyapu, pel, mengisi kulkas, mengisi galon, membuang sampah, sampai dengan membayar segala pembayaran, semuanya ujuk-ujuk harus kamu lakukan sendiri.

(Read: Curhat Kemalasan Saya Untuk Urusan Bersih-Bersih)

Well, lucky you sih kalau mampu sewa pembantu buat lakukan semuanya. Tentu saja akan lebih mudah dan nggak kerasa apapun.

Tapi bagi yang punya banyak keinginan dan kudu musti harus mengirit setiap sen pundi uang untuk mencapainya seperti saya, ya seperti judul point ini. And I warn you, its not as easy as it sounds like. He he

Saya telat membayar manajemen dan didenda Rp. 50.000 LAGI. It almost happened tiap bulan.

Somehow saya selalu lupa bahwa di tanggal dua puluh setiap bulannya segala-gala harus dibayar dan itu musti dateng ke kantor manajemen. Nggak jauh sih dari rumah, tapi ya gitu. . . #banyakalesan

2. Mengeluarkan uang untuk segala urusan itu (sekali lagi) sendiri

Nah ini juga sendiri yang lain yang nggak kalah menyakitkan hati.

FYI banget nih ya buat kalian para single-single yang sebenernya nggak perlu-perlu banget tinggal sendiri di rumah, mending pilih apartemen atau kosan aja dulu.

Tinggal di rumah ternyata mengeluarkan biaya yang sangat gila. Saya baru beberapa bulan dan nyaris kehilangan napas setiap bulannya.

Sebut saja bayar manajemen. . .

20171126_101831.jpg
Rp.185.000 dan saya jadi Rp.235.000 karena termasuk denda Rp.50.000

Saya selalu lupa bahwa setiap tanggal 20 harus membayar mereka.-_-

Terus kemudian bayar listrik. . .

Saya pakai AC, kulkas, mesin air buat naikin ke lantai atas, mesin penghangat air buat mandi, dan teko perebus air buat bikin kopi.

20171126_104302.jpg
Itu baru saya isi, per bulan minimal saya harus menyediakan Rp. 300.000

Terus sesudahnya, kamu juga perlu bayar air. Jangan sampai kena putusin dan batal mandi seperti yang terjadi pada saya.

Untuk air sendiri tergantung pemakaian. Dan pemakaian saya yang menurut saya jauh dari boros karena hanya untuk mandi, cuci mangkok/piring paling satu atau dua per hari, toilet, cuci kancut saja mencapai. . .

20171126_101926.jpg
Totalnya bulan ini (BULAN DIPUTUSIN) seperti yang terlihat jumlahnya hampir 400 rebut yaitu tepatnya Rp.396.000

Ini aer yang paling nyesek karena jumlahnya paling banyak.

Kemudian kawan-kawan nya yang lain seperti sampah dan fasilitas (kolam renang, taman) yang saya jadi pusing plus trauma kalau mesti di detailkan lagi.

Pokoknya itu. Satu juta masih kurang hanya tok buat bayar-bayar doang. Jadi kalau mau tinggal sendiri, sekali lagi mikir ulang saja.

Ini untung banget rumah nggak sewa. Kalau sewa bisa gila lagi. Bisa nggak makan, bisa nggak ada duit buat bayar domain blog.

Padahal kalau dulu di impian, saya tuh bakal sewa dulu sebelum saya bisa beli sendiri. Sok gaya beud. Ha ha

3. Kesepian

Nah sekalipun kamu punya gaji selangit yang bisa sewa pembantu dan bisa bayar semua pembayaran tanpa ngeluh, kamu bakal tetep ngerasain derita yang satu ini.

Sepiiii. Nyeseeeek.

Apalagi kalau kamu seperti saya yang terbiasa hidup dengan banyak orang.

Waktu tinggal di rumah, saya bersama kedua orang tua, dua adik kandung, dua adik anjing <they are family>, sama sepupu yang numpang. Saya punya banyak anggota keluarga. Ha ha

Kemudian setelah merantau, saya tinggal di kosan yang super besar dengan 64 kamar dan semuanya cewek yang suuuuper berisik yang mana kadang nyebelin tapi juga kadang disyukurin.

Pas pindah ke rumah, sendiri, rasanya kek kehilangan sebagian dari diri. Sepi ya ampuuuun.

Udah ah, gitu dulu curhatannya. Takutnya kalian bosen dari kemaren-kemaren ngeluh mulu. *hapus keringet*

PS: Pas ngedit saya inget Grant yang mati lampu gegara tinggal sendiri juga dan lupa isi token listrik. Toss lah.^^

Advertisements

23 thoughts on “Derita Yang Harus Ditanggung Saat Hidup Seorag Diri

  1. Semangat Valll aku tau deritamuuu hehehe dulu kan tinggal sendirian juga. Walau di apartemen, tp kalo apartemen sewa di sini semua2 tetep urus sendiri juga kecuali air gratis dr gedung. Sisany sama ajaaaaa. And yg soal capek dan sepi itu berasa banget apalagi kalo di kerja pun lg shit

    Like

  2. winona571

    Hmm… thanks sudah share. Belum pernah bener2 sendirian dalam 1 rumah sih. Yang pernah, ngekost… tinggal di asrama… housingnya universitas. Meski kalau di sini… kost an dan housing nya universitas juga sepi buanget sih…

    Like

  3. Wah hidup sendiri sepertinya susah. Nggak tahu deh, belum pernah ngalamin. Tapi klo ada kesempatan pasti akan bergaya minimalis seperti orang jepang. Itu sih keliatannya enak, tapi nggak tahu deh gimana menjalaninya entar. πŸ˜€

    Like

  4. Wah hidup sendiri sepertinya susah. Nggak tahu deh, belum pernah ngalamin. Tapi klo ada kesempatan pasti akan bergaya minimalis seperti orang jepang. Itu sih keliatannya enak, tapi nggak tahu deh gimana menjalaninya entar. πŸ˜€

    Like

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s