Tentang Film Jigsaw 2017 Dan (Mostly) Curhat Si Jomblo Yang Nonton Sendiri

jigsaw
Gambar diambil dari YouTube

Di era milenial kekinian ini, memamerkan kemesraan di depan umum memang bukanlah hal tabu lagi.

Pasangan-pasangan yang masih pacaran, udah tunangan, udah menikah, atau bahkan baru PDKT pun, kian sulit untuk dibedakan.

Yang baru gampang dibedain itu, “mereka-mereka diatas” sama “kita-kita yang jomblo” saja. Ha ha

For me, it is not really a problem. Their right, right? Yeah, I’m not really care until. . . Fadel post his curhat.

On that curhat, Fadel tells about his misery, being single in front of all these couple. Pasangan-pasangan tersebut terlihat semuanya berseri-seri dan ada tempat bersandar. Hanya dia saja yang terlihat konyol sambil sesekali mendapat lirikan “Kamu kapan?”

Pas baca itu, saya ngakak nggak terkira. Pengalaman nonton sorangan ditengah-tengah lautan couple semalam kembali berkelebat di mata. ^^

Nah kan ceritanya gini. . .

Semalem itu, setelah meredam selama dua minggu pasca gagal menonton Jigsaw seperti yang saya singgung di tulisan ini, kesabaran saya akhirnya habis juga.

Tidak bisa. Saya sudah tidak sanggup untuk menunggu lebih lama lagi sampai ini film bisa muncul HD di our fav website streaming lk21. Saya harus berangkat menonton ke bioskop, tekad saya.

Dan setelah memutuskan begitu, saya pun langsung cuz ke google untuk mencari bioskop mana yang masih ada. Itu berhubung filmnya udah lumayan lama mengudara, jadi khawatir sisa sedikit saja yang masih mau keep, dan benar, untuk wilayah Jakarta, Jigsaw hanya ditemukan di CGV Central Park dan AEON Mall Serpong.

Asli bingung banget pas mau menentukan. Jalur GPR-AEON dan GPR-Central Park sama-sama suram sih.

Tapi ya dengan beberapa pertimbangan dan ekspektasi, akhirnya Central Park lah yang terpilih.

Is it the right choice? BIG NO. Itu adalah kesalahan terbesar saya di 2017. Hua ha ha

Sekalipun udah berangkat dari rumah di pukul 17.34, which is hampir 3 jam sebelum jam tayang di 20.15, saya tetap terlambat.

Ekspektasi dan gossip yang mengatakan bahwa Jakarta itu less macet kalau hari libur (weekend) gegara orang-orang pada keluar kota sama sekali salah besar.

JAKARTA STILL MACET NO MATTER WHEN.

Saya nggak ada ambil foto gegara batre low dan kabel data ketinggalan, tapi percaya deh, di detik mobil saya keluar dari tol buat putar balik ke Central Park, di detik itu juga waktu berhenti.

Call me alay but that is the fact. 2 jam lebih untuk 3.4 km lho pemirsa sekalian.

Sepanjang jalan saya pusing mijet kepala memikirkan “Dimana saya bisa nebeng parkir dan naik gojek saja ya ini?” tapi tidak menemukan apapun sampai kemudian tiba di Komplek Apartemen Mediterania dan nyempil disana.

Already 20.35 guys. Sementara jam tayang nya 20.15 dan jarak dari mobil ke Central park nya masih sekitar 1 km dan belum lagi ke P13 dimana bioskopnya berada. Totally nggak kekejar. Nggak lucu kan kalo saya baru masuk sesudah film setengah jalan diputar.

Akhirnya saya kembali diperhadapkan dengan dilema jam 22.25.

Mau balik lagi dan batal nonton, tapi udah terlanjur pengen dan banyak perjuangan. Tapi mau nonton juga kok malem banget dan masih 2 jam lagi. . . Asli perdebatan hati tingkat parah.

Tapi ya akhirnya ‘nonton wae lah’ pun menjadi pilihan final. Saya memesan tiket dan memutuskan untuk menunggu.

20171127_215711
My ticket

Nggak ada ruginya kan. Malah untung bisa latihan persiapan kesabaran buat menunggu jodoh yang khawatirnya bisa lebih lama lagi. *rolling eyes*

Dan begitulah. Saya, seorang diri, jomblo, dengan HP lowbate, sebotol teh panas, dan seember popcorn pun duduk manis di kursi tunggu CGV.

Mungkin karena efek sudah larut kali ya, tapi semua orang diwaktu itu, baru saya sadari, 90% bersama pasangan masing-masing, 9,99999% bersama teman-teman, dan 0.0001% sendiri seperti saya. -_-

Ada yang sender-senderan sambil merem ketiduran bedua, ada yang berbagi headset sambil pegangan tangan, ada yang mengamati satu hengpong bersama sambil ketawa-ketawa, ada yang memeriksa tas belanjaan sambil disuapin hot dog sama si cowok nya, uh dll lah, saya nelangsa kalau musti mengingat dan mendeskripsikan semua.

Pokoknya setelah baca tulisan Fadel, saya jadi merasa syedih. Saya penasaran apa yang mereka pikirkan ketika melihat saya. Akankah mereka juga ada mengirimkan lirikan (hanya saja saya yang nggak sepeka Fadel) semacam “Kamu kapan?”, “Temen/pacar mu mana?”, bla bla bla sejenisnya? Apakah mereka berpikir saya aneh? Atau apakah mereka berpikir bahwa saya adalah si wanita dengan sweater, legging, scarf, kaus kaki, dan sandal rumahan yang menyedihkan?

Ah bodo lah yang penting kemaren saya berhasil nonton Jigsaw dan ngerasa happy aja. . . Hi hi

Dan ngomong-ngomong tentang Jigsaw, sekarang setelah 715 kata curhatan tertuliskan, saya baru akan mulai membahasnya. *nyengir*

Pertama sebelum sampai ke detil-detil, saya akan memberikan penilaian secara global dari saya yang berada di angka 6/10.

Kok bisa serendah itu? Bukannya itu adalah film favorit yang udah ditunggu-tunggu?

Ya mungkin EKSPEKTASI BERLEBIHAN sayalah yang menciptakan lebih besar kecewaan dengan film sekuel ke 8 garapan Spierig Brothers ini.

Untuk alur cerita, saya juga nggak mengharapkan yang gimana-gimana sebenarnya. Kita tahu, dari Saw awal sampai dengan Saw 7 (Saw 3D) kemarin pun, ceritanya ya gitu-gitu aja.

Ada orang-orang dengan dosa mereka masing-masing, kurang beruntung tingkat parah karena bertemu dengan si phsyco Jigsaw, dibawa ke permainan sadis nya, dan berdarah-darah bahkan sampai terpotong disetiap permainan.

Saw sekuel emang nggak ada memberikan begitu banyak kejutan untuk masalah ide cerita.

Obviously bukan point itu yang bikin saya kecewa dan kasih nilai rendah. Saya BEGITU karena kali ini Saw 8 (Jigsaw). .

1. Sadis kurang greget

Saya nggak tau entah ini gegara sensor Indonesia yang terlalu banyak turut campur apa memang karena dari sononya udah begitu, tapi yang pasti sadis Saw 2017 ini benar-benar nggak segila yang saya harapkan.

Dari 92 menit total, film yang ditulis oleh Josh Stolberg (penulis Piranha) dan Josh Goldfinger ini hanya berhasil membuat saya empat kali berteriak saja. Padahal saya termasuk yang berisik sekali kalau terkejut. Di sekuel-sekuel sebelumnya, saya rerata kehabisan suara.

20171127_102559
Popcorn yang fotonya diambil barusan dir rumah gegara kemaren di bioskop nggak ada batre^^

 

2. Akting kurang

Terus selanjutnya, maaf kepada Mbak Laura Vandervoort dan kawan-kawan, tapi saya kurang mendapat feel dari akting-akting kalian.

Saya jarang meringis ngilu saat tubuh kalian tersayat dan banjir rasa sakit. Begitu pula saat kalian berteriak, saya juga jarang merinding dan ingin menutup telinga.

Saya tahu kalian sudah berkerja keras dan melakukan yang terbaik, tapi saya masih kecewa.

TAPI ya walaupun begitu, saya tetap sangat senang kok. Rasa kangen terhadap kesadisan-kesadisan dengan minim alasan khas nya yang klasik pun terbayarlah sudah.

Apalagi di film ini pun kita masih bisa denger suara dan ngeliat wajah nya Jigsaw sekalipun dia udah mati.

Terus sinematografi nya juga jauh naik kelas dari yang sebelumnya kalau menurut saya. So, yeah, tetep nggak nyesel lah udah dateng jauh dan macet-macetan.

Oh btw ini ada SPOILER, scene paling greget menurut saya itu jatuh pada scene. . . . . . . . . . . . .Jebakan gandum.

Jadi jebakan gandum ini ceritanya begini.

Dari 5, para pemain udah kesisa 3. Satu orang kaki nya kejebak wire dan terancam you know lah, dua nya lagi sibuk sana sini mencari jalan keluar sampai kemudian mereka pun terjebak di satu ruangan tertutup.

Melihat gaya ruangan, bahan dinding dan warna, pada awalnya saya berpikir bahwa mereka akan diberi tantangan sambil dibakar (ruangan dibikin panas), tapi ternyata, mereka malah mendapat hujan gandum.

Nggak kalah mematikan sih. I mean terkubur dalam gandum, nggak semanis makan kembang gula kan.

Game nya, si satu orang yang kaki nya terjebak wire ini harus memilih, menyelamatkan temannya dengan mengorbankan kaki, atau menyelamatkan kaki (entah bagaimana) dengan mengabaikan dua temannya.

Butuh keberanian untuk melakukan itu. Berkali-kali si satu orang ini nggak sampe hati nggak sampe hati juga buat mengorbankan kakinya sampai kemudian, hujan gandum berhenti.

Penonton dan mereka bertiga menahan napas. Menunggu, degdegan, resah, bertanya-tanya “Kok stop? Apa yang akan terjadi?”

Well, nggak lama berselang, pertanyaan dan semuanya pun terjawab. Hujan yang stop berlanjutlah lagi. Hanya saja kali ini alih-alih gandum, yang jatuh adalah peralatan-peralatan dapur/rumah tangga yang tajam-tajam.

Disinilah jantung penonton sekalian pun diuji. Disinilah salah satu waktu dimana saya berteriak ketakutan. Dan disinilah pulah waktunya saya benar-benar merasa SAW.

Anyway itu dia cerita dan komentar-komentar dari saya. Ada yang sudah menonton juga? Bagi cerita dan pendapatmu di kolom komentar ya. . .^^

Advertisements

17 thoughts on “Tentang Film Jigsaw 2017 Dan (Mostly) Curhat Si Jomblo Yang Nonton Sendiri

  1. Haduh val… Kengenesanku bisa melegenda nih wkwk
    Tapi sepertinya kamu bener2 paham ya dengan yang dimaksud lirikan “kamu kapan?” ini. Setelah perjuanganmu yang nggak bisa lebih rempong lagi, akhir2nya disuguhi pemandangan seperti itu wkwk. Tentang Jigsaw sendiri hmm… ogah ah. Nggak nyangka kamu jadi fans franchise ini val -,-

    GPR mana ya btw?

    Like

  2. Klo jigsaw beneran ngeri. Saya nggak berani nonton. Cuma versi yg baru belum nonton. Biasanya nunggu dapat file filmnya di warnet atau dapat ngopi dari orang lain. 😀

    Like

  3. Saya sudah punya suami, anak 5. Bisa nonton menyelinap sendirian itu istimewa. Menikmati me time yang bener2 asik. Krn kalau nonton sambil bawa anak2 apalagi ditemenin pak tentara, sama saja nggak nonton. Krn mereka lbh menyita perhatian saya.
    Jd nikmati saja kesendiriannya karena nanti juga bakal kangen bisa nonton lagi sendirian.

    Like

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s