5 Basa-Basi yang Bisa Membuat Seseorang Menjadi Kriminal

Di jalan saat sama-sama sedang sangat terburu-buru, di kelas saat dosen sedang sibuk menerangkan materi, di bus saat kita berdoa agar bisa tidur menebus begadang nya semalaman, di kantin saat kita ingin menikmati nasi padang ter-enak sedunia, di pasar saat kita menemani ibu kita berbelanja, di rumah sakit saat sedang menjenguk seseorang, di gedung pernikahan yang kita hadiri, di kantor polisi saat kita sama-sama sedang menjadi seorang kriminal, di mana pun kecuali di akhirat (karena masih belum ke sana), saya selalu menemukan basa-basi yang sudah basi, suka bikin enggak enak hati lagi!

Pokoknya saat mendengar jenis basa-basi tersebut, kadang ada semacam rasa atau keinginan ih apaan sih, pengen gua makan apa ni orang?,  apa pengen gua mutilasi?, *memutar mata*, *mengunyah gigi sendiri*, such an idiot!, dia belum pernah di lempar sepatu nih.

Yeah, itu hanya beberapa rasa dan keinginan yang wajar saya tuliskan, yang terlalu kejam untuk di tuliskan oleh gadis se-cantik saya? TONS!

Continue reading “5 Basa-Basi yang Bisa Membuat Seseorang Menjadi Kriminal”

Kapan Kamu Menikah (?);Umur Tidak Boleh Mejadi Pendorong Pernikahan

decisions
secretweddingblog.com

Beberapa bulan yang lalu, setelah sekian lama aku absen (setelah dapat pacar), aku mengunjunginya lagi. Dating site itu saat aku dan Jo bermasalah! (Beh bahasa nya!!!!! #apaan? ha ha)

Tiba-tiba ada seorang pria yang menghubungi (banyak sih, tapi aku tidak akan membicarakan yang tidak berbobot macem yang mesum-mesum, atau yang udah duda anak lima, atau yang kulit item, yang Arab, yang India, Asia bleh bleh bleh bukan rasis atau apapun tapi berhubung saya di sini khusus fokus ke Caucasia).

Waktu itu sumpah aku kek orang bodoh gegara nggak baca profile nya langsung bales-bales aja. Abisnya dia nyambung, seru, sopan, dan dari penampilannya intelijen gituh (so, aku lupa daratan!)

Semingguan chatting via itu dating site, (sumpah dalam seminggu aku nggak sadar untuk mencari tahu bibit bobot bebet nya dia). ha ha kemudian aku memberikan kontak pribadi ku berupa LINE ID.

Kami terus chatting entah yang awalnya beberapa kali sebulan, sekarang sudah hampir setiap hari.

Lalu beberapa hari kemarin entahlah sekitar seminggu yang lalu aku online kembali di dating site itu, dan dia mengunjungi profile ku, dan aku balas lah kunjungannya. . .

DDDUUAAARRRR!!!

Ternyata dia sudah 40 tahun!!

Yep! Cowok cakep yang bikin aku lupa daratan itu udah 40 tahun!

Awalnya agak ‘aargh’ gitu pas dia LINE, tapi kok lama-lama aku jadi melupakan umurnya setelah di substitusi dengan gaya nya berbicara, pengetahuannya, dll. Kok rasa-rasanya nggak worth untuk di korbanin hanya karena dia lebih tua 17 tahu dari aku?

So, sampailah kami ke tahap aman. . . Tahap yang semula kami jalani, tahap saling mengenal.

Chating- Chating-Chating, , , saya pun bertanya seperti ini:

"Hey, , , just curious, , , are you have a girlfriend?"

Konyol yak? he he

lalu dia jawab:

"No. I am single. Broke up couple months ago. Kenapa?"

Aku mengelus dada, dia akan datang ke Indonesia di pertengahan januari 2016, so berabe kan kalo dia ada pacar.

aku menjawab:

"Tidak, hanya saja aku baru menyadari (hari ini) bahwa kamu sudah 40 tahun."

aku lupa kalimat jelasnya, tapi dia di sini membalasku dengan mengatakan bahwa dia persis seperti yang di foto kok, malah mengirim foto baru, dan dia masih di dalam kondisi tubuh yang ideal. sama sekali tidak seperti kakek-kakek.

So aku menjelaskan bahwa alasanku menanyakan itu bukan karena aku meragukan fisiknya, hanya saja aku membandingkan dengan rencana hidupku dimana di dalam rencana itu aku jelas dapat melihat bahwa di usia tersebut aku sudah fixed akan menikah, atau paling tidak memiliki pacar.

Lalu dia menjelaskan bahwa ia pernah bertunangan sebelumnya, hanya saja itu tidak berlangsung dengan baik. . . dan mereka tidak sampai menikah.

lalu aku tanya: apakah kamu memiliki rencana untuk menikah kemudian? kapan kamu akan menikah?

Jawabannya simpel:

"I'm not planning to get married, but if i meet the right woman, maybe."

"40 is not that old, i still have time."

"It isn't young either, i realize. But i'm not married just because i'm old."

Lalu aku seketika teringat dengan pembicaraanku dengan teman bule ku yang lain bernama MK. Dia masih 26 tahun sekarang, namun suatu ketika kami pernah mendiskusikan tentang pernikahan setelah dia menceritakan tentang perceraian orang tua nya.

Dia mengatakan bahwa jika kamu menikah karena target, maka kemungkinan besar akan berakhir seperti orang tua nya.

Waktu itu kami mendiskusikan bukan dalam hal usia, , , hanya saja menurutku konsep nya sama.

Sebenarnya tujuan ku memposting ini adalah berteriak kepada Indonesia yang memberi BATAS untuk menikah. Itu seakan-akan menjadi target pendorong yang sangat kuat. Banyak orang yang berburu suami dan istri kemudian jatuh pada pilihan yang tidak benar-benar tepat karena dorongan luar.

Kenapa kita tidak memberi WAKTU untuk menunggu yang TEPAT itu?