Cuplikan Novel

Bab 4

Satu tahun kemudian. . .

Aku bergegas berlari setelah mendengar “Commuter line dari jalur dua dengan tujuan akhir Jakarta Kota akan segera di berangkatkan” menggema keluar dari speaker. Belakangan ini aku berubah menjadi orang sibuk, kesana kemari mencari duit.

KF atau yang kita kenal dengan Kompetisi Fisika yang merupakan program tahunan HIMAFI (hinpiunan mahasiswa fisika) ini membutuhkan dana besar. Para panitia sibuk mulai dari kesana kemari mencari sponsor, hingga kesana kemari serabutan berjualan untuk menggalangan dana.

Sekarang aku dan Titania sedang di jalan menuju ke Kota Tua Jakarta. Kami akan berjualan mini burger di sana untuk penggalangan dana. Kota Tua memang menjadi destinasi yang ramai di kunjungi sekalipun hari biasa, namun hari minggu seperti ini, di sana super sekali. Jadi, peluang usaha menjaja burger mini ini pun akan sangat besar. So, kami sedang ke sana.

Aku sedang melayani pelanggan kami yang nomor sekian, yaitu seorang ibu dan dua anaknya. Ibu berkerudung hijau itu meminta tiga mini burger dan tiga botol the kotak, ketika handphone ku berbunyi.

Aku mengacuhkannya beberapa lama hingga para pelanggan telah pergi.

Ada pesan dari Luther.

Bagaimana kabarmu Squidward?

Aku tersenyum. Beginilah hubunganku dengan Luther sekarang. Dia Spongebob, dan aku Squidward. Kami bersahabat.

Satu tahun yang lalu tidak butuh waktu lama kami menjadi sahabat.

Pembicaraan yang menurutku nyambung dan kegilaan yang sama membuat kami seperti ini. Dan yang paling membuat kami dekat adalah percakapan kali ini sepertinya:

. . . . .
Kamu belum tidur?

Belum, mengapa? Kamu mau mencari makan? Silahkan, aku sedang menonton drama.

Kamu seharusnya tidur, ini sekarang kan sudah lewat tengah malam di tempatmu. Di Holland kami di anjurkan tidur delapan jam per hari.

Aku rasa itu di semua negara Luth. Aku insomnia.

Wah baiklah, aku akan makan dahulu, kemudian aku akan mengirim pesan jika kamu masih belum tidur. Mungkin agak lama sekarang, karena aku akan makan malam di rumah ayah ku.

Baiklah. Nikmati waktumu!

Dua jam kemudian. . . sekitar jam setengah tiga subuh kalau tidak salah. . .

Masih belum tidur?

Belum. Sudah beres makan malam?

Iya.

Apa yang kamu makan?

Ayahku memasak untuk kami. Makanan Belanda, meatball dengan kentang dan kacang polong. Grossly underspiced for you, I thought.

Wah nikmat sekali sepertinya. Di Indonesia kami juga menikmati meatball tidak terlalu banyak bumbu, namanya baso, hanya saja baso tidak di makan dengan kentang apalagi kacang, tapi dengan mie dan bihun.

Aku pikir aku menyukai bihun. Aku memakannya di Vietnam tahun lalu dan itu terasa enak.

Aku harap kamu bisa memakan bihun versi Indonesia. he he

Ya, aku harap bisa. Lebih berharap jika itu sekarang, aku kelaparan.

Kelaparan? Bukankah kamu baru saja pulang habis makan?

Ha ha! Aku memang baru saja pulang makan, tapi kami tidak makan cukup di sana. Ayah ku memasak untuk setiap porsi secara pas. Untuk ku, adik ku Annalies, pacar nya Elisabeth dan anaknya Ruth, kemudian untuk ayahku sendiri. Kemudian si pengacau Martijn datang. Dia adik ku yang lain, dia datang setelah sebelumnya memberitahu tidak bisa datang. Otomatis kami harus membagi makanan kami yang sudah sesuai porsi dengannya. Makanan sederhana buatan ayahku itu adalah tipikal untuk kami semua.

Aku akan memanggang roti, kamu bisa menunggu sejenak bukan?

Baiklah Mr. Belum Kenyang, aku akan menunggu.

Aku kembali.

Kenyang sekarang?

Tentu saja.

Ok.

Ok.

Berbicaralah sesuatu, ini tidak asyik. Ceritakan tentang dirimu!

Baiklah. Tanyakan apa yang ingin kamu ketahui.

Ceritakan pekerjaanmu!

Baiklah, pekerjaan yang mana dulu? Aku memiliki tiga pekerjaan!

Apa? Kamu gila! Tiga? Bagaimana bisa tiga?
Iya tiga.

Pertama aku bekerja sebagai analis data di sebuah perusaan local di sini. Kemudian aku bekerja sebagai dishwasher di sebuah restoran pada akhir pekan, aku melakukannya sejak kuliah dulu, aku menyukainya. Kemudian aku memiliki pekerjaan musim panas di peternakan, lebih sebagai hobby jika aku tidak pergi jalan-jalan.

Bagaimana, yang mana yang ingin kamu ketahui?

Ok, aku tidak jadi ingin tahu dengan pekerjaanmu setelah megetahui hal itu. Aku tidak ingin melemparkan diriku secara sukarela dan menggila setelah mengetahui betapa menakjubkannya kamu.

Aku sudah cukup meleleh mendengarkanmu mengaku bahwa kamu bekerja sebagai dishwasher, orang Indonesia tidak akan meu melakukan itu, atau setidaknya mereka tidak akan mengakuinya. Dan juga hobby mu di musim panas begitu super.

Ceritakan hal lain, seperti masalah kehidupan cinta, mungkin. Aku ingin mendengarnya.

Kehidupan cinta? Um, aku bingung bagaimana menceritakannya karena aku tidak memiliki kehidupan cinta seperti yang kau ingin ketahui.

Apa?

Ya, aku mengerti kehidupan kalian mungkin bukan kehidupan yang mengatakan CINTA dengan sebegitu mudahnya.

Aku bertanya tentang crush. Semacam hubunganmu dengan lawan jenis lah! Kau bahkan boleh menceritakan tentang hubungan one night stand mu. Tidak termasuk detil di atas ranjangnya tentu.

Pertama, aku tidak pernah melakukan one night stand.

Apa yang ke dua?

Kau bukan orang yang sabar.

Itulah aku!

Apakah kamu hanya berhubungan seks dengan cinta? Wah, aku menyukaimu! Maksudku aku menyukai jalan pikiranmu.

Baiklah terimakasih.

Lalu, what your number?

Number of what?

Orang yang pernah berhubungan seks denganmu?

Kamu serius menanyakan itu? baiklah, aku akan menjawab nol.

Apa? Kamu bercanda!

Aku tidak bercanda. Aku virgin.

Apa? Bagaimana bisa kamu virgin?

Cerita yang panjang.

Aku tidak memiliki agenda lain untuk di lakukan.

Tidur?

Lupakan tidur!

Baiklah.

Jadi, kamu adalah tipe yang bisa menjaga kemaluanmu sewaktu bersama dengan wanita. Aku salut di tengah budaya bebas di negaramu.

Aku tidak pernah bersama seorang gadis sebelumnya.

Maksudku secara langsung. Berhadapan.

Apa?

Aku belum pernah bersama seorang gadis pun selama hidupku. Aku tidak yakin hubungan dengan seorang gadis di waktu kindergarten bisa di hitung, kan?

Apakah kamu memalsukan foto mu di DIA dan juga di sini? Bisakah kita video call? Apakah kamu buruk rupa?

Ha! Kamu lucu sekali. Aku tidak buruk rupa. Di DIA dan di sini semuanya foto ku kok.

Baiklah, apakah kamu memiliki kelainan?

Dokter menyebutnya Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau biasa di singkat ADHD. Aku kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Semua orang menjauhiku jika mereka tahu aku memiliki penyakit ini, di internet memang tidak terlalu terlihat, tapi di kehidupan nyata itu akan terlihat sekali pandang.

Apakah separah itu?

Aku sudah membaik sekarang berkat support dari keluarga dan juga terapi. Aku hanya belum punya keberanian untuk berinteraksi dengan lawan jenis.

Apakah kamu akan pergi setelah ini?

Kemana? Apakah kamu lupa sekarang jam berapa di sini?

Maksudku pergi dari ku.

Apakah semua orang melakukan itu?

Sebagian besar.

Mereka mengerikan.

Tidak, itu hak mereka.

Aku ingin tahu lebih banyak.

Kamu bisa membacanya di internet. Internet banyak mendeskripsikan dengan benar, seperti itulah aku.

Baiklah.

Bagaimana dengan kehidupan cinta mu?

Huh, milik ku mengerikan.

Bagaimana bisa? Apa yang kamu maksud mengerikan?

Aku bukan orang yang beruntung dalam hal semacam hubungan pria dan wanita.

Kamu selalu di putuskan? Bagaimana bisa, kamu menakjubkan?

Ha ha! Terimakasih untuk mengatakan itu.

Aku tidak bisa mengatakan SELALU, karena aku baru sekali berhubungan dan sekali di putuskan.

Aku menduga itu kasus pemutusan cinta yang parah sehingga kamu sebegitu buruknya mengatakan itu mengerikan.

Itu tidak hanya pemutusan cinta, tapi aku di tinggal ke pelaminan.

Ekstrim. Apa masalahnya? Pria tidak tahu diri itu tidak pantas untukmu. Dia telah membuktikannya dengan melakukan itu.

Tapi dia mengambil keperawananku.

Apakah itu masalah?

Itu masalah karena sekarang aku adalah wanita yang belum menikah namun sudah tidak perawan.

It’s no big deal.

Bagi budaya mu. Bagi budaya timur, aku adalah wanita yang kotor.

Bagaimana bisa orang menentukan kotor atau tidaknya seseorang dari selembar tipis selaput dara?

Entahlah, tapi itu yang terjadi.

Budaya timur sangat keras.

Memang.
. . . . .

Entah seberapa lama kemudian kami terus bercerita tentang satu sama lain hingga aku tertidur. Sejak saat itu kami bersahabat.

Aku kembali dari termenung, lalu buru-buru mengertik balasan.
Sponge, aku sedang sibuk sekarang. Bisa aku menghubungi mu nanti malam?

Beberapa detik kemudian balasan darinya datang.

Tentu saja. Jangan terlalu memaksakan diri, di semester akhir kamu butuh banyak energi untuk proposal!

Aku tersenyum merasakan perhatian darinya. Dia adalah pria yang baik, ADHD tidak mengurangi itu.

Berbicara tentang satu tahun yang lalu, tentunya tidak bisa lari dari Mark bukan?

Jangan terkejut, Mark dan aku masih berbicara sampai sekarang. Kami berada di suatu hubungan dengan kategori yang berbeda dari hubunganku dengan Luther.

Kami memang tidak berpacaran, tapi kami juga bukan sedang menjalin persahabatan. Kami semacam TTM (Teman Tapi Mesra).

Beberapa percakapan kami yang bisa kalian lihat sebagai acuan menilai bagaimana hubungan kami adalah sebagai berikut:

Semua di awali dari percakapan ini, percakapan yang terjadi empat hari setelah aku memberikan Skype ID ku:

Hei maafkan aku baru menghubungi sekarang. Deadline kadang membuatmu melupakan segala hal.

Tidak masalah. Apakah semuanya sudah beres sekarang?

Tidak semuanya sih, tapi satu prioyek sudah beres. Semalam pesta koktail untuk perayaan nya.

Wah selamat.

Terimakasih. Apakah kamu memiliki waktu luang untuk saling mengenal sekarang?

Mahasiswa memiliki banyak waktu luang. He he.

Aku ingat itu.

Itu sudah lama sekali bukan?

Sangat lama tapi membekas.

By the way bagaimana rasanya menjadi diantara wanita dan gadis? (aku menuliskan status Skype ku ‘not a girl, not yet a woman’.)

Tidak buruk. Kamu tertarik?

Ya, menarik. Ceritakan bagaimana.

Itu indah karena di fase ini kamu sudah tidak di anggap anak-anak lagi, namun kamu masih bisa bergantung pada orang tua mu seperti anak-anak.

Saat menjadi seorang wanita, kamu harus bergantung pada dirimu sendiri.

Maksudku untuk segala segi semisal finansial dan semacamnya. Itu mengerikan untuk di bayangkan sekarang.

Kamu lucu. Deskripsi mu membuatku tertawa.

Really? Aku senang membuat seseorang tertawa.

Bagaimana rasanya menjadi seorang pria empat puluhan?

Itu menarik. Tapi percayalah tidak semenarik menjadi ‘not a girl but not yet a woman’.

Aku selalu ingin menjadi pria.

Kamu menbuatku tersedak. Apa yang menyebabkan itu?

Menurutku wanita banyak menerima ketidakadilan oleh pria.

Aku pikir hak asasi manusia di usung semua negara.

Aku tahu, tapi tetap saja. Budaya kami terlebih masih mendiskriminasikan wanita.

Contohnya;

1.    Kami masih akan di hakimi saat kami tidak bisa melakukan pekerjaan rumah, sedangkan pria tidak. Tapi kami tidak di puji saat bisa melakukan pekerjaan yang notabene pekerjaan pria. Malah kadang kami di nilai melangkahi kodrat. Lucu, bukan?

2.    Wanita akan di katakana kotor saat sudah tidak perawan sebelum menikah, tapi pria yang tidak perjaka baik-baik saja. Sangat tidak adil bukan?

3.    Di sini kami akan di hakimi saat memiliki banyak mantan pacar sebagai wanita. Pria tidak.

Aku berharap menjadi pria.

Oh I see. Itu menggelikan bagaimana budaya mu memperlakukan gender.

Lalu, apa yang ingin kamu lakukan jika menjadi pria?

Ha ha! Aku akan memacari sepuluh wanita dalam satu hari.

Whoa! Kami juga tidak bisa seekstrim itu.

Mengapa tidak bisa? Aku pikir itu mudah untuk pria.

Pria juga butuh waktu lebih lama dari wanita untuk tahap pemulihan. Tapi, tergantung bagaimana konteks hubungan itu.

Aku rasa aku mengerti apa yang sedang kamu bicarakan. By the way what your number? (aku memang agak gila dengan pertanyaan ‘what your number’ setelah menonton film itu.)

Number of what? (pertanyaan yang selalu sama pula dari lawan bicara.)

Jumlah orang yang pernah tidur denganmu.

Wow, tunggu dulu. Apakah ini ada maksud terselubung?

Tidak, aku hanya ingin tahu. Apa memangnya maksud terselubung dari itu?

Misalnya mencari tahu tentang kekuatanku. . .

Kamu gila!

Baiklah. Mungkin dua belas.

Apa? Apa kamu serius? Dua belas?

Aku sudah tidak muda lagi.

Tetap saja. Dua belas lumayan banyak.

Banyak yang lebih banyak dariku. Dan pula, itu tidak seperti aku berhubungan dengan dua belas wanita dalam waktu yang bersamaan.

Baiklah.

Aku rasa di sana sudah hampir jam dua belas malam. Kau harus tidur.

Aku tahu, tapi aku tidak bisa tidur.

Kamu bermasalah dengan tidur?

Iya, aku insiomnia.

Aku bisa menceritakan sebuah cerita agar kamu mengantuk.

Sungguh?

Sungguh.

The story is about young, lovely girl… only 21 years old..

Whaa, itu aku^^

And how she lately has some disturbing thoughts, she tries to block… but thoughts that also raised her curiosity.

Ya, itu kamu little girl.

Hei, aku sangat penasaran. Apakah pemikiran mengganggu itu?

How she felt that her life is mostly same, every day. But also she feels things are changing… like the way you can feel when a storm is coming.

Uhm,, kamu tunggu saja. . .

And the birds stop singing…

A silence, before thunder…

It was like this, she was feeling, when she was preparing for bed, like she normally does…

But than, when she was undressing in the privacy of her bathroom, she

suddenly felt something…

She felt like she was being watched… and quickly she turned around

But… there was no one…

The door was still closed and locked…

As was the window…

Hei, ini bukan semacam cerita hantu, kan? Aku tidak menyukai ceritahantu. Aku tidak bisa tidur dengan cerita hantu.

She laughed about it: silly… she thought. And without hesitation she took of her last clothes, and stepped in the shower, naked.

Jiah. . cerita jorok!

How she loves the feeling of the water running over her hair, and her body…

Ha ha, haruskah aku berhenti di sini little virgin girl?

Um, lanjutkan saja! aku pernah membaca erotic romance, thought! Even when I am virgin.

Aku berbohong tentang keperawananku. Walaupun sebenarnya itu tidak bisa di katakan berbohong, aku tidak memiliki waktu untuk mengatakannya dan dia sudah berkesimpulan terlebih dahulu.

She enjoyed the feeling of the water, and slowly washed herself. She wasn’t so confident about her body. By God, she didn’t want to show it to anybody… not even to herself, so much

It felt awkward, having a body of a woman, suddenly…

Please jangan munculkan hantu di sana!

She not even notices her beast was that big before. . and her boobs, , , wow. .

Tidak, aku berjanji tidak ada hantu.

As she dried her body with the towel… she noticed this feeling of unrest, she sometimes had… lost months. . .

Like something deep inside, was making her nervous,,

She tried to ignore it, as she usually did…

But when she stepped into her bedroom, again there was the feeling someone was watching her… or maybe… she thought

It felt more like something…

Kya, , kamu membuatku merinding.

This time she turned of the lights, before she dropped her towel, and looked for her pajama to wear

Ha ha, aku harap itu merinding dalam konteks yang baik:)

As she couldn’t find her underwear in the dark, she decided just to wear the pajamas. Who would notice anyway she wasn’t wearing her undies

And with this though, she stepped in bed,,

Hoping to fall asleep shortly after…

But that will be not the worst thing that will happen… not wearing underwear

Itu mengerikan! ha ha ha ha! Aku tidak mungkin tidak memakai cerlana dalam.

no… nothing.. she thought..

She was just in the dark, hoping to fall asleep shortly after

Apa yang salah dengan tidak memakai celana dalam? Ha ha. Dan pula, aku pembuat cerita. Aku bebas menentukan kejadiannya! Ha ha.

But… as she was lying in the dark, she thought again she was hearing something. Something close to the bed….

Tidak adil!

But as she looked, again all looked quiet

And she felt how her daily thoughts slowly fade away… and how she entered the twilight zone, between sleep and being awake…

Haruskah aku berhenti?

AKU AKAN MEMBUNUHMU JIKA BERHENTI!

Kamu mengerikan juga. Oke, aku menyerah!

Where it’s not clear, if something is real, or a dream… and that exact moment she felt it for the first time…

Her face was touched…

But so soft… it could have been the wind, blowing from the little whole in the wall, next to the window

But… it wasn’t…

Because she felt it again… so softly, so gently…

But before she really could feel it, she fell truly asleep

And the next day, she couldn’t even remember it…

And maybe she wouldn’t have thought about it anymore, as she didn’t hear the story about the house…

Their house, where she only moved some weeks ago,

Ini benar-benar seperti cerita hantu. . . . .

So… the next day… the girl goes to prepare for bed again…

Percayalah, ini bukan cerita hantu.

And to her own shock, she notices that the experience of the day before gave her feelings she wasn’t aware of…

It felt like her skin was more sensitive than normal.

As she washed face, her belly and she legs…

It made her feel nervous… like she was doing almost she shouldn’t do…

But what could she do? She needed to be clean, right?

And when she went to bed and closed her eyes… she saw this man appearing…

She knew this man… he was in her mind a lot, lately…

Apakah pria itu botak? He he

Was it him, who made her feel this way?

Kamu sering memikirkanku?

Hyaa!! Aku hanya menebak. Well, aku tidak begitu sering memikirkanmu. Hanya sesekali berharap kamu menghubungiku.

Maafkan aku terlambat menghubungi. Ok?

Tidak masalah, lanjutkan.

Ok.

But how…

She felt the soft material of her pajama’s touches her breast…. and they as well felt more sensitive than ever….

As if they needed to be touched, but same time: when she touched them while in the shower, it felt like her knees became week….

She closed her eyes… but when she faded into sleep… she knew she would have a dream…

And she knew who would be in the dream… the man that was in her mind..

The white bold man with long muscular legs and body. . .

Could her meet him in real??^^

Do the men really exist in the world . . . or just a ghost in their new house?

-THE END-

Whaa!!!

Cerita yang menakjubkan. Aku sangat menyukainya.

Baiklah little miss, aku rasa kamu harus tidur sekarang. Dan aku akan melanjutkan pekerjaanku.

Baiklah old man. Semangat bekerja.

Selamat tidur.

Terimakasih.

Itu adalah awal dari puluhan cerita yang dia buat untuk ku sepanjang tahun ini.

Kami sudah sangat dekat seakan kami saling menyukai atau setidaknya seperti itulah aku melihatnya.

Contohnya saja dari percakapan ini, percakapan yang terjadi sekitar tiga bulan dari percakapan yang aku ceritakan di atas. Percakapan ini terjadi di malam valentine dua minggu setelah percakapan terakhir kami:

Hei.

Maaf karena baru membalas. Aku baru saja pulang dari Croatia untuk melakukan pendalaman latar di sana. Aku sedang membuat cerita berlatarkan Croatia.

Bagaimana kabarmu?

Hei.

Aku baik-baik saja. Terimakasih.

Croatia adalah tempat yang indah. Kamu sedang menggarap cerita romantic?

Tidak, pembunuhan.

Sungguh jahat melakukan pembunuhan di Croatia.

Ha ha. Di manapun pembunuhan itu adalah hal yang jahat.

Baiklah. Kamu benar.

Apa yang sedang kamu lakukan? Ini valentine.

Aku sedang menulis.

Valentine, malam minggu, dan kamu bekerja?

Aku hidup di dunia yang dimana jika kamu tidak bekerja, maka kamu tidak bisa makan. Dan terlebih, aku bekerja karena aku menyukainya.

Baiklah old man!

Kenapa kamu belum menikah?

Kenapa kamu menanyakannya?

Aku penasaran. Tidak masalah jika kamu tidak ingin berbagi tentang itu.

Tidak, aku juga tidak masalah. Hanya ingin tahu kenapa kamu menanyakannya.

Apakah kamu duda?

Hei, aku belum pernah menikah!

Baiklah.

Lalu kenapa belum? Apakah kamu adalah pria tua phobia pernikahan?

Aku bukan pria tua phobia pernikahan. Aku pernah hampir menikah.

Really?

Iya.

Dulu ketika aku 31, aku memiliki tunangan, tapi dia pergi sebelum kami menikah.

Pergi? Kamu juga di tinggal oleh pacarmu?

Dia tidak bermaksud meninggalkanku. Tuhan yang memaksanya, jika kamu percaya Tuhan.

Aku percaya Tuhan. Aku percaya Tuhan seperti aku percaya matahari akan selalu terbit. Aku percaya Tuhan dengan segenap hatiku.

Aku juga percaya Tuhan, hanya saja tidak dengan agama yang beredar.

Baiklah. Aku turut sedih untuk tunanganmu.

Itu sudah lama sekali.

Tapi tetap saja kamu sedih sampai sekarang.

Bukan karena itu aku belum menikah. Jangan menyimpulkan seperti kejadian di film. Aku hanya belum menemukan penggantinya lagi.

Maafkan aku.

Apa yang kamu mintai maaf? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun.

Kadang aku berpikir melihat dia dalam dirimu. Dia ceria, mampu menghidupkan suasana apapun, positif memandang dunia dan Tuhan, serta selalu membuatku rindu.

. . . . .

Deg! Penggalan percakapan itu sudah cukup bukan? Maksudku apakah aku salah mengartikan pesan terakhir di penggalan percakapan itu sebagai signal positif?

Kalau tidak cukup, bagaimana dengan penggalan percakapan ini?

Percakapan yang terjadi kira-kira dua bulan yang lalu saat dia bercerita tentang princess padaku:

. . . . .
Membaca cerita seperti itu membuatku membayangkan banyak hal indah.

Seperti?

Aku berada di pernikahanmu.

Dan kamu sebagai mempelai wanita nya?
. . . . .

Apa aku salah mengartikan? Apa aku yang terlalu percaya diri? Apa aku yang terlalu berharap untuk hubungan ini?

Sepertinya iya.

Dia sudah dua kali membatalkan keberangkatan ke Indonesia dengan alasan proyek baru. Aku tahu itu benar dengan alasan proyek karena ada bukti tertulis dari kontrak, dia mengirimkannya.

Lalu apa arti hubungan kami saat dia mengabaikanku untuk segepok uang?

Memang sih jika di lihat dari penggalan percakapan ini, aku tidak bisa berkata apa-apa:

. . . . .
Aku baru saja selesai membaca On The Island. Ternyata bagus^^

Cinta memang tidak mengenal batas usia.

Iya. Aku sudah mengatakan padamu hal itu.

Benarkah?

Kamu berpura-pura lupa.

Maafkan aku.

Berhenti minta maaf!

Baiklah, maaf.

Han!!

Ok!

By the way, apa lima hal yang akan kamu bawa jika terdampar di sebuah pulau? Aku membaca pertanyaan itu di akhir novel. Dan aku penasaran apa menurutmu?

Senter, pemantik api, alcohol, alat tulis dan buku, kemudian yang paling penting adalah kamu.

What? Kamu ingin membawaku?

Kenapa? Tidak mau? Kamu tidak memiliki pilihan.
. . . . .

Lihat! Siapa yang tidak gila saat seorang pria tampan nan kaya nan terkenal mengatakan itu padamu?

Oh iya, apakah aku sudah menceritakan bahwa dia adalah seorang penulis beberapa film box office?  Kamu tidak akan percaya tapi itu kenyataan. Dia adalah penulis terkenal. Sangat mudah mencarinya di google.

Aku, yang memiliki hobi menulis dan kebetulan menjadi seorang freelancer di sebuah majalah local ini pernah menyatakan diri bahwa aku adalah penulis di depannya. Aku sangat malu untuk itu. Dia mengatakan bahwa dia menulis beberapa stupid story! Stupid story yang dia maksud adalah film yang meraup untung ratusan juta dolar. What a joke!

Apakah bukti-bukti di atas masih belum cukup untuk mengindikasikan dia menyukaiku menurut kalian?

Baiklah, aku juga memang sudah mulai meragukan itu.

Dan pula menimbang percakapan ku dengan Mama ini:

Suatu sore sewaktu liburan Natal. . .

Mama memasukan adonan ke dalam oven, mengatur suhu yang di inginkan, kemudian menarik kursi di depanku. Beliau menatapku lama, melipat tangan nya di atas meja, kemudian bertanya;

“Hanna sudah punya pacar?”

Aku terkejut. What the hell she said before?

“Tidak usah terkejut seperti itu, Mama Tanya sudah punya pacar apa belum?” Mama menuang jus yang ada di atas meja kemudian menyodorkan kepadaku. Beliau menyelipkan rambut yang tergergerai menutupi wajah ke telinga ku.

“Belum Ma.” Jawabku gugup. Mama dan Papa paling sangat tidak menyukai hal-hal semacam berpacaran.

Mama menghela nafas. Menatapku beberapa saat, kemudian mengambil tisyu dan menghapus tetesan-tetesan air dari gelas yang berada di atas meja.

“Mama sama Papa melarang kamu berpacaran dahulu karena kamu masih belum mengerti keinginanmu, sayang.” Katanya, kemudian melanjutkan.

“Sekarang kamu sudah dewasa dan mengerti jalan mana yang boleh, dan jalan mana yang tidak boleh di lewati, mengapa Mama dan Papa harus melarang?” Beliau menatapku lekat-lekat seakan mencari celah untuk masuk menerobos ke dalam jiwa ku.

Aku mengalihkan pandangan. Entah mengapa aku tidak menyukai percakapan ini? Entah mengapa rasanya aku seakan sebentar lagi akan menjadi wanita? Aku ingin menjadi seorang gadis saja.

Aku masih ingin bolos les piano untuk menemui pacarku. Kemudian guru les akan menelpon ke rumah, kemudian Mama dan Papa akan mencari kemana-mana, tidak berhasil, kemudian hanya bisa menunggu di depan gerbang, mondar-mandir seperti setrika di atas kemeja. Tapi entah mengapa pembicaraan ini rasanya sebentar lagi akan berubah menjadi pembicaraan tentang susu formula mana yang bagus, SGM atau Morinaga.

“Aku sedang dekat dengan seseorang.” Kata ku nyaris berbisik.

“Pria bule botak yang foto nya banyak di handphone mu itu kan?” Mama tersenyum

“Dari mana Mama tau?” Aku langsung berdiri dari tempat duduk ku.

“Mama melihat-lihat kemarin.” Ternyata mama memiliki sisi genit. Aku baru menyadarinya sekarang dari cara beliau menggoda ku.

“Ada apa dengan privasi di rumah ini? Kenapa kalian bebas sekali membuka handphone dan computer orang lain?” Omel ku random mengingat Jey adik ku yang paling kecil sangat suka menggunakan komputerku tanpa bertanya.

“Umur pria itu 44 Mah, seumuran Papah.” Celetuk adik ku yang nomor dua, Evan sewaktu masuk ke dapur.

“EVAN.” Aku berteriak. Adik ku hanya cuek, membuka kulkas, dan menegak minum langsung dari botolnya.

“Kak Hanna kenal dari biro jodoh. Waktu itu Evan bajak emailnya Ma.”

“EVAAANN.” Teriak ku lagi. Selama ini aku bahkan tidak pernah sadar email ku pernah di bajak. Penjahat IT memang mengarikan.

“Seumuran papah?” Tanya mamah takjub. “Jadi bukan si botak? Mana fotonya?” mamah menuntut.

“Mam. Itu ya si botak.” Jawabku.

“Foto tahun kapan itu?” Pertanyaan yang sama seperti yang pernah aku ajukan.

“Baru Mam, dia memang terlihat muda.” Aku menjelaskan.

“Biarpun terlihat muda, tapi kan tetap saja umurnya om-om.” Evan membalas penjelasanku dari balik pintu kulkas. Aku melemparnya dengan kotak tisyu, dia keluar dengan wajah cengar-cengir. Di tangannya ada sepotong cake.

“Sayang, mama mau bicara sama Kakak. Bisa ke kamar dulu Nak?” Suara mama terdengar berwibawa dalam kelembutannya. Aku ingin menjadi seorang ibu seperti Mama suatu saat.

“Wani piro?” goda Evan.

“Van?” mama memperingatkan.

“Baiklah, aku menyerah.” Adik ku berjalan keluar ruang makan.

“Terimakasih.” Kata mama.

Setelah Evan pergi ke kamarnya atau entah ke ruang bermain, mama mengalihkan perhatiannya kepadaku.

“Bisa kita lanjutkan?” Oh Tuhan, aku gugup, tapi tetap mengangguk.

“Jadi dia 44 tahun.” Mama mengulangi dan mengangguk-angguk. “Kamu sangat menyukainya?” Pertanyaan yang sangat tidak aku duga.

Aku terdiam lama. Menebak-nebak kemana arah pembicaraan ini. Namun akhirnya mengangguk saja, “Iya Ma.” Aku mengaku. Itu pertama kalinya aku mengaku bahkan pada diriku sendiri.

“Kamu yakin dengan perbedaan usis sejauh itu kalian bisa bertahan?”

Mama kembali menanyakan pertanyaan yang membuatku terkejut. Apakah beliau merestui?

“Hanna tidak tahu sampai sejauh itu Ma, kami bahkan belum berhubungan secara jelas.”

Mama mengangguk-angguk mendengar penjelasanku.

“Apa pekerjaannya?” Wah, ternyata benar-benar seperti mewawancarai calon menantu.

“Dia penulis, namanya Mark, berasal dari Ontario, Canada.” Jelas ku.

Kembali mama sepertinya mengangguk-angguk dengan berbagai macam pemikiran jika di lihat dari kerutan di wajahnya.

“Dia Kristen juga?” Tanya mama lagi.

Aku menggeleng.

“Jadi dia. . .?” mama sengaja menggantungkan pertanyaannya, berharap aku yang melengkapi.

“Atheis.” Aku benar-benar melengkapi.

Seketika itu aku melihat perubahan besar terjadi di wajah mama. Ketidak-sukaan besar ada di sana, namun beliau cepat menutupi dengan senyum tipis.

“Nak,” Aku tahu itu akan menjadi ceramah panjang. Mama selalu mengawali ceramah panjangnya dengan kata itu. “Mama tahu kamu menyukai pria ini. mama bisa melihat dari bagaimana kamu membicarakan dia. Mama juga tidak mempermasalahkan usia, pekerjaan atau apapun yang menyangkut calon suami mu. Tapi Atheis, mama tidak bisa memaklumi itu Nak.” Mama kembali menuang gelas ku yang tadi sudah kosong. “Mama tidak perduli apakah dia Islam, Hindi, Budha, atau apapun agama lain yang penting dia beragama. Toh, tidak ada agama yang mengajarkan hal buruk, bukan? Tapi yang tidak beragama ini bagaimana?” Aku tahu mama tidak menuntut jawaban atas pertanyaannya itu.  Lalu aku tetap diam dan beliau melanjutkan. “Agama itu ibarat kemudi sebuah mobil. Bagaimana bisa mobil melaju tanpa kemudi? Mobil itu akan melaju tanpa arah, mungkin saja akan menuju jurang.” Aku masih diam ketika mama menatapku lagi, kali ini lebih dalam. “Kamu mengerti perasaan mama kan, Nak? Kamu bisa memikirkan yang mama inginkan ini, kan?”

Aku tidak begitu mengerti perasaan mama waktu itu, dan aku juga tidak mengerti apa hubungan pembicaraan dengan mama waktu itu dan fakta kegalau-an hubungan ku dengan Mark, tapi aku tahu satu hal sekarang, aku dan Mark memang tidak bisa melanjutkan semuanya.

Memang benar firman Tuhan; Hormatilah ayah dan ibumu, agar lanjut umurmu, di tanah yang di berikan Tuhan Allahmu kepadamu.

Aku merasa akan mati membusuk karena galau berkat hampir mengacuhkan permintaan mama waktu itu.

Advertisements