Air Mata Dan Drama Membuat Laporan Ke Kantor Polisi

polri-sabhara-polisi
Tribun Medan

Setelah lebih dari 24 tahun mengudara di dalam dunia ini, kemaren, Februari 1, 2018, adalah pertama kalinya saya benar-benar membutuhkan pertolongan polisi.

Ya, sebenarnya sih yang membutuhkan bukan saya banget, tapi bos saya. Tapi intinya, saya yang melaporkan, saya yang kontak langsung sama polisi nya.

Ceritanya teh pas malem-malem sekitar jam 1 udah mau bobok, hengpong saya meronta-ronta tanda ada yang menghubungi.

Jomblo, semua grup di mute, siapa ya??? Pak bos ternyata. Selain empat panggilan tidak terjawab, ada dua pesan singkat juga.

Saya bergegas membuka pesan untuk mengetahui isinya kemudian tercengang.

“Call police.”

“She kill me!”

WHAAAAAAT? Apa yang terjadi? Siapa yang mau ngebunuh, siapa yang mau dibunuh, apa yang terjadi?

Drrrrrrtttt (HP bergetar lagi, bos calling.)

Vallendri: “Hallo?”

Bos: “Hurry call police. My wife killing me.”

Tidak pernah terbayangkan bahwa saya akan berada di dalam keadaan yang se menegangkan itu.

Saya shock, saya panic, saya hampir pingsan, dan saya nggak punya pulsa.

Bergegas saya mengetuk pintu para tetangga untuk mencari pertolongan pulsa, tidak ada yang menyahut. Yaiyalah udah semalam itu.

Drrrrrrtttt (HP bergetar lagi, bos calling <LAGI>.)

Vallendri: “Hallo?”

Bos: “Wheres the police?”

Vallendri: “Oh no, on the way. . .”

Akhirnya tidak ada pilihan lain, saya harus keluar sendiri untuk mencari siapapun yang masih buka yang menjual pulsa di luaran sana.

Hanya mengambil syal dan sweater untuk menutupi daster buluk kesayangan, saya menancap gas motor terkencang yang saya berani tancap.

Air mata mengucur deras sederas-derasnya mengiringi berbagai scenario terburuk yang bisa saya bayangkan yang sedang terjadi antara bos saya dan istrinya.

Kegalauan memuncak saat toko demi toko telah menutup pintu mereka untuk beristirahat. Dimana saya bisa mendapatkan pulsa?

Puji syukur, Tuhan masih bersama saya. Setelah sekitar dua kilometer berkendara, ada kios kecil pinggir jalan yang masih menawarkan pulsa di malam buta itu.

Singkat cerita saya kemudian langsung menghubungi nomor polisi Cengkareng yang saya temukan dari mesin pencari.

Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali, tidak ada yang menjawab. Semuanya berdering saja sih, tapi selalu berujung pada entahlah saya nggak ngerti namanya apa, semacam nada teeeeeet lama yang mungkin mesin penjawab otomatis atau apa.

Mencoba lagi nomor polisi Cengkareng lainnya, masih menunjukkan hasil yang sama.

Saya menangis dan terduduk di pinggir jalan. Bos terus menerus mengirim pesan dan menelepon agar pak polisi cepat datang, saya terus menerus mengatakan bahwa mereka sedang OTW. Tapi faktanya, saya bahkan masih belum bisa menghubungi polisi pun.

Salah satu dari bapak yang sebelumnya duduk mangkal berbicara di kedai pulsa menghampiri saya dan bertanya “Kenapa Neng? Ayo duduk kesana dulu, (menunjuk ke kedai pulsa) jangan disini, bahaya. Ada masalah apa?”

Saya kemudian menceritakan sekilas dan beliau menyarankan saya untuk melapor langsung ke kantor polisi terdekat dan menyerahkan supaya mereka saja yang menghubungi kolega mereka di area rumah bos saya.

Benar juga, saya pikir. Jaringan internal mereka mungkin lebih cepat ditanggapi.

Setelah berterimakasih kepada ketiga bapak kedai pulsa yang baik hati, saya pun melaju lagi menuju kantor polsek Ciomas yang kebetulan hanya berjarak sekitar 1 km lagi dari tempat saya pada waktu itu.

Sesampainya di kantor, saya disambut ramah oleh pak polisi yang sebelumnya lagi asyik dengan nasi goreng nya.

Pak Polisi: “Selamat malam bu, ada yang bisa dibantu?”

Vallendri: “Saya ingin melaporkan adanya kekacauan di rumah bos saya di A. Saya sudah mencoba untuk menelepon langsung ke polisi disana tapi tidak di angkat-angkat.”

Pak Polisi: “Oke, ibu tenang, ibu duduk dulu, mana nomor nya biar saya coba telepon (mengeluarkan HP dan mendial nomer yang sama yang dari saya). Nggak di angkat-angkat. Ada nomor lain? (katanya kemudian).”

Saya mengerutkan dahi. Ya pasti lah pak nggak di angkat juga. Wong saya tadi udah nelepon sampai dower, sama saja tidak di angkat di line itu.

Vallendri: “Nggak bisa pakai line internal polisi pak menghubungi nya? Pakai line umum dari tadi nggak di angkat-angkat. Barangkali pakai line polisi bisa lebih cepat.”

Pak Polisi: “Wah nggak ada bu, nggak ada line khusus kita. Adanya hanya sebatas area Bogor saja. Kalau menyeberang ke area lain mah nggak ada.”

Vallendri: (Mulai menangis lagi) “Aduh gimana pak? Gimana? Bos saya gimana?” (Sambil menunjukkan panggilan masuk tapi bingung mau ngangkat dan ngomong apa.)

Pak Polisi: “Angkat aja dulu.”

Lalu saya mengangkat dan berbicara dengan bos saya. Pak polisi mengajarkan bagaimana bos saya harus mempertahankan posisi bertahan nya sebisa mungkin sampai polisi datang dan beliau nggak usah panic.

Pak Polisi: “Yaudah kita coba lagi aja telepon terus. Kamu pakai HP mu, saya pakai HP saya.”

Vallendri: “Oke.”

Puji Nama Tuhan tiada terkira. Setelah percobaan entah yang keberapa kalinya, line di ujung sana finally ada yang nyahut juga.

Dengan detail, cepat, dan jelas saya kemudian diminta keterangan tentang nama, status, keadaan terakhir, dan alamat rumah yang sedang bermasalah.

Tapi eh tapi, ternyata wilayah rumah bos saya bukan masuk wilayah pak polisi unyu yang menjawab telepon. Beliau ternyata harus kembali menyampaikan laporan saya ke rekan mereka di Kalideres dulu baru bisa di tangani.

Menunggu lagi? IYA! Panic lagi? DOUBLE IYA!

Hanya saja tidak seperti menunggu yang sebelumnya yang ampe bulukan nggak ada reaksi, polsek Kalideres rupanya sigap dalam mengangkat telepon baik itu telepon line umum maupun line internal soalnya saat saya hubungi nomor mereka yang dari google, mereka juga telah menerima laporan yang sama dari rekan mereka yang di polsek Cengkareng.

But again, tetep aja drama berlanjut.

Si bos terus terusan nelepon nanya dimana dengan suara cemas nya yang mengkhawatirkan, sedangkan saat dihubungi, pak polisinya belum berangkat-berangkat juga ke TKP.

Ada apa? Nunggu bisa menghubungi yang patrol dulu. Nunggu 40 menit dulu baru petugas sampai nya.

Nah, 917 kata di atas itu tadi part drama, sekarang, kita akan bersiap untuk masuk ke part keluhan;

  1. Line polisi yang nggak ngangkat-ngangkat saat dihubungi. Kalau saya itu diposisi yang super duper urgent udah ada pistol menganga ke batok kepala, kebayang nggak sih???
  2. Nggak ada line internal polisi yang lebih aksesable untuk dihubungi oleh sesama polisi in case seperti kasus saya, si pelapor kesulitan menghubungi ke line umum dan melaporkan ke kantor polisi terdekat dengan area nya. Nggak lucu kan kalau kayak kemaren pak polisi nya malah minta nomor telepon sama pelapor. Kan yang saya punya bisa aja nggak valid atau whatever wong sumbernya google.-_-

Cukup dua point untuk part keluhan, mari masuk ke part ucapan terimakasih;

  1. Terimakasih kepada semua polisi yang sudah rela meninggalkan rumah dan meja makan nya yang nyaman menuju ke lobi kumuh plus nasi goreng murahan demi melayani keluh kesah warga sekalipun kadang para warga terlalu men-judge polisi dengan judge yang buruk (khususnya polisi patrol). *nyengir* Yuo guys are real hero.
  2. Terimakasih sudah melayani dengan sabar sekalipun banyak pelapor, contohnya saya kemarin, cenderung panic, tidak jelas, dan kadang malah membentak. Terimakasih.

Akhir kata, saya menulis cerita ini tidak ada maksud untuk menjelekkan pihak manapun, melainkan hanya murni untuk berbagi cerita dan ide untuk ke depannya yang lebih baik.

INFO NOMOR POLISI CENGKARENG:

021 6197177

INFO NOMOR POLISI KALIDERES:

021 5414665

021 5414667

Advertisements

46 thoughts on “Air Mata Dan Drama Membuat Laporan Ke Kantor Polisi

      1. kalo paket data masih ada bisa beli pulsa pake internet banking atau mytelkomsel.

        Ngeri ya orang cemburu bisa sampe marah sampe pegang pisau. Moral of the story : gak selamanya kehidupan pernikahan indah mulu kaya di drama korea. Salah deng, janganlah pada selingkuh wahai manusia

        Liked by 1 person

      2. Atm juga pan ada, bisa beli pulsa pake atm, atau di tokopedia, go pay, atau sms tetangga minta diutangin pulsa. Lagi panik sih ya 😂

        Huss gak boleh selingkuh, kasian yang diselingkuhin

        Like

  1. Serem ya val.
    Bini bos galak, smoga aja mrka bs pisah drpd nti makan korban.
    Btw aq jd ngebayangin klo pak bos pisah dan akhirnya ngajak nikah km gmn ya val? Soalnya km pasti ga akan segalak bininya

    Like

    1. Lebih dari galak Syer, buas, brutal, sadis. Kalo dia lagi marah, nggak ada ngancem, langsung eksekusi.

      Dan aku bingung kenapa ngebayangin nya sama aku😅😅😅

      Dan kalo aku di posisi bini nya, laki selingkuh mah nggak bakal aku apa2in. Paling pertemuan terakhir buat nandatanganin surat cerai😂

      Liked by 1 person

    1. Iya Kun. Kalau bisa ada 911 gitu lah ya. Nggak kebayang kalau yang super urgent mengalami pengalaman menghubungi polisi seribet aku kemaren.

      40 menitan dari waktu polisi mencatat laporan, 1.5 jam dari waktu aku berusaha untuk menghubungi. -_-

      Like

      1. Iyaah vall, aku yg bca aja gak sabaran, apalagi yang ngalamiin 😥😥
        Orang klo nekat ga pake mikir, gak tau waktu juga 😢 ya semoga lebih baik kedapannya…

        Like

    1. Oh iya lupa kasih info ini, aman kok ternyata. Si ibu nya sebelum nyabet udah kalah cepat ama si bos, udah keburu masuk kamar dan ngunci dari dalem dulu. Cuman kek film horror aja gedor gedor pintu dari luar pake piso *merinding*

      Like

      1. Tegang banget val. Duh, harusnya komen ini ditaruh di ceritanya nih. Aku nunggu (sambil deg-degan) kabar pak bos di akhirnya gimana. Penasaran kan sama akhir ceritanya.

        Btw kok pak bos nya bisa kalah ngelawan istrinya? Motifnya apa lagi tuh si istri ngelakuin begitu ke pak bos? Apa memang bener mau membunuh? Haduh.. ini suspense bikin pengen nanya mulu wkwk

        Liked by 1 person

      2. Hi hi hi hi iya sih aku nulis nya tanggung amir ya baru nyadar.

        Si bos untungnya selamat. Dia bertahan aja di dalem ampe polisi dateng. Yang luka malah istrinya gegara bacok pintu ama ngancem iris tangan tapi ga di peduliin.

        Dan mengenai kenapa si bos kalah ama istrinya, detailnya bakal soon aku ceritain. Terus motif nya itu gegara si bos ketahuan selingkuh. Aku nggak tau serius sampe mau ngebunuh apa enggak, yang pasti berkaca dari pengalaman, ada kemungkinan serius sih. Pas si ibu ngomong dia nabrakin diri ke pembatas tol (TOL lho, jalan dimana orang2 pada ngebut dan kecelakaan bisa fatal) dia lakuin beneran.

        Like

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s