Cerita Lengkap Melahirkan JHL (Memori Paling Tidak Terlupakan)

img_2729
Bagi yang penasaran bintik-bintik itu, itu alergi oleh-oleh dari Bali kemarin. *tepok jidat*

Waktu itu masih pagi buta, jam 5 sepertinya. Telepon saya berbunyi, Charles memanggil.

Marah dong. Udah mah semaleman susah tidur cuman bolak-balik kanan kiri doang, ini subuh-subuh udah dibangunin sama telepon nggak jelas. Saya ingat saya angkat itu telepon sambil memaki agar dia jangan pernah menelepon saya ever again.

Saya kemudian bersiap pengin tidur lagi. Tapi kok basah ya. . . pipis di celana lagi. . .*hapus keringet* ha ha #3rdtrimesterproblem #pregnantlife. Saya pun akhirnya ke toilet dulu buat cuci-cuci dan ganti.

In 5 minutes, siap untuk kembali ke alam mimpi. But hold on a second, kok, pipis lagiii???

Saya ketok ke rumah JHL, saya rayu dia agar jauhin kaki dari kantung kemih. Tapi tetap saja, ‘pipis’ saya mengucur deras.

Lalu terngianglah perkataan dokter Erik: “Val, kalau tiga situasi ini terjadi, kamu harus lekas telepon saya dan berangkat IGD ya. . .”

  1. Keluar darah yang lebih dari sekadar flek,
  2. Heartburn atau sakit apalah yang keterlaluan,
  3. Keluar air deras. Itu ketuban.

Panik dong. . . Ciri-cirinya seperti ketuban.

Saya kemudian telepon dokter Erik untuk menjelaskan tentang air yang keluar itu dan bagaimana rasanya waktu keluar. Dia bilang FIXED KETUBAN.

Double panik!

Tau enggak waktu itu kan masih 10 hari sebelum hari prediksi. Saya belum persiapan. Tas belum dikemas, fisik dan mental masih anak remaja, ugh, gila.

Akhirnya setelah hectic yang enggak karuan tadi dilewati, we made it to the hospital.

Saya dipersilakan berbaring di ranjang IGD sambil dipasang alat yang gunanya membaca detak jantung bayi dan kontraksi perut. I don’t know why but saya juga langsung dikasih infus.

img_0387
Saya terlalu jumbo, hampir ga muat. Ha ha

Seorang dokter wanita bernama Irene datang dan memeriksa saya. Katanya belum ada bukaan, JHL jumbo, dia juga belum turun ke panggul. Dokter Irene memegang tangan saya sambil mengatakan bahwa saya sebaiknya mempersiapkan diri untuk metode SC. Menurut dia akan lebih convenient jika saya langsung ke SC saat itu juga.

But am not gonna do SC. This whole pregnancy am always dreaming about pushing and holding my baby when he is covered by blood and am sweating. Kalau SC enggak bakal bisa gitu kan. . .

Saya bilang “Saya pengin coba normal dulu ya Dok, tks.” Which is a real stupid idea since ujung-ujungnya tetep enggak bisa normal, dan ‘mencoba normal’ itu membuat kami kena biaya transfer dan ruang bersalin sekitar 5 juta.

igd2

Itu pemeriksaan jam 1 siang oleh dokter Erik. USG membaca JHL memiliki berat 4.2 kg dan STILL enggak masuk panggul. Pembukaan baru satu, kontraksi enggak ada, ketuban terus keluar.

Waktu itu saya masih merengek agar bisa normal. Saya masih sangat takut dengan perubahan yang ‘harusnya SC’ itu.

Dokter Erik kemudian menjelaskan bahwa dia bisa saja memberikan induksi pada saya agar saya bisa mencoba normal. Hanya saja jika melihat banyak kasus mirip saya yang sebelumnya, induksi hanya memperpanjang ketidaknyamanan saya saja, memberikan resiko bayi bisa keracunan ketuban, tapi ujung-ujungnya malah SC-SC juga. Jadi dia mengatakan bahwa menurut pandangan medis dan sebagai teman, saya segera SC adalah pilihan cerdas.

Satu jam kemudian setelah melalui pergumulan panjang dan wawancara enggak berujung dengan pak dokter, saya memutuskan untuk mengizinkan mereka membelah perut saya.

Pertama saya disuruh untuk menghapus segala jenis make up dan menanggalkan perhiasan. Dok bilang bahwa dia ingin melihat warna asli wajah saya saat sedang menangani saya nanti. Warna wajah menceritakan kondisi seseorang.

Kedua datang suster Anna (kalau enggak salah) untuk mencukur dan membersihkan area sana. Malu dan enggak nyaman minta ampyun. Tapi kata dia semua orang melahirkan yang bakal gitu. Dia juga udah biasa, itu tugas dia.

Kemudian setelah itu datang seorang petugas lab yang tugasnya adalah mengambil sedikit darah saya untuk uji pembekuan darah dan beberapa uji lain yang saya lupa. Saya hanya ingat kalau uji pembekuan darah itu jentik jarum nya ke daun telinga. Saya enggak bisa siap untuk itu dan beberapa kali saya sampai berteriak ke si petugas lab yang turn out adalah seorang pelucu garing. Ha ha

Setelah itu datanglah dokter-dokter bertugas untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan apa saja yang nantinya akan mereka lakukan kepada saya. Kalau enggak salah sih mereka juga menjelaskan apa saja yang digunakan dsb. Saya lupa karena saat itu terlalu nervous dan tidak ada mendengarkan penjelasan apapun, saya fokus pada DOA BAPA KAMI.

Segalanya kemudian berjalan begitu cepat.

Tiba-tiba saya sudah berada di kursi roda menuju ruang operasi, tiba-tiba dokter Erik sudah memeluk saya sembari dokter Michael menyuntikkan anestesi, tiba-tiba badan saya enggak bisa digerakkan, dan tiba-tiba, JHL menangis dengan sangat keras dan disuguhkan pada saya yang saya waktu itu enggak ingat ada kejadian cium JHL sampai dokter Erik kirim foto yang dia ambil dan ceritakan kejadiannya.

9 Mei 2018 pukul 16.04 WIB, saya resmi menjadi seorang mami. JHL adalah bayi yang SEHAT. Beratnya 3.805 gram, panjangnya 51 cm, lingkar kepalanya 35 cm.

Advertisements

4 thoughts on “Cerita Lengkap Melahirkan JHL (Memori Paling Tidak Terlupakan)

  1. Sama kyak kakaku val, dari awal ga kpikiran SC trus keadaanya lebih baik SC, tapi gk mau, akhirnya diinduksilah, tapi pas proses induksi itu kyaknya dia udah kesakitan sangat atau gimana, akhirnya SC juga, padahal pas proses itu katanya yakin bisa normal, dan smpet jatuh juga mentalnya, katanya sih gtu.

    Like

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s