Masih Pantaskah Aku Menjadi Ibumu?

20171123_094118
Perut 2 bulan

Menjadi ibu full time dan bisa 24 jam sehari memantau Joel dengan mata kepala sendiri merupakan suatu berkah yang sangat saya syukuri.

Enggak kebayang rasanya kalau harus banting tulang diluar rumah dan tau-tau tetiba saja si kecil sudah bisa berjalan.

Saya sangat bersyukur karena bisa ada disana ketika dia pertama tengkurap, ketika dia pertama merangkak, ketika dia pertama duduk, ketika dia pertama ngoceh, ketika dia pertama berdiri dan sebagainya.

Saya sangat bersyukur.

Saya sudah menantikan moment tersebut bahkan sejak dia masih berbentuk gumpalan darah di rahim saya. Saya menyiapkan kamera untuk mengabadikan mereka.

Hanya saja ada yang tidak saya siapkan.

Not in a million years saya ada membayangkan bahwa agar sampai ke tahap duduk tersebut, dia akan berkali-kali terjungkal. Bahwa agar sampai ke tahap berdiri, dia akan berkali-kali terjatuh. Bahwa agar sampai ke tahap merangkak, dia mungkin ada berdarah gusi karena terantuk.

Saya juga tahu bahwa bayi suka menggigit seperti seekor anjing kecil. Tapi tidak pernah terbesit bahwa mereka juga sampai ke tahap ‘memakan apapun yang mereka temukan sekalipun itu benda beracun, benda keras, benda kotor, maupun benda berbahaya lainnya’ dan sesekali bisa masuk ke IGD karena itu.

I have no idea.

They just suddenly hit me in the face like craze.

Saya enggak cuman bilang ‘craze’ itu sekadar craze omongan. Saya benar-benar pernah mendekati stres. Pernah sekali alih-alih menenangkan Joel yang lagi menangis karena terjatuh seperti ibu lain pada umumnya, saya malah hanya membiarkan dia dan ikut menangis bersama seperti dua anak kecil ditinggal ibu.

It just too much sometime, I’m overwhelm by everything that happened.

In some point saya bahkan sering bertanya apakah saya pantas menyandang status terhormat sebagai ibunya.

Saat beberapa tahun lalu saya patah tangan, mama sama papa langsung marah besar dan memarahi saya ketika pertama tahu. Saya mengingatnya hingga sekarang, and it’s not in a good way.

Dan barusan malam ini tadi, saya juga memarahi Joel saat mulutnya berdarah karena terjatuh.

Saya sebenarnya bukan marah kepada dia, saya marah kepada diri saya sendiri kenapa bisa membiarkan itu bisa terjadi. Hanya selang sehari setelah dia dibawa ke IGD karena masalah sama, saya membiarkan itu terjadi lagi.

Tapi saya meneriaki DIA dan saya yakin hati mungilnya telah sangat sakit karena itu.

Sangat sulit menjadi ibu. Saya tidak tahu apakah saya masih pantas untuk dipanggil seperti itu.

Saya tidak bisa menarik apa yang sudah terjadi. Saya hanya berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada psikisnya hanya karena saya adalah ibu yang buruk.

Ini baru bayi yang terjatuh karena merangkak dan saya sudah lose control. Bagaimana saya menghadapi teenager yang jatuh naik motor karena kebut-kebutan? Bagaimana kalau nanti dia menghamili pacarnya dan datang kepada saya untuk mencari solusi?

Advertisements

7 thoughts on “Masih Pantaskah Aku Menjadi Ibumu?

    1. Makacih Din. . .

      Udah sembuh dia. Sebenernya enggak kenapa-kenapa. Kata pak Dok, jaringan dalam mulut emang gampang ngeluarin darah banyak dan lama aktifnya, tapi cepet sembuh juga. Dan benar, dia sembuh besok paginya.

      Kamu udah isi jadi calon ibu?^^

      Like

  1. Meweek aq 😭😭😭😭😭😭 cpt smbuh ya joel.
    Jadi ibu ga mudah ya val.
    Dunia kita jungkir balik demi anak..
    Demi dia yg selama 9 bulan berada dalam satu tubuh, satu nafas kita.
    Aq beneran melow klo bahas anak.
    Tiap kali usap kepalanya, disitulah tiap doaku mengalir utk dia..
    Skrg kita nikmatin val masa-masa merawat dia yg masih butuh tangan kita.
    Nikmatin masa-masa puas memeluk dan mencium dia sblm nantinya dia akan protes kita peluk dan cium, sblm nantinya dia lebih memilih memeluk pasangannya dibandingkan memeluk kita sbg ibunya.
    Ga perlu jd ibu yg smpurna, jadilah ibu yg baik.
    Smoga kesabaran utk menghadapi anak kita selalu ada.

    Like

    1. Iya Syer aku mewek juga pas nulis dan kadang pas baca caption kamu juga. Memang sekarang segala yang bersangkutan sama ibu dan bayi gampang bikin aku mewek juga.

      Semangat deh kita semoga sama-sama bisa menjadi ibu yang baik dan sabar. Bukan melahirkan ternyata yang susah, MEMBESARKANNYA. . .He he

      Like

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s