Etika Batuk Di Tempat Umum

IMG_20190322_190728

Pada umumnya seseorang akan secara alamiah langsung menutup mulutnya dengan apapun ketika ia terbatuk.

PADA UMUMNYA ya teman-teman.

Artinya sekalipun mayoritas melakukan, ada saja segelintir orang yang tidak melakukan dan ‘yaudah batuk saja’.

Dua tahun yang lalu, I SWEAR, saya enggak peduuuuuuli bagaimanapun cara kamu batuk. Sing penting enggak ke muka saya, batuk sakarepmu.

Hanya saja seperti segala hal lain ‘pasca Joel’ di kehidupan saya, ‘tanggapan saya terhadap batuk’ pun sekarang telah berubah.

I DO MIND ABOUT YOUR BATUK WAY AROUND ME.

Beberapa waktu yang lalu, salah satu influencer yang saya follow di instagram, Mbak @haloterong ada membuat story yang kira-kira isinya demikian:

Di dunia ini pada dasarnya ‘urusan’ itu ada tiga.

Pertama ‘urusan sendiri’ yaitu urusan yang melekat pada diri sendiri tanpa melibatkan orang lain contohnya agama, pakaian, nilai, tipe idaman, dkk.

Kedua ‘urusan orang lain’ yaitu ‘urusan sendiri’ nya orang lain yang seharusnya enggak boleh kita ikut campurkan contohnya agama orang, pakaian orang, nilai orang, dkk.

Ketiga adalah ‘urusan bersama’ yaitu urusan yang melibatkan kamu, dia, saya dan orang-orang lainnya. Biasanya terikat karena hukum, sama-sama bayar, dkk contohnya sekolah, fasilitas umum, dkk.

Kira-kira BATUK masuk urusan golongan yang mana?

Menurut saya sih bisa dibagi menjadi dua urusan. ‘Urusan orang lain’ karena ya itu batuk pada hakikatnya melekat pada orang lain. Tapi juga bisa menjadi ‘urusan bersama’ kalau si tukang batuk ini tidak bisa menjaga itu batuk tetap pada dirinya sendiri seperti yang seharusnya. Dan yang namanya urusan bersama, saya bisa dong komentari. Saya bisa dong meminta agar itu batuk bisa di keep menjadi urusan si tukang batuk itu sendiri seperti yang seharusnya.

I know this is sounds annoying guys, tapi saya harus mengeluarkan ini uneg-uneg atau enggak saya bisa meledak didalam hati.

Tadi pagi saya sama Joel diajak oleh opa-oma tetangga untuk jalan-jalan ke Central Park.

Disana kami terpaksa naik turun lantai menggunakan lift karena Joel membawa stroller dan saya tidak ingin mengambil resiko stroller terpeleset atau apapun itu kalau musti dibawa menggunakan elevator.

Anyway intinya di dalam lift ada seorang ibu, nanny, dan dua anak yang berbarengan dengan kami dan kalau batuk enggak menutup mulut.

Di lift saudara-saudara. Apapun yang beterbangan dari mulut mereka tidak tertutup itu, 100% akan berkeliaran dan terkurung di dalam kotak persegi dimana semua anggota penghuni (ofcourse termasuk Joel) itu kotak akan ikut hirup.

Okay, kami hanya bersama turun dua lantai dengan greombolan mereka, that’s okay.

Tapi di mobil saat oma dan pak supir terus terusan batuk Central Park-Taman Surya tanpa menutup mulut, saya rasanya tidak bisa lagi tidak ingin menangis dan menggigit lidah sendiri (hiperbola).

Gimana sih menurut kalian? Saya over nggak sih menanggapi tentang batuk ini? Saya ini membesar-besarkan banget apa normal sih?

Tapi saya sudah sering melihat guys bagaimana kalau bayi sampai batuk. Mereka kan enggak bisa batuk kayak orang dewasa. Enggak bisa bilang sakit atau apapun nggak bisa ngeluh nggak bisa minta dipijetin atau menolak dipijetin atau apapun.

Saya udah sangat susah melindungi Joel supaya enggak ada sakit sejauh ini. Dan good news is dia emang berhasil enggak pernah sakit (even flu dan batuk) kecuali sekali panas 38 derajat, alergi bintik-bintik ga sembuh-sembuh, dan diare setelah vaksin campak kemaren. Hua ha ha I know guys seharusnya campak enggak bikin diare, tapi Joel memang diare dan itu bener-bener setelah vaksin campak. Mungkin kebetulan, tapi karena itu kejadiannya bareng vaksin campak, yaudah saya anggap efek vaksin saja.

Anyway guys dukung saya kalau kalian pikir ini reasonable, tegur saya kalau menurut kalian ini berlebihan. I know, ada sedikit sih saya terpikir bahwa ini perkara agak saya besar-besarkan. But it just keep wandering in my mind dan saya harap menuliskannya disini bisa mengurangi atau bahkan menghapusnya dari otak saya-_-

Advertisements

3 thoughts on “Etika Batuk Di Tempat Umum

  1. Reasonable kok sikap km itu..bayi kan msih building daya tahan tubuhnya jg jd masih rentan. Aku tinggal di Melbourne dan di sini banyak ibu2 yang ga suka kl bayinya bhkan dipegang2 krn lucu sm org ga dikenal (misal nenek2 pas blanja di supermarket suka reflek blg ‘so cute’ sambil pegang tangan baby atau ngelus muka). Dan perna kponakan kt umur 2 thun kurang lg agak pilek, dy dan orgtuanya ga dateng ke rumah nenek mrk krn tau pas lg ada ak dan bayiku yg umur 2 bulanan. Karena ga mau bayiku ketularan. Emang susah sih bilang ‘no’ atau minta mreka jaga jarak kl di indo..ak pun di sini suka kecolongan kl pas ada org yang saking gemes ma babyku trs pegang tgnnya, krena ga enak bilang ‘please don’t touch’. Mental org indonesia ga enakan kayanya ya T_T tp pelan2 mau blajar utk bilang kl emg demi kepentingan anak 🙂

    Like

  2. Samaaa…aq jg rasanya mau nangis klo ada yg bgtu di skitar rayqal.
    Jangankan batuk, liat org lg ngerokok dkt rayqal aja aq tegur “ada bayi bang, maaf jauh2 ya”. Klo di jalan papasan sm org merokok pun, aq bnr2 smp tutupin muka rayqal pake gendongan.
    Sedih, takut klo bayi kita knp2.
    Blm lama rayqal main ke rmh eyangnya. Ponakan kaka iparku lg nginep dan batuk2. Rasanya pgn bawa rayqal pulang aja tp ga bisa 😭😭 apalagi anak itu seneng bgt dkt sm rayqal.
    Akhirnya aq cm bs komat kamit doa smoga ga ketularan. Pulang dr rmg eyangnya, tangan sm muka rayqal aq lap-lap pake tisu basah krn abs diciumin trs2an sm org2.
    Segitunya jadi ibu….
    Iyaaa krn kita IBUnya.

    Like

What you think guys?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s